Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 12 June 2025 Waktu baca 5 menit
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menjelaskan rincian dari perjanjian dagang terbaru antara AS dan China yang berhasil dicapai dalam pertemuan kedua negara di London, pada saat ketegangan dagang antara keduanya sedang meningkat.
Dalam pernyataannya, Trump mengonfirmasi bahwa kesepakatan dengan China telah final. Ia menyebut bahwa pihak China akan menyediakan magnet dan mineral tanah jarang yang sangat penting untuk sektor industri otomotif. Sebagai imbalannya, AS akan memberikan izin bagi mahasiswa asal China untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan universitas di negara tersebut.
"KITA MENDAPATKAN TOTAL TARIF SEBESAR 55%, CHINA MENDAPATKAN 10%. HUBUNGANNYA SANGAT BAIK!" tulis Trump melalui platform Truth Social tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
"CHINA AKAN MEMASOK MAGNET DAN SEMUA TANAH JARANG YANG DIPERLUKAN SECARA LENGKAP DAN DI MUKA. SEBAGAI BALASANNYA, KAMI AKAN MEMENUHI APA YANG TELAH DISEPAKATI, TERMASUK IZIN UNTUK MAHASISWA CHINA MENGAKSES PERGURUAN TINGGI DAN UNIVERSITAS KAMI (YANG SELALU MENJADI HAL POSITIF BAGI SAYA!)."
Seorang pejabat dari Gedung Putih menjelaskan bahwa perjanjian ini memungkinkan AS untuk menerapkan tarif hingga 55% terhadap barang-barang impor dari China. Tarif ini terdiri dari tarif dasar "timbal balik" sebesar 10%, tambahan 20% untuk produk yang terkait perdagangan fentanil, dan tarif sebesar 25% yang merupakan kelanjutan dari tarif sebelumnya.
Sebaliknya, pihak China akan mengenakan tarif sebesar 10% atas impor barang dari AS.
Kedua negara menyatakan pada hari Selasa bahwa mereka telah menyetujui kerangka kerja untuk mengembalikan kesepakatan gencatan senjata dagang sebelumnya ke jalur semula. Kesepakatan ini juga mencakup penghapusan pembatasan ekspor logam tanah jarang oleh China.
Pada akhir negosiasi yang berlangsung intensif selama dua hari di London, Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menyampaikan bahwa kerangka kesepakatan tersebut merupakan tindak lanjut dari perjanjian yang dicapai sebelumnya di Jenewa, yang bertujuan untuk mengurangi tarif timbal balik yang telah mencapai angka sangat tinggi.
"Tarif AS terhadap China tidak akan berubah lagi. Itu sudah pasti," katanya dalam wawancara dengan CNBC International.
Sementara itu, Pemerintah China belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai komentar Trump, namun pada hari Selasa mereka menyebut bahwa pihaknya menyetujui ketentuan perdagangan berdasarkan "konsensus Jenewa" yang telah disepakati sebelumnya dengan AS.
Pandangan Pelaku Usaha
Berita terbaru ini muncul di tengah berkurangnya pesanan impor karena berakhirnya periode tarif awal tahun 2025, yang membuat banyak perusahaan bersiap menghadapi perlambatan ekonomi di AS.
CEO JPMorgan, Jamie Dimon, menyampaikan bahwa angka-angka ekonomi mungkin akan memburuk dalam waktu dekat. Hal ini ia sampaikan dalam acara Morgan Stanley pada hari Selasa, sebelum Trump mengeluarkan pernyataan resminya.
Alan Baer, CEO perusahaan logistik OL USA, mengatakan bahwa penerapan tarif 55% terhadap produk China dapat memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap ratusan bahkan ribuan bisnis, dan secara langsung memengaruhi lapangan kerja.
"Hanya sedikit perusahaan yang memiliki kekuatan untuk menetapkan harga guna menyesuaikan diri terhadap tarif tersebut atau menaikkan harga untuk menutupi beban tarif," kata Baer. "Pada akhirnya, konsumenlah yang harus menanggung biaya tambahan tersebut."
Hal serupa diungkapkan oleh Bruce Kaminstein, mantan CEO perusahaan produk kebersihan Casabella. Ia menilai bahwa tarif sebesar 55% tetap memberatkan konsumen di AS.
"Tarif impor sebesar 55% dari China akan menciptakan ketidakstabilan bagi perusahaan yang bergerak di bidang barang konsumen yang selama ini mengimpor dari China," ujarnya.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.