Berita Terkini
4 Cara Sederhana Mengelola Emosi Saat Berbisnis-Kunci Sukses Pelaku Usaha
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 13 November 2023 Waktu baca 5 menit
Ikatan Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (IKAPPI) memperhatikan bahwa harga gula terus mengalami kenaikan dan saat ini mencapai puncak tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Abdullah Mansuri, Ketua Umum DPP IKAPPI, menyatakan bahwa harga gula saat ini mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. "Harga gula saat ini mencapai puncak tertinggi dalam tiga hingga lima tahun terakhir, biasanya sekitar Rp 14.000 hingga Rp 15.000. Sekarang, harga gula mencapai Rp 16.000 (per 1 kilogram) atau bahkan lebih," kata Abdullah ketika diwawancarai oleh Kontan.co.id pada Minggu (12/11/2023).
Abdullah menjelaskan bahwa peningkatan harga acuan pembelian (HAP) tidak memiliki korelasi dengan kondisi harga gula saat ini. Menurutnya, selama produksi masih rendah dan impor gula tetap tinggi, harga gula akan terus meningkat. "Kenaikan atau tidaknya HAP tidak memiliki korelasi. Jadi, apakah ada HAP atau tidak, jika produksi rendah dan impor tinggi, harga pasti akan tinggi," jelasnya. Saat ini, permintaan gula di pasaran masih belum mengalami peningkatan, dan biasanya permintaan akan meningkat pada bulan Desember. Abdullah juga menyatakan bahwa daya beli masyarakat saat ini belum dapat dikategorikan tinggi.
"Agak sulit, produksi rendah dan impor tinggi, serta nilai tukar dolar yang tinggi, tentu mempengaruhi harga gula," tambahnya. Bapanas telah memberlakukan relaksasi harga gula konsumsi menjadi Rp 16.000 per kilogram, atau Rp 17.000 per kilogram khusus di wilayah tertentu, seperti Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat Daya, dan wilayah Tertinggal, Terluar, Terpencil, dan Pedalaman (3TP).
I Gusti Ketut Astawa, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan NFA, menjelaskan bahwa relaksasi harga gula konsumsi dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga gula di dalam negeri. "Dengan adanya kenaikan harga gula di dalam negeri maupun internasional, telah dilakukan rapat koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk membahas harga gula yang wajar di tingkat konsumen. Kami menghimbau kepada pelaku usaha ritel untuk mengimplementasikan relaksasi harga ini," ujarnya.
Relaksasi harga gula konsumsi diberlakukan bagi pelaku usaha ritel modern seperti APRINDO dan HIPPINDO. Mereka dihimbau untuk menjual di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) dengan mempertimbangkan harga gula di produsen atau harga internasional, biaya kemasan, biaya distribusi, dan faktor lainnya. "Relaksasi ini diberlakukan karena harga gula sudah di atas HAP. Fleksibilitas ini akan terus dievaluasi secara berkala sampai harga gula kembali ke level wajar," tambah Ketut. Diketahui bahwa akibat El Nino, produksi gula diperkirakan mengalami penurunan dari estimasi awal 2,6 juta ton menjadi sekitar 2,2 juta hingga 2,3 juta ton. Realisasi impor Gula Kristal Mentah (GKM) baru sekitar 180.000 ton atau sekitar 22,61 persen, dan Gula Kristal Putih (GKP) sekitar 126.941 ton atau 58,82 persen. Realisasi impor yang masih minim juga disebabkan oleh beberapa perusahaan yang memiliki kuota impor GKM namun belum melakukan realisasi, terutama karena tingginya harga gula internasional yang membuat penjualan sesuai HAP di tingkat konsumen tidak terjangkau.
Sumber: kompas.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.