Saham News
IHSG Masih Merah, Tapi Saham Ini Justru Menarik Diburu-Peluang di Tengah Tekanan
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 07 January 2025 Waktu baca 5 menit
DIGIVESTASI - Pemerintah Indonesia akan mengadakan pertemuan dengan pihak Apple hari ini untuk membahas negosiasi investasi. Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, mendorong Apple untuk membangun pabrik di Indonesia.
Telisa menjelaskan, investasi di sektor manufaktur dengan pembangunan pabrik akan memberi dampak besar bagi perekonomian. Ia menyebutkan bahwa smartphone, termasuk iPhone, adalah salah satu penyebab utama defisit dalam neraca perdagangan Indonesia. "Saya sangat mendukung langkah Kemenperin. iPhone adalah salah satu importir terbesar dalam sektor smartphone. Untuk mengurangi impor, perlu ada pembukaan Foreign Direct Investment (FDI) dan harapannya ada transfer teknologi," ujar Telisa dalam keterangannya pada Selasa (7/1).
Telisa berpendapat bahwa lapangan kerja bisa terbuka mulai dari perakitan perangkat keras, dengan potensi berkembang ke tingkat yang lebih tinggi seiring dengan peningkatan keterampilan SDM. Ia juga menyarankan agar pemerintah menyiapkan solusi tengah dalam rangka mendorong Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta memenuhi kebutuhan yang diperlukan Apple di Indonesia.
Telisa menilai nilai investasi Apple yang diproyeksikan sebesar USD 1 miliar, atau sekitar Rp 16,1 triliun, masih kurang mengingat penjualan Apple di Indonesia yang sudah mencapai angka triliunan rupiah. Ia menyarankan agar investasi ini dilakukan secara bertahap, dimulai dengan tahap pertama untuk hardware, dilanjutkan software, dan akhirnya ke teknologi digital yang lebih canggih. "Fase pertama sebaiknya tidak hanya USD 1 miliar, tetapi bisa tiga kali lipatnya," katanya.
Telisa juga menambahkan bahwa untuk mewujudkan investasi manufaktur berteknologi tinggi seperti Apple, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tidak dapat bekerja sendirian. Dibutuhkan dukungan berupa kepastian hukum, pengembangan SDM dan talenta digital, serta sistem keamanan siber yang kokoh.
Rencana Kemenperin untuk menaikkan nilai minimum TKDN ponsel dari 35% menjadi 40% juga merupakan langkah strategis, di tengah kecenderungan proteksionisme di banyak negara, termasuk di bawah Presiden AS terpilih, Donald Trump. Telisa berpendapat bahwa peningkatan TKDN dapat membuka lebih banyak lapangan pekerjaan dan mendukung perkembangan industri digital. “Tingkat TKDN 40% masih realistis dicapai oleh dunia usaha, dan kebijakan ini bisa lebih diterima di era Trump yang proteksionis,” tambahnya.
Pertemuan hari ini antara Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dan Vice President of Global Policy Apple, Nick Amman, akan membahas rencana investasi Apple di Indonesia. Pembahasan lebih lanjut terkait investasi ini juga akan mempengaruhi keluarnya sertifikat TKDN untuk produk-produk Apple dan izin penjualannya di Indonesia.
Menteri Perindustrian mendorong Apple untuk memilih skema investasi 1, yaitu pembangunan fasilitas produksi atau pabrik, yang diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja. Sebelumnya, Apple memilih skema investasi 3 dengan mendirikan Apple Academy di Indonesia. "Kami mendorong Apple untuk memilih skema pembangunan pabrik agar ada lapangan kerja baru yang tercipta," kata Menperin melalui pesan singkat pada Selasa (7/1).
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: kumparan.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.