Krisis di Pasar Tertua Jakarta: Omzet Pedagang Terjun Bebas hingga 70%

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 07 January 2025 Waktu baca 5 menit

di Pasar Jatinegara Mester, Jakarta, Minggu (12/5)

DIGIVESTASI - Pasar Jatinegara Kian Sepi, Omzet Pedagang Terus Merosot, Pasar Jatinegara, atau yang dikenal dengan sebutan Pasar Mester, semakin sepi ditinggalkan pembeli. Kondisi ini berdampak signifikan pada penurunan omzet para pedagang di pasar tertua di Jakarta tersebut.

 

Tono, seorang pedagang sepatu grosir di Pasar Mester, mengungkapkan bahwa penurunan jumlah pembeli sebenarnya sudah dirasakan beberapa tahun sebelum pandemi. Namun, situasinya menjadi jauh lebih parah dalam beberapa tahun terakhir.

 

"Penurunan sudah ada sejak sebelum pandemi, tapi waktu itu masih belum terlalu parah. Saat pandemi, semua pedagang benar-benar jatuh," ujar Tono saat ditemui, Senin (6/1/2024).

 

Setelah pandemi, sempat terjadi sedikit perbaikan, tetapi kondisi itu tidak bertahan lama. "Habis pandemi ada perbaikan dikit, tapi nggak lama, paling cuma setahun. Dua tahun terakhir, mulai dari 2023, itu penurunan paling parah," jelasnya.

 

Tono juga mengeluhkan bahwa penurunan jumlah pembeli tidak hanya terjadi pada hari biasa, tetapi juga saat momen besar seperti menjelang Lebaran atau masa masuk sekolah.

 

"Kalau jualan sepatu, biasanya ramai jelang Lebaran atau saat persiapan masuk sekolah. Biasanya satu-dua bulan sebelum sudah ramai. Tapi sekarang terasa banget sepi, seperti tidak ada momen," ucapnya.

 

Ia juga membandingkan kondisi dulu dengan sekarang. "Dulu saat puasa, pasar sampai macet, orang jalan saja susah. Sekarang malah bisa pilih tempat parkir. Dari tadi yang lewat berapa, jangankan beli, nanya harga saja belum ada," tambahnya.

 

Menurut Tono, banyak pembeli yang merupakan pedagang eceran menahan pembelian karena dagangan mereka sendiri sulit terjual.

 

"Dulu banyak pedagang berani gadein BPKB buat tambah modal sebelum puasa, karena yakin dagangan bakal laku. Sekarang mereka nggak berani, paling pesan kalau barangnya benar-benar mau habis," ungkapnya.

 

Akibatnya, omzet toko sepatu milik Tono merosot drastis hingga lebih dari 70% dibandingkan sebelum pandemi. Langganan dari Jakarta hingga luar kota pun banyak yang menahan pembelian.

 

"Penurunan hampir 70% dibanding sebelum pandemi," katanya.

 

Penurunan Jumlah Pembeli Terjadi Sejak 2017

Kondisi serupa dirasakan Andi, seorang pedagang pakaian di Pasar Jatinegara. Menurutnya, penurunan jumlah pembeli sudah terjadi sejak 2017 meski saat itu pasar masih terlihat ramai.

 

"Pasar sih masih ramai, tapi kita jualannya sudah terasa turun. Soalnya jualan itu lihat pembeli, bukan keramaian pasar," tutur Andi.

 

Ia menjelaskan bahwa perubahan pola belanja pelanggan menjadi indikator penurunan omzet. "Misalnya dulu ada pelanggan yang beli seminggu dua kali, lalu jadi seminggu sekali. Itu berpengaruh banget ke omzet," tambahnya.

 

Pandemi semakin memperburuk situasi, dan hingga kini penjualan di tokonya belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Andi memperkirakan penurunan omzet di tokonya mencapai 70-80%.

 

"Kalau dihitung, penurunannya sekitar 70-80%. Pembukuan rinci memang tidak ada, tapi ya segitu perkiraannya," tutup Andi.


Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.