Berita Terkini
Timur Tengah Memanas! NATO Bereaksi atas Rencana Blokade Hormuz oleh AS-Apa Dampaknya ke Dunia?
/index.php
Berita Terkini - Diposting pada 30 March 2026 Waktu baca 5 menit
Sebuah negara kecil di wilayah Oseania pernah menjadi salah satu yang paling sejahtera di dunia sebelum akhirnya terjerumus ke dalam kebangkrutan. Penyebab utamanya berkaitan dengan pola pengeluaran yang berlebihan, termasuk pembelian mobil-mobil super mewah seperti Lamborghini dan Ferrari oleh warganya.
Negara tersebut adalah Nauru, sebuah pulau kecil yang sempat mengalami lonjakan ekonomi luar biasa berkat kekayaan sumber daya alamnya. Namun, kemakmuran yang datang secara cepat itu tidak dikelola dengan baik dan berkelanjutan, sehingga akhirnya memicu krisis ekonomi yang serius.
Selain eksploitasi sumber daya oleh pihak asing, praktik korupsi juga turut mempercepat keruntuhan ekonomi negara tersebut. Ketika pendapatan negara mulai menurun sementara pengeluaran tetap tinggi, ketidakseimbangan pun terjadi dan menjadi sulit untuk dikendalikan.
Berikut sejumlah fakta terkait kebangkrutan Nauru yang dihimpun CNBC Indonesia dari berbagai sumber.
Bermula dari fosfat.
Selama bertahun-tahun, perekonomian pulau ini sangat bergantung pada fosfat, yaitu bahan bernilai tinggi yang digunakan untuk pupuk, yang ditemukan dalam jumlah besar oleh perusahaan Inggris pada awal abad ke-20. Kegiatan penambangan dimulai pada tahun 1907, dengan pemerintah Inggris, Australia, dan Selandia Baru mengeksploitasi sumber daya tersebut sepanjang sebagian besar abad ke-20.
Setelah meraih kemerdekaan pada tahun 1968, Nauru mengambil alih pengelolaan tambang fosfat, yang kemudian mendorong ledakan ekonomi. Dalam laporan tahun 1982, The New York Times menyebut bahwa negara kepulauan tersebut memiliki “pendapatan per kapita yang melampaui negara-negara Arab kaya minyak mana pun”, serta menggambarkannya sebagai negara demokrasi independen terkecil sekaligus terkaya di dunia.
Kemakmuran ini terlihat jelas ketika seorang kepala polisi membeli Lamborghini. Mobil-mobil super mewah lainnya, termasuk Ferrari, juga diimpor, meskipun Nauru hanya memiliki satu jalan beraspal dengan batas kecepatan sekitar 25 mph.
Walaupun tidak banyak warga Nauru yang kaya secara individu dalam hal saldo bank, The New York Times menyebut bahwa kekayaan negara tersebut telah menjadikannya “hampir seperti negara kesejahteraan tertinggi”. Pemerintah menyediakan berbagai layanan penting secara gratis, seperti pendidikan, layanan kesehatan dan gigi, transportasi bus, hingga surat kabar pemerintah.
Jika layanan kesehatan tidak tersedia di dua rumah sakit lokal, warga akan diterbangkan sejauh sekitar 2.500 mil ke Australia dengan biaya yang ditanggung pemerintah. Biaya pendidikan tinggi di universitas-universitas Australia juga dibiayai oleh negara.
Konsumsi yang berlebihan.
Namun demikian, tampaknya ada pihak-pihak yang menikmati manfaat lebih langsung dari kekayaan fosfat tersebut, yang dapat dilihat dari jejak pembelian barang-barang mewah yang masih tersisa hingga saat ini.
YouTuber Ruhi Çenet mengunjungi Nauru dan membagikan pengalamannya dalam sebuah video pada tahun 2024. Dalam videonya, ia menggambarkan adanya “kegilaan konsumsi” pada masa puncak kejayaan ekonomi pulau tersebut.
Ia menemukan berbagai mobil mewah yang terbengkalai di pinggir jalan, seperti Cadillac, Jeep, dan Land Rover, yang kini hanya menjadi simbol berkarat dari masa kejayaan yang telah berlalu. Ruhi juga berbicara dengan warga setempat yang membenarkan cerita tentang seorang polisi yang membeli Lamborghini, namun kemudian menyadari bahwa dirinya tidak muat di dalam mobil tersebut.
Sementara itu, penambangan fosfat terus berlangsung hingga akhirnya mulai menipis pada tahun 1990-an, setelah dieksploitasi selama beberapa dekade oleh pihak asing.
Negara pencucian uang.
Ketika sumber daya alam yang melimpah tersebut habis, kekayaan negara pun ikut menyusut. Pengeluaran pemerintah yang besar serta gaya hidup mewah tidak mampu bertahan menghadapi keruntuhan ekonomi.
Dalam upaya mencari sumber pendapatan baru, Nauru sempat menjadi surga pajak dengan menjual lisensi perbankan dan paspor.
Dana mafia Rusia senilai sekitar 55 miliar pound atau Rp1.127 triliun dilaporkan mengalir melalui bank-bank di Nauru hanya dalam satu tahun. Hal ini mendorong Departemen Keuangan Amerika Serikat menetapkan negara tersebut sebagai pusat pencucian uang pada tahun 2002.
Australia kemudian memberikan bantuan keuangan kepada Nauru sebagai imbalan atas kesediaan negara tersebut menjadi lokasi pusat penampungan pencari suaka yang menuju Australia.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.