Saham News
IHSG Masih Merah, Tapi Saham Ini Justru Menarik Diburu-Peluang di Tengah Tekanan
/index.php
Berita Terkini - Diposting pada 09 June 2025 Waktu baca 5 menit
Sejumlah negara maju saat ini dilaporkan tengah mengalami krisis kekurangan tenaga kerja, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti rendahnya angka kelahiran dan minimnya regenerasi penduduk. Selain itu, percepatan kemajuan teknologi juga tidak seimbang dengan pertumbuhan jumlah tenaga kerja yang tersedia, sehingga menyebabkan ketimpangan suplai di berbagai sektor.
Berdasarkan Manpower Group 2024 Report on Talent Shortages, negara-negara seperti Jepang, Jerman, Kanada, hingga Singapura menghadapi kekurangan pekerja terampil dengan tingkat kekurangan mencapai lebih dari 79%. Negara-negara dengan populasi lanjut usia yang tinggi, seperti Jepang (30%) dan Yunani (23%), merasakan tekanan ganda berupa penuaan tenaga kerja dan kekosongan posisi yang belum bisa segera diisi.
Di Jepang, tercatat sebanyak 86% kota dan prefektur secara aktif mencari tenaga kerja asing, khususnya di sektor teknologi, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Kondisi ini membuka peluang menarik bagi masyarakat Indonesia, terutama generasi muda yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan di dalam negeri.
Namun, bekerja di luar negeri tidak hanya memerlukan pengetahuan teknis, tetapi juga kesiapan yang matang. Masyarakat Indonesia perlu memahami serta menyesuaikan diri dengan budaya negara tujuan yang bisa sangat berbeda dari budaya Indonesia.
Berikut adalah negara-negara yang saat ini dilaporkan tengah mengalami kekurangan tenaga kerja dan aktif mencari pekerja asing:
Jepang mengalami tantangan demografis berupa populasi menua dan rendahnya tingkat kelahiran, sehingga regenerasi tenaga kerja sangat sulit dilakukan. Saat ini, Jepang menjadi negara dengan kekurangan tenaga kerja tertinggi; sebanyak 85% perusahaan mengalami kesulitan dalam merekrut karyawan baru. Sebanyak 86% kota dan prefektur di Jepang membuka jalur perekrutan untuk tenaga kerja asing, terutama di sektor teknologi, pendidikan, dan kesehatan.
Di Eropa, Yunani dan Jerman menghadapi defisit tenaga kerja sebesar 82%. Yunani bahkan baru-baru ini memberikan legalisasi kepada sekitar 30.000 imigran tidak berdokumen untuk menutupi kekurangan pekerja di sektor pertanian dan pariwisata. Sementara itu, Jerman masih memiliki lebih dari 1,8 juta posisi kerja yang belum terisi, meskipun negara ini telah melonggarkan kebijakan terkait perekrutan pekerja asing.
Pemerintah Israel berencana mendatangkan sekitar 70.000 pekerja asing dari Tiongkok dan India guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor konstruksi.
Portugal menghadapi krisis tenaga kerja di delapan sektor berbeda, mulai dari sektor pertanian hingga energi terbarukan.
Irlandia membuka peluang kerja hingga 40.000 posisi per tahun bagi pekerja non-Uni Eropa untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di sektor perhotelan dan konstruksi.
Meskipun dikenal sebagai negara dengan bonus demografi, India justru mengalami kekurangan tenaga kerja terampil hingga 81%. Masalah utama yang dihadapi adalah ketidakseimbangan keterampilan. Populasi yang besar tidak secara otomatis menghasilkan tenaga kerja yang siap untuk industri domestik maupun global.
Di Prancis, kekurangan tenaga kerja memperlambat pengembangan sektor hidrogen yang sedang digalakkan menuju tahun 2030. Sementara itu, Brasil mengalami kekurangan pekerja di bidang kesehatan dan teknologi informasi.
Kanada mengandalkan kebijakan imigrasi permanen untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di bidang STEM dan kesehatan, seiring dengan peningkatan jumlah penduduk lanjut usia. Inggris, pasca-Brexit, menerapkan sistem imigrasi berbasis poin yang justru memberikan lebih banyak akses bagi pekerja dari luar Uni Eropa, khususnya untuk sektor sosial dan rekayasa perangkat lunak.
Di Asia, Hong Kong melonggarkan aturan imigrasi untuk menutupi kekurangan pekerja di sektor konstruksi dan penerbangan. Di Singapura, tenaga kerja profesional di sektor teknologi, perbankan, dan teknik semakin sulit ditemukan. Pemerintah setempat secara aktif membuka kesempatan bagi tenaga kerja asing, terutama di bidang IT yang paling terdampak.
Rumania dan Slovakia menghadapi tantangan serupa di kawasan Eropa Timur. Kedua negara ini mengalami stagnasi jumlah tenaga kerja muda, sementara kebutuhan di sektor otomotif, logistik, dan manufaktur terus meningkat. Akibatnya, mereka mulai merekrut pekerja dari India dan Asia Selatan untuk mempertahankan kapasitas produksi nasional.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.