3 Resesi Terbesar di Indonesia: Mana yang Paling Parah?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 20 March 2025 Waktu baca 5 menit

illustrasi

Indonesia Pernah Tiga Kali Resesi, Ini Penyebab dan Dampaknya

Perekonomian global saat ini masih dibayangi ketidakpastian akibat berbagai faktor eksternal dan internal. Indonesia sendiri telah mengalami resesi sebanyak tiga kali, yaitu pada 1963, 1998, dan 2020/2021. Setiap resesi dipicu oleh penyebab yang berbeda dan berdampak secara beragam terhadap perekonomian nasional.

 

Resesi 1963: Hiperinflasi dan Isolasi Politik

Resesi pada 1963 terjadi akibat hiperinflasi yang tidak terkendali. Pada saat itu, Indonesia menghadapi isolasi ekonomi dan politik dari dunia internasional, terutama setelah meninggalkan keanggotaan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan bersikap konfrontatif terhadap negara-negara lain.

 

Pada tahun tersebut, inflasi melonjak hingga 119%, sementara Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami kontraksi 2,24%. Pengeluaran rumah tangga turun 3,95%, ekspor dan impor anjlok 26,58%, serta investasi merosot 23,69%. Setelah melalui periode kelam di pertengahan 1960-an, ekonomi Indonesia mulai pulih dan memasuki era pertumbuhan pesat pada 1970-an dan 1980-an.

 

Resesi 1998: Krisis Keuangan Asia yang Menghancurkan Ekonomi

Pada awal 1990-an, ekonomi Indonesia tumbuh pesat dengan rata-rata pertumbuhan PDB 6% per tahun dan inflasi terkendali di level 5,1%. Namun, krisis besar terjadi pada 1998, menyebabkan kontraksi ekonomi hingga 13,13%, sementara inflasi melonjak ke 77,63%.

 

Pada kuartal I 1998, ekonomi terkontraksi 6,4%, memburuk menjadi 16,8% pada kuartal II, dan mencapai 17,4% pada kuartal IV. Resesi ini dipicu oleh Krisis Keuangan Asia, yang bermula dari keputusan Thailand melepas sistem nilai tukar tetap terhadap dolar AS pada Juli 1997.

 

Dampaknya, rupiah anjlok dari Rp2.500 menjadi Rp16.900 per dolar AS, menyebabkan banyak perusahaan gagal bayar. Indonesia mengalami krisis moneter yang berujung pada krisis politik dan sosial, hingga akhirnya menjatuhkan pemerintahan Presiden Soeharto setelah 32 tahun berkuasa.

 

Dampak sosial dari resesi ini juga sangat besar. Jumlah penduduk miskin melonjak drastis dari 22,5 juta jiwa pada 1996 (11,3% dari total populasi) menjadi 49,5 juta orang pada akhir 1998 (24,2% dari populasi nasional). Sektor industri juga terpukul, dengan jumlah industri besar dan menengah turun dari 22.997 pada 1996 menjadi 20.422 pada 1998, serta jumlah tenaga kerja berkurang 3,53 juta orang atau 18,5%.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.