Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 03 June 2025 Waktu baca 5 menit
Pandangan global dan nasional menunjukkan kondisi geopolitik yang semakin kompleks dan kompetitif. Indonesia saat ini berada pada posisi penting di mana harus menjaga kestabilan dalam negeri di tengah fragmentasi politik koalisi, sambil terus memantau perubahan cepat dalam dinamika global.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, pada acara DBS Asian Insight Conference 2025 yang diadakan pada Rabu (22/5/2025) di Senayan, Jakarta Pusat, menyampaikan bahwa prospek politik global cenderung semakin multipolar, sementara kondisi politik dalam negeri relatif stabil namun tetap berisiko terjadi gesekan.
Prospek Politik Global: Dunia yang Semakin Didominasi Oleh Berbagai Kekuatan
Dunia menuju tatanan multipolar
Setelah hampir dua puluh tahun AS mendominasi dunia pasca-Perang Dingin (dikenal dengan Pax Americana), kini kekuatan baru seperti China dan aliansi BRICS mulai menantang dominasi tersebut. Persaingan antara AS dan China makin ketat di bidang teknologi, ekonomi, dan diplomasi.
China naik menjadi kekuatan ekonomi utama
Menurut ukuran PPP, China sudah melampaui AS sebagai ekonomi terbesar di dunia berdasarkan data IMF dan Bank Dunia. Secara nominal, China diperkirakan akan melampaui AS pada tahun 2029 menurut CEBR.
Proteksionisme dan perang dagang meningkat
Kembalinya Trump ke Gedung Putih memicu eskalasi perang dagang antara AS dan China, menimbulkan ketidakpastian global, memicu inflasi, dan memperbesar defisit anggaran AS.
Konflik geopolitik terus meningkat
Ketegangan di wilayah seperti Ukraina, Timur Tengah, India-Pakistan, dan Laut Cina Selatan meningkatkan risiko ketidakstabilan regional serta mengganggu jalur perdagangan dan rantai pasok dunia.
Lebih lanjut, Bank DBS Indonesia mengadakan DBS Asian Insights Conference 2024 dengan tema “Election to Action: Crafting A Sustainable Future Towards Golden Indonesia 2045 and ESG Excellence” yang menghasilkan beberapa poin penting khususnya terkait prospek politik.
Kesimpulannya, outlook politik global dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk ketidakpastian ekonomi, transisi energi, dan kebijakan fiskal negara-negara besar.
Banyak negara masih menghadapi tantangan menjaga stabilitas ekonomi, terutama dalam pengelolaan utang dan mendorong investasi pasca-pemilu. Indonesia, dengan defisit fiskal yang relatif rendah, menunjukkan ketahanan lebih baik dibandingkan banyak negara lain yang masih berjuang menghadapi tekanan ekonomi global.
Selain itu, keberlanjutan menjadi fokus utama kebijakan global dengan semakin banyak negara mengedepankan transisi energi dan penerapan nilai-nilai ESG (Environmental, Social, Governance). Indonesia, contohnya, sudah menetapkan Green Taxonomy sebagai standar baru untuk sektor keuangan dan industri guna mempercepat pergeseran menuju ekonomi berkelanjutan. Bank DBS Indonesia juga aktif mendukung solusi keuangan berkelanjutan sebagai bagian dari strategi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.
Dari sisi kebijakan fiskal, berbagai negara berupaya menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat melalui strategi ekonomi yang berbeda.
Prospek Politik Indonesia: Kondusif Namun Rentan Terjadi Gesekan Internal
Konsolidasi kekuasaan melalui koalisi besar
Pemerintahan Prabowo-Gibran didukung oleh koalisi dengan mayoritas besar. Namun, potensi gesekan internal antara anggota koalisi tetap tinggi, terutama menjelang Pemilu 2029.
Isu sistem pemilu memicu ketegangan
Perbedaan pandangan antar partai terkait sistem proporsional terbuka versus tertutup dan usulan penghapusan ambang batas presidential threshold dapat menimbulkan persaingan internal dalam koalisi.
Media relatif lembek, oposisi melemah
Hanya sedikit elemen masyarakat sipil yang bersikap kritis. PDIP secara formal berada di luar pemerintahan, namun sikapnya masih cenderung mendukung pemerintah.
Tantangan dari kelas menengah
Kelas menengah terdidik menunjukkan tanda-tanda ketidakpuasan (#IndonesiaGelap, #KaburAjaDulu). Pengalaman dari negara lain seperti Chile dan Bangladesh menunjukkan bahwa ketidakpuasan kelas menengah dapat memicu ketegangan politik serius.
Untuk menghadapi kompleksitas dinamika global dan domestik tersebut, Indonesia perlu menerapkan sejumlah rekomendasi strategis agar pembangunan nasional dapat berkelanjutan.
Pertama, menjaga stabilitas politik dan keamanan dalam negeri harus menjadi prioritas agar tercipta iklim kondusif bagi investasi dan pembangunan.
Kedua, pemerintah perlu mendorong kebijakan ekonomi yang pro-bisnis serta meningkatkan efisiensi anggaran agar penggunaan sumber daya publik tepat sasaran dan memiliki nilai guna tinggi. Di tingkat global, Indonesia harus menjalankan diplomasi yang seimbang, membangun hubungan baik dengan semua kekuatan besar tanpa berpihak pada satu blok tertentu, termasuk dalam konteks keterlibatan Indonesia di BRICS.
Terakhir, mempercepat proses menuju keanggotaan OECD penting untuk memperkuat posisi Indonesia di arena ekonomi global, sembari tetap menjaga kemitraan strategis dengan Amerika Serikat dan Eropa untuk menyeimbangkan pandangan mengenai orientasi geopolitik Indonesia.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.