Ekonomi RI 2026 Diprediksi Melambat, Tak Capai Target Purbaya? Ini Analisis Pakar

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 07 January 2026 Waktu baca 5 menit

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa/Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

Pemerintah menyatakan keyakinan bahwa kinerja ekonomi Indonesia pada tahun ini akan jauh lebih baik dibandingkan 2025. Optimisme tersebut tercermin dari target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% yang ditetapkan dalam APBN 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan menilai pertumbuhan ekonomi nasional berpotensi menembus 6% pada 2026, dengan keyakinan bahwa pencapaian tersebut relatif realistis berkat strategi yang telah disiapkan pemerintah.

 

Purbaya menyampaikan bahwa target pertumbuhan 6% bukanlah hal yang sulit dicapai, sebagaimana telah ia sampaikan dalam berbagai kesempatan sebelumnya, saat memberikan keterangan pers di Jakarta Pusat pada Rabu (31/12/2025).

 

Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal. Ia menilai pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 justru berpotensi melambat akibat bencana alam di wilayah Sumatera, sehingga target 6% dinilai sulit tercapai. Bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat disebut berdampak langsung terhadap aktivitas produksi dan konsumsi di 52 kabupaten yang secara total menyumbang sekitar 5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

 

Menurut Faisal, besarnya kontribusi wilayah terdampak membuat gangguan ekonomi di kawasan tersebut berpengaruh signifikan terhadap kinerja ekonomi nasional. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya CORE Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9% hingga 5,1%, yang mengindikasikan bahwa perekonomian Indonesia cenderung stabil namun tanpa percepatan pertumbuhan yang berarti.

 

Dampak bencana alam tersebut diperkirakan akan semakin menekan proyeksi pertumbuhan, karena perekonomian di tiga provinsi terdampak otomatis mengalami kontraksi. Sebagai gambaran, pada kuartal IV-2025, ekonomi Aceh diperkirakan mengalami tekanan paling besar dengan koreksi PDRB sebesar -0,44%, sementara Sumatera Utara dan Sumatera Barat masing-masing diproyeksikan terkoreksi -0,15% dan -0,36%.

 

Faisal menjelaskan bahwa jika pada 2025 dampak bencana hanya terasa dalam satu bulan, maka pada 2026 efeknya akan berlangsung lebih panjang mengingat proses pemulihan dan rekonstruksi membutuhkan waktu. Ia memperkirakan sepanjang 2026, pertumbuhan ekonomi di 52 kabupaten terdampak masih akan berada di zona negatif. Ia juga merujuk pada pengalaman tsunami Aceh, di mana dampak ekonomi tidak hanya terjadi pada tahun kejadian, tetapi berlanjut hingga beberapa tahun setelahnya.

 

Berdasarkan kondisi tersebut, Faisal menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 kemungkinan tidak mencapai 5%. Ia menegaskan bahwa proyeksi CORE Indonesia berada pada kisaran 4,9% hingga 5,1%, dengan peluang besar berada di batas bawah. Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan pertumbuhan bisa melampaui 5,1% apabila pemerintah mampu menerapkan kebijakan yang lebih responsif dan efektif dalam mengatasi hambatan ekonomi.

 

Sementara itu, Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 masih berpeluang berada di atas 5% dan lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan 2025 yang diperkirakan sekitar 5,06–5,07%. Ia menilai ekonomi 2026 akan tumbuh secara moderat, berada di kisaran 5%, meski belum tentu mencapai target pemerintah sebesar 5,4%.

 

Tauhid menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi 2026 akan banyak didorong oleh peningkatan belanja pemerintah, terutama pada program prioritas Presiden Prabowo Subianto seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Namun, ia menilai dampak program-program tersebut pada 2025 masih terbatas karena masih berada pada tahap awal pelaksanaan, baik dari sisi jumlah penerima manfaat, mekanisme, maupun serapan anggaran.

 

Ia juga menyoroti bahwa sebagian besar Koperasi Merah Putih masih dalam tahap pembentukan, dengan hanya sekitar 100–200 koperasi yang benar-benar beroperasi, sementara puluhan ribu lainnya baru berbadan hukum. Oleh karena itu, efektivitas program-program tersebut belum sepenuhnya tercermin pada pertumbuhan ekonomi 2025.

 

Tauhid menambahkan bahwa proyeksi pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya memperhitungkan dampak bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera. Kondisi ini membuat target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 5,4% pada 2026 semakin menantang untuk dicapai. Meski demikian, ia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 masih berpeluang berada di atas 5%, meskipun sulit mendekati angka 5,4%.

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.