Saham News
IHSG Masih Merah, Tapi Saham Ini Justru Menarik Diburu-Peluang di Tengah Tekanan
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 19 January 2025 Waktu baca 5 menit
DIGIVESTASI - China mengumumkan bahwa ekonomi negara tersebut berhasil mencapai target pertumbuhan 5 persen pada tahun 2024, meskipun angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan 5,4 persen yang tercatat pada tahun sebelumnya. Pengumuman ini disampaikan pada Jumat, 17 Januari 2025.
Menurut laporan dari AP News, sektor manufaktur memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan produksi industri yang meningkat 5,8 persen dibandingkan tahun lalu. Kinerja positif China juga didorong oleh kenaikan ekspor yang tumbuh 7,1 persen secara tahunan dan impor yang mengalami peningkatan sebesar 2,3 persen.
Profesor Ekonomi Universitas Cornell, Eswar Prasad, meragukan pencapaian tersebut, mengingat sebagian besar indikator aktivitas ekonomi dan pasar keuangan menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan. "Perekonomian masih terhambat oleh permintaan domestik yang lemah, tekanan deflasi, serta tantangan eksternal yang dapat memengaruhi ekspor," ujarnya.
Prasad juga menyoroti bahwa tantangan ekspor China diperkirakan semakin berat setelah pelantikan Donald Trump pada pekan depan. Trump berencana untuk menaikkan tarif barang-barang asal China. Selain itu, pemerintahan Joe Biden telah menerapkan pembatasan ekspor semikonduktor dan teknologi canggih dengan tujuan mempertahankan keunggulan Amerika Serikat (AS) di sektor teknologi dan membatasi akses China.
Juru bicara Biro Statistik Nasional China, Fu Linghui, menjelaskan bahwa negara tersebut telah mengambil berbagai langkah untuk mengatasi tantangan ini, termasuk dengan fokus pada peningkatan konsumsi dan memperluas permintaan domestik. "Dengan kebijakan yang terkoordinasi dan regulasi tambahan, diharapkan momentum pemulihan ekonomi dapat diperkuat, permintaan konsumen akan meningkat lebih cepat, dan ada faktor-faktor yang lebih menguntungkan bagi pemulihan harga yang lebih moderat," ujar Fu.
Selain itu, China juga telah memperluas skema perdagangan untuk barang konsumen dan menaikkan Upah Minimum Regional (UMR) bagi pekerja sebagai upaya untuk meningkatkan daya beli domestik. Meskipun langkah-langkah ini penting, beberapa ekonom berpendapat bahwa tindakan bertahap tersebut harus disertai dengan reformasi struktural yang lebih luas, seperti peningkatan produktivitas dan mengurangi ketergantungan pada sektor konstruksi dan manufaktur ekspor.
Masalah lain yang harus dihadapi China adalah keterbatasan asuransi sosial yang menyebabkan banyak keluarga memilih untuk menabung daripada mengeluarkan uang. Selain itu, permasalahan semakin rumit setelah langkah penurunan harga rumah menyebabkan penurunan saham perusahaan properti dan banyak masyarakat mengalami penurunan kelas sosial.
Prasad menekankan bahwa China membutuhkan paket kebijakan yang komprehensif untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi. "Paket kebijakan yang baik harus mencakup stimulus moneter dan fiskal yang signifikan serta langkah-langkah lainnya untuk mengembalikan kepercayaan sektor swasta," ujarnya.
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: viva.co.id
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.