BRICS di Ujung Tanduk! Tarif Trump 150% Disebut Biang Kerok

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 22 February 2025 Waktu baca 5 menit

manoramayearbook.in

Trump Klaim Ancaman Tarif 150% Sebabkan BRICS Bubar

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa ancamannya untuk menerapkan tarif sebesar 150% terhadap BRICS telah membuat blok ekonomi negara berkembang tersebut bubar. Trump, yang selama ini menuding BRICS berupaya melemahkan dolar AS, kembali menegaskan akan memangkas hubungan dagang dengan anggota BRICS jika mereka terus mencoba mengembangkan mata uang alternatif.

 

Sejak terpilih kembali sebagai Presiden AS pada November tahun lalu, Trump berulang kali melontarkan peringatan keras terhadap BRICS. Menurutnya, langkah negara-negara BRICS yang ingin mengurangi ketergantungan pada dolar dalam perdagangan bilateral adalah tantangan langsung terhadap dominasi mata uang AS.

 

“Ketika saya menjabat, saya langsung mengatakan bahwa setiap negara BRICS yang bahkan sekadar menyebutkan penghancuran dolar akan dikenakan tarif 150%... Dan kini BRICS sudah bubar. Kita sudah lama tidak mendengar kabar dari mereka,” ujar Trump dalam pernyataan yang dikutip dari RT.

 

Trump juga menuding pemerintahan sebelumnya di bawah Joe Biden menganggap BRICS sebagai ancaman tetapi gagal mengambil tindakan tegas. Namun, menurutnya, satu ancaman darinya saja sudah cukup untuk membalikkan keadaan.


 

Ketegangan AS dan BRICS Meningkat di Tengah Upaya Pengurangan Ketergantungan pada Dolar

BRICS, yang kini terdiri dari sepuluh anggota dan menyumbang sekitar 36% dari PDB global, telah meningkatkan upayanya untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang Barat dalam beberapa tahun terakhir. Langkah ini semakin diperkuat setelah Rusia dijatuhi berbagai sanksi Barat akibat konflik Ukraina pada 2022, yang secara efektif membuatnya terisolasi dari sistem keuangan global.

 

Meski sempat muncul spekulasi bahwa BRICS berencana menciptakan mata uang bersama, sebagian besar anggota menegaskan bahwa tidak ada pembahasan konkret mengenai hal tersebut. Sebaliknya, mereka semakin memperluas penggunaan mata uang nasional untuk memperlancar perdagangan dan melindungi kepentingan ekonomi masing-masing.

 

Negara-negara BRICS, termasuk Rusia, menuding Amerika Serikat sendiri yang melemahkan dolar dengan menjadikannya alat politik dalam penerapan sanksi. Saat ini, para anggota BRICS tengah menghadiri pertemuan Menteri Luar Negeri G20 di Afrika Selatan pada 20-21 Februari.

 

Menjelang pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan bahwa G20 harus menjadi wadah bagi BRICS dan negara-negara Global Selatan untuk menantang pendekatan sepihak Barat dan mendorong kerja sama yang lebih adil.

 

Sementara itu, AS memilih untuk tidak menghadiri pertemuan tersebut, dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio menuduh Afrika Selatan telah melakukan tindakan yang "berbahaya" dengan mendorong solidaritas dan kesetaraan di G20.


Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita

Sumber: sindonews.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.