Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 22 February 2025 Waktu baca 5 menit
Kombinasi inflasi yang terus membandel dan kebijakan perdagangan agresif Presiden AS Donald Trump kembali memicu kekhawatiran akan stagflasi, kondisi ekonomi yang ditandai dengan pertumbuhan yang melambat tetapi inflasi tetap tinggi.
Menurut laporan Reuters, Jumat (21/2/2025), potensi kembalinya stagflasi—yang dapat berdampak negatif pada berbagai aset investasi—telah menjadi perbincangan selama lima dekade terakhir. Namun, hingga kini belum menjadi ancaman nyata bagi investor. Terakhir kali fenomena ini mengguncang AS adalah pada 1970-an.
"Stagflasi kini menjadi kemungkinan nyata, terutama karena kebijakan yang dapat menghambat permintaan konsumen, sementara inflasi yang terus berlanjut membatasi ruang gerak Federal Reserve," ujar Jack McIntyre, manajer portofolio di Brandywine Global.
"Ini bukan lagi skenario yang mustahil, sama sekali tidak."
Salah satu tanda utama stagflasi—inflasi yang sulit dikendalikan—semakin jelas terlihat di awal 2025. Data pemerintah menunjukkan bahwa harga konsumen meningkat pada Januari dengan laju tercepat sejak Agustus 2023, membuat inflasi tahunan mencapai 3%.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi AS masih penuh ketidakpastian, dengan tarif perdagangan Trump yang berpotensi menambah tekanan inflasi dan memperburuk situasi ekonomi.
"Yang lebih kami khawatirkan dibanding inflasi biasa adalah stagflasi," kata Tim Urbanowicz, kepala strategi investasi di Innovator Capital Management.
"Inflasi memang sulit dijinakkan, tetapi tarif tambahan justru dapat memperlambat ekonomi dengan membebani konsumen, menekan laba perusahaan, dan menurunkan pertumbuhan."
Sebuah survei Bank of America terhadap manajer dana global menunjukkan bahwa proporsi investor yang memperkirakan stagflasi dalam setahun ke depan berada pada level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.
Namun, meskipun kekhawatiran stagflasi meningkat, investor tetap optimis terhadap pasar saham, dengan perang dagang dianggap sebagai risiko berprobabilitas rendah.
Pada awal Februari, Trump menunda tarif baru untuk impor dari Kanada dan Meksiko selama satu bulan, tetapi pada saat yang sama menetapkan tarif baru sebesar 10% untuk semua impor dari China, serta menaikkan tarif baja dan aluminium global.
Trump juga menginstruksikan tim ekonominya untuk merancang kebijakan tarif timbal balik bagi negara-negara yang mengenakan pajak atas impor AS. Ia bahkan berencana menerapkan tarif 25% pada impor mobil, semikonduktor, dan farmasi.
Beberapa investor berpendapat bahwa dampak tarif terhadap ekonomi hanya bersifat sementara.
"Dalam jangka panjang, tarif justru dapat mendorong pertumbuhan dengan menguntungkan industri yang menghadapi lebih sedikit persaingan global," kata Maddi Dessner, kepala layanan kelas aset di Capital Group.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa tarif dapat meningkatkan tekanan inflasi dalam jangka pendek.
"Tarif ini mungkin akan berdampak di antara kedua skenario tersebut," tambahnya, seraya menyebutkan bahwa kebijakan tarif menjadi salah satu alasan Capital Group kini memperkirakan imbal hasil Treasury 10 tahun akan naik menjadi 3,9% dalam 20 tahun ke depan, dibandingkan perkiraan 3,7% tahun lalu.
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.