Krisis Populasi Jepang: Pakar Ramalkan Kapan Negeri Sakura Bisa Punah!

Berita Terkini - Diposting pada 08 February 2025 Waktu baca 5 menit

illustrasi

Pakar Demografi Prediksi Kepunahan Populasi Jepang dalam 695 Tahun

Seorang pakar tren demografi dari Pusat Penelitian Ekonomi dan Masyarakat Lanjut Usia Universitas Tohoku, Hiroshi Yoshida, mengungkap kemungkinan kepunahan populasi Jepang akibat krisis demografi yang terus berlanjut.

 

Menurut perhitungannya, Jepang diperkirakan hanya akan memiliki satu anak berusia di bawah 14 tahun pada 5 Januari 2720, atau sekitar 695 tahun dari sekarang. Prediksi ini dikutip dari The Independent dan didasarkan pada analisis data dari Biro Statistik Jepang.

 

Yoshida memetakan proyeksi tersebut dengan melacak jumlah anak pada tahun berjalan dan tahun sebelumnya, serta mengamati tren penurunannya secara real-time.


 

Penurunan Pernikahan Jadi Faktor Utama

Sejak April 2012, Yoshida telah mengembangkan prediksi ini berdasarkan tren penurunan populasi Jepang, yang kini mencapai 2,3 persen.

 

Pada 2023, angka kelahiran di Jepang mencapai titik terendah dengan rasio 1,20 anak per wanita, sebagian besar disebabkan oleh menurunnya jumlah pernikahan dan meningkatnya warga yang memilih untuk tetap melajang.

 

Tahun berikutnya, 2024, angka kelahiran kembali merosot ke level terendah sejak 1969. Selama Januari hingga Juni 2024, tercatat hanya 350.074 kelahiran, turun 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

 

Data kependudukan juga menunjukkan bahwa pada 2023, jumlah kelahiran mengalami penurunan 3,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.


 

Upaya Pemerintah: Subsidi Rumah hingga Aplikasi Kencan

Menanggapi krisis populasi, pemerintah Jepang telah mengambil berbagai langkah strategis, termasuk memperluas fasilitas penitipan anak, memberikan subsidi perumahan, hingga meluncurkan aplikasi kencan untuk mendorong pernikahan.

 

Menurut situs aplikasi kencan yang dikelola pemerintah, Metropolitan Tokyo tengah berupaya menciptakan momentum bagi warga yang ingin menikah agar mereka dapat mengambil langkah pertama dalam membangun rumah tangga.

 

Selain itu, pemerintah juga menyediakan berbagai informasi terkait keseimbangan kehidupan kerja, bantuan perumahan, dukungan pengasuhan anak, peran pria dalam rumah tangga, serta layanan konseling karier.

 

Yoshida menegaskan bahwa prediksi yang ia buat bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk meningkatkan kesadaran publik dan pemerintah terkait krisis demografi. Ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah lebih strategis dan proaktif dalam mendorong pernikahan serta meningkatkan angka kelahiran di Jepang.


Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.