Berita Terkini
4 Cara Sederhana Mengelola Emosi Saat Berbisnis-Kunci Sukses Pelaku Usaha
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 13 September 2023 Waktu baca 5 menit
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, telah mengumumkan rencana untuk membatasi ekspor mineral mentah, khususnya logam tanah jarang. Langkah ini diambil untuk mencegah eksploitasi berlebihan dan kehilangan sumber daya alam.
Logam tanah jarang memiliki berbagai aplikasi penting dalam produksi chip semikonduktor, kendaraan listrik, dan peralatan militer. Malaysia memiliki cadangan logam tanah jarang yang relatif kecil, sekitar 30.000 metrik ton, sementara China saat ini menjadi produsen terbesar dengan cadangan diperkirakan mencapai 44 juta ton. Keputusan Malaysia ini datang pada saat dunia berusaha untuk melakukan diversifikasi pasokan logam tanah jarang, mengurangi ketergantungan pada China.
Anwar, seperti yang dikutip oleh Reuters pada Selasa (12/9), menyatakan bahwa pemerintah akan mendukung perkembangan industri logam tanah jarang di Malaysia. Namun, belum ada informasi mengenai kapan kebijakan pembatasan ekspor ini akan diterapkan.
Industri logam tanah jarang diperkirakan akan berkontribusi sekitar MYR 9,5 miliar (USD 2 miliar) terhadap Produk Domestik Bruto Malaysia pada tahun 2025 dan akan menciptakan hampir 7.000 lapangan kerja.
Anwar menjelaskan, "Kami akan mengembangkan pemetaan sumber-sumber logam tanah jarang yang lebih rinci serta merancang model bisnis yang komprehensif, yang mengintegrasikan industri hulu, tengah, dan hilir, untuk memastikan rantai nilai logam tanah jarang di Malaysia tetap terjaga."
Langkah pembatasan ekspor yang diambil Malaysia bisa memengaruhi penjualan ke China, yang telah mengimpor sekitar 8 persen bijih logam tanah jarang dari Malaysia antara Januari dan Juli tahun ini, berdasarkan data bea cukai China.
Sebelumnya, pada awal tahun ini, China juga mengumumkan pembatasan ekspor beberapa logam yang banyak digunakan dalam industri semikonduktor sebagai tanggapan terhadap pembatasan yang diberlakukan oleh Amerika Serikat terhadap penjualan teknologi ke China. Tindakan ini menciptakan kekhawatiran bahwa China juga mungkin akan membatasi ekspor mineral penting lainnya, termasuk logam tanah jarang.
Namun, dampak konkret dari larangan ini di Malaysia masih belum jelas karena kurangnya rincian yang disediakan. Tetapi, dapat berdampak pada perusahaan-perusahaan Tiongkok yang beroperasi di Malaysia, seperti yang disampaikan oleh analis David Merriman dari Project Blue.
Sumber: kumparan.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
|
DISCLAIMER Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi. |
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.