China Kuasai Proyek Hilirisasi Prabowo, Apa Dampaknya untuk Indonesia?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 09 May 2025 Waktu baca 5 menit

illustrasi

Beberapa investor dari Tiongkok sedang mengevaluasi potensi untuk berinvestasi dalam proyek hilirisasi sumber daya alam di Indonesia, termasuk nikel dan batu bara. Salah satu proyek yang menarik minat adalah transformasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME), yang diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti liquefied petroleum gas (LPG). Proyek ini sempat terhenti setelah mitra sebelumnya dari Amerika Serikat, Air Products & Chemical Inc (APCI), menarik diri. Kini, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali mendorong pengembangan proyek tersebut.

 

Awalnya, Air Products berkomitmen menjalankan dua proyek strategis nasional dalam hilirisasi batu bara, salah satunya adalah proyek gasifikasi batu bara menjadi DME di Muara Enim, Sumatra Selatan, melalui kemitraan dengan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) dan PT Pertamina (Persero). Baru-baru ini, Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mendekati sejumlah perusahaan asal Tiongkok sebagai calon pengganti Air Products untuk proyek DME ini. Beberapa nama yang dijajaki antara lain CNCEC, CCESCC, Huayi, Wanhua, Baotailong, Shuangyashan, dan ECEC. Dari keseluruhan, hanya ECEC yang menyatakan minat untuk menjadi mitra investor, meskipun belum dalam bentuk investasi penuh. “Dari semua calon mitra, baru ECEC yang menunjukkan ketertarikan sebagai investor, meski belum dalam skema investasi menyeluruh,” kata Arsal dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi XII pada Senin (5/5/2025).

 

Menurut paparan PTBA dalam rapat tersebut, ECEC telah mengajukan proposal awal proyek coal to DME pada November 2024. Sembari proses penjajakan masih berlangsung, PTBA tetap melanjutkan persiapan proyek DME secara paralel. Hingga kini, PTBA telah menyelesaikan pembebasan lahan seluas 198 hektare atau 97% dari total kebutuhan seluas 203 hektare. “Ini menunjukkan komitmen kami dalam menjalankan proyek ini. Kami juga terus menjalin koordinasi erat dengan para pemangku kepentingan seperti Satgas Hilirisasi, Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Perindustrian, dan lembaga lainnya untuk mendapatkan arahan dan dukungan kebijakan,” jelas Arsal.

 

Dominasi Tiongkok dalam Proyek Hilirisasi Nikel

Selain proyek DME, investor asal Tiongkok juga aktif mengembangkan hilirisasi nikel menjadi baterai kendaraan listrik (EV). Pemerintah Indonesia baru-baru ini menunjuk Zhejiang Huayou Cobalt Co sebagai mitra strategis dalam megaproyek rantai pasok baterai. Huayou menggantikan konsorsium Korea Selatan yang dipimpin oleh LG Energy Solution, yang sebelumnya berencana menanamkan investasi senilai US$8,6 miliar atau Rp145 triliun dalam Proyek Titan.

 

Keputusan memilih Huayou memperkuat dominasi Tiongkok dalam proyek hilirisasi nikel nasional. Saat ini, mayoritas smelter nikel di Indonesia dimiliki oleh perusahaan besar Tiongkok seperti Tsingshan Group dan Jiangsu Delong Nickel Industry Co. Selain itu, perusahaan baterai raksasa asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co Ltd. (CATL), juga telah berinvestasi dalam proyek rantai pasok baterai bernama Proyek Dragon. Melalui anak perusahaannya, CBL International Development Pte Ltd, CATL membentuk joint venture bersama konsorsium BUMN Indonesia Battery Corporation (IBC) untuk membangun pabrik sel baterai dengan kapasitas produksi 15 gigawatt hour (GWh) per tahun. Total nilai investasinya mencapai US$1,18 miliar atau sekitar Rp19,13 triliun.

 

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan P Roeslani, menjelaskan bahwa pemerintah memilih Huayou sebagai pengganti LG karena perusahaan ini menunjukkan minat tinggi dan telah memiliki pengalaman panjang di Indonesia di sektor tersebut. Menurut Rosan, nilai investasi Huayou di Indonesia saat ini telah mencapai US$8,8 miliar atau Rp147 triliun. “Huayou sudah menanamkan investasi sebesar US$8,8 miliar di Indonesia. Mereka juga menyampaikan potensi tambahan investasi dari grup Huayou bisa mencapai US$20 miliar ke depannya,” ujar Rosan kepada media pada Selasa (29/4/2025). Huayou saat ini sedang mematangkan rencana proyek barunya, yang dijadwalkan akan diumumkan secara rinci pada pekan ketiga Mei 2025.

 

Selain mengambil alih proyek LG, Huayou juga berencana mengembangkan kawasan industri di Pomala, Sulawesi Tenggara, mengikuti model yang telah ada di Morowali dan Weda Bay. “Mereka telah melakukan studi dan tertarik berinvestasi, termasuk mengembangkan kawasan industri sendiri. Di Weda Bay mereka hanya pemegang saham minoritas, tapi sekarang ingin membangun yang mandiri,” kata Rosan.

 

Rosan menyebutkan, pembangunan kawasan industri seperti di Morowali atau Weda Bay memerlukan investasi besar. “Bukan hanya dari Huayou, saya juga telah bertemu dengan perusahaan lain yang tertarik membangun kawasan serupa, dan investasi dari negara lain juga bisa ikut masuk,” tambahnya.

 

Meskipun bermitra dengan Huayou, pemerintah tetap membuka pintu untuk investor dari berbagai negara. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa akan ada investor besar baru yang akan bergabung sebagai mitra Huayou dalam proyek baterai tersebut. Bahlil menyatakan bahwa calon investor tersebut merupakan salah satu dari tujuh perusahaan top dunia. “Nanti akan kami umumkan. Ini perusahaan yang masuk tujuh besar dunia. Tentu kami tidak akan menggandeng mitra yang belum terbukti. Mereka semua telah teruji,” ujar Bahlil di Kementerian ESDM, Senin (28/4/2025). Ia belum menjelaskan asal negara calon mitra itu, namun menegaskan bahwa pemerintah tidak membatasi berdasarkan negara. “Kami tak membedakan asal negara. Mau dari Tiongkok, Arab, Eropa, Korea — asal ingin berinvestasi di Indonesia, kami terbuka,” tegasnya.

Sumber: bisnis.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.