Harta Karun Tambang Indonesia Mencapai Rp62.500 T, Terbesar dalam Sejarah pada Batu Bara!

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 18 March 2024 Waktu baca 5 menit

DIGIVESTASI - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan Indonesia memiliki “harta karun” di sektor pertambangan mineral dan batubara (Minerva). Tanpa ragu, kekayaan minerba  bisa mencapai setara $4 triliun atau Rp 62.500 triliun (asumsi kurs Rp 15.600 per dolar AS). Dua pertiga dari total aset berasal dari sektor batubara saja. Hal tersebut diungkapkan Irwandi Arif, Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Penatausahaan Mineral dan Batubara.


Ia mengungkapkan, pertambangan batu bara  di Indonesia menghasilkan sebagian besar pendapatannya. “Kita punya aset minerba US$4 triliun, tapi dua pertiganya masih berasal dari batu bara. Jadi peran batu bara  sebenarnya sebagian besar pendapatan kita,” ujarnya, Senin (13/11). 18 Agustus 2024). ). 

 

Menurut Irwandi, kekayaan Indonesia berasal dari batu bara, namun  pendapatan Indonesia dari batu bara hanya US$47 miliar atau setara Rp733,9 triliun. "Tetapi pendapatan batubara pada tahun 2021 hanya sebesar $47 miliar. Jika kita menganggap ini sebagai angka tahunan, berarti return on equity sangat rendah, sekitar 1,2%," jelasnya. Sedangkan PNBP sektor Minerva diperkirakan mencapai Rp 173 triliun pada tahun 2023, menurut Kementerian ESDM. Implementasi PNBP mencapai 118,41% dari target tahun 2023 yang ditetapkan sebesar Rp146,07 triliun. 

 

Besarnya nilai sumber daya batubara Indonesia juga didukung oleh  sumber daya dan cadangan batubara yang melimpah. Irwandi menjelaskan berdasarkan data Kementerian ESDM, sumber daya batubara Indonesia berjumlah 99,19 miliar ton, dan cadangannya sebanyak 35,02 miliar ton. 

 

Mengingat cadangan batubara yang ada di dalam negeri,  umur batubara dalam negeri diperkirakan masih  70 tahun dengan asumsi produksi tahunan sebesar 600-700 juta ton. "Batubara akan menjadi sumber energi utama  Indonesia dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, dan menurut saya harganya relatif murah sampai mungkin  40 tahun yang lalu. Kalau melihat batubara, kontribusinya mencapai 42,4%, disusul minyak dan gas. Terus," dia menyimpulkan.


Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita

Sumber: cnnindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.