Berita Terkini
4 Cara Sederhana Mengelola Emosi Saat Berbisnis-Kunci Sukses Pelaku Usaha
/index.php
Crypto News - Diposting pada 21 August 2024 Waktu baca 5 menit
DIGIVESTASI - Penipuan berbasis aset kripto kini menjadi ancaman serius bagi perekonomian Amerika Serikat, karena dampaknya semakin signifikan dalam menguras tabungan masyarakat. Terbaru, Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) menggugat perusahaan investasi kripto NovaTech Ltd pada 12 Agustus 2024, setelah perusahaan tersebut terbukti menggunakan skema multi-level marketing (MLM) untuk menarik investor kripto sejak 2019. Sebelum akhirnya bangkrut pada 2023, NovaTech telah mengelola dana lebih dari US$650 juta dari sekitar 200.000 investor di seluruh dunia.
Keruntuhan NovaTech diyakini sebagai akibat dari praktik skema piramida, di mana dana yang digunakan untuk membayar investor lama dan operasional diperoleh dari dana investor baru. "Skema MLM sebesar ini memerlukan promotor untuk menjalankannya, dan kami akan meminta pertanggungjawaban tidak hanya dari arsitek utama skema ini, tetapi juga promotor yang menyebarkan penipuan kepada para korban," ujar Eric Werner, Direktur Regional SEC Fort Worth, Texas, dalam pernyataan resminya, Senin (19/8/2024).
Menurut situs resmi SEC, kasus ini bukanlah yang pertama kali terkait penipuan investasi kripto sepanjang 2024. Pada Maret 2024, SEC menuntut 17 individu yang terlibat dalam CryptoFX LLC karena menggunakan Skema Ponzi untuk menipu masyarakat di komunitas Amerika Latin, dengan total kerugian mencapai US$300 juta dari sekitar 40.000 korban. Selain itu, pada awal tahun, SEC juga mengungkap skema piramida bernama HyperFund yang menyedot hingga US$1,7 miliar dari investor kripto global.
Laporan Biro Investigasi Federal (FBI) bertajuk Internet Crime Report 2023 mencatat bahwa penipuan berkedok investasi bodong di AS terus mengalami peningkatan pesat. Sepanjang 2023, kerugian akibat penipuan investasi dan skema serupa mencapai US$4,57 miliar, naik 38% dibandingkan dengan 2022 yang mencapai US$3,31 miliar. Jika dipecah lebih lanjut, penipuan investasi berbasis kripto mendominasi dengan kerugian mencapai US$3,96 miliar pada 2023, meningkat 53% dari US$2,57 miliar pada 2022. Kasus-kasus ini mencakup berbagai modus, mulai dari skema ponzi hingga penipuan personal seperti pig butchering, hingga penggalangan dana proyek kripto palsu atau rug pull.
Sasaran Empuk
Investor kripto pemula, yang belum sepenuhnya memahami teknologi blockchain, menjadi target empuk bagi penipu lokal maupun sindikat global. Laporan The 2024 Crypto Crime Report dari Chainalysis memperkirakan bahwa nilai kripto ilegal atau hasil kejahatan global mencapai US$24,2 miliar sepanjang 2023. Meskipun angka ini menurun dibandingkan 2022 yang mencapai US$39,6 miliar, Tim Chainalysis menekankan bahwa temuan ini mungkin masih bertambah. "Sebagai contoh, dalam laporan kami tahun lalu, transaksi kripto ilegal 2022 kami perkirakan mencapai US$20,6 miliar, sebelum akhirnya diperbarui menjadi US$39,6 miliar," kata Direktur Riset Chainalysis, Kim Grauer, dalam laporannya.
Riset yang dirilis pada awal Maret 2024 ini juga menunjukkan bahwa kripto ilegal dari penipuan, peretasan, dan pencurian yang menargetkan individu masih marak terjadi. Secara rinci, kripto ilegal dari ransomware mencatatkan rekor US$1,1 miliar pada 2023, hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Sementara itu, nominal kripto ilegal dari penipuan atau scam menurun dari US$6,5 miliar pada 2022 menjadi US$4,6 miliar pada 2023. Modus penipuan yang menjadi tren pada 2023 adalah penipuan investasi melalui pig butchering, diikuti penipuan berbasis NFT, rug pull, penipuan giveaway, dan phising atau penyamaran. Di sisi lain, pencurian token akibat peretasan juga menurun dari US$3,7 miliar pada 2022 menjadi US$1,7 miliar sepanjang 2023. Namun, Chainalysis mencatat bahwa upaya peretasan masih tinggi dan cenderung meningkat.
Pentingnya Waspada dan Edukasi
Lembaga Edukasi Kripto Pintu Academy menekankan bahwa skema piramida bisa terjadi di dunia kripto. Model bisnis ini umumnya bergantung pada merekrut anggota baru, di mana mereka harus membayar uang muka dan membeli produk untuk bergabung. Anggota yang bergabung paling akhir biasanya menjadi yang paling dirugikan. "Anggota baru kemudian merekrut anggota lain untuk mendapatkan komisi, menciptakan lebih banyak penawaran daripada permintaan. Skema ini sering menjanjikan keuntungan tinggi dengan risiko rendah dan memerlukan biaya di muka," jelas Pintu Academy. Selain itu, program-program investasi berskema ponzi sering kali menunjukkan hasil yang terlalu konsisten, menggunakan strategi bisnis yang kompleks dan rahasia, bertumpu pada perekrutan anggota baru, serta mengharuskan anggota membeli banyak persediaan produk.
Namun, meskipun kripto sering digunakan dalam penipuan, Pintu Academy menekankan bahwa tidak semua aset kripto adalah scam. Sebagai contoh, Bitcoin (BTC) adalah komoditas yang dirancang sebagai aset digital yang memiliki nilai. Harga Bitcoin ditentukan oleh penawaran dan permintaan, bukan oleh perekrutan anggota baru. Bitcoin juga bersifat open source dan transparan, berbeda dari skema piramida yang rumit dan tertutup. Siapapun dapat melihat kode Bitcoin dan berpartisipasi dalam pengembangannya. "Bitcoin juga didistribusikan secara adil tanpa alokasi awal untuk penciptanya, Satoshi Nakamoto, yang juga harus menambang Bitcoin seperti peserta lainnya. Bitcoin tidak memiliki pemimpin atau struktur organisasi, menjadikannya jaringan global yang terdesentralisasi," jelas Pintu Academy.
Bitcoin merupakan jaringan moneter baru yang tumbuh pesat. Pengembangannya diawasi oleh programmer global dan para penambang yang bekerja sama untuk mengamankan jaringan. Terakhir, Bitcoin tidak bergantung pada perekrutan pengguna baru karena bekerja berdasarkan protokol proof-of-work (PoW). Bitcoin juga aman dan dapat diakses oleh siapa saja dengan mudah. "Kenaikan harga Bitcoin yang cepat mungkin membuat beberapa orang mengira Bitcoin sebagai skema piramida. Namun, Bitcoin bukanlah skema piramida karena bersifat open source, transparan, tanpa pemimpin, dan didistribusikan secara adil," tegas .
Namun, memang ada praktik-praktik penipuan dengan menggunakan token palsu, yang dikenal sebagai praktek pump and dump, di mana investor dijebak untuk berinvestasi pada altcoin yang tidak memiliki nilai riil. Ketika harga altcoin ini anjlok, investor yang membeli di harga tinggi menjadi pihak yang paling dirugikan. Oleh karena itu, sangat penting bagi investor kripto, baik pemula maupun berpengalaman, untuk selalu waspada dan memverifikasi setiap tawaran investasi atau informasi yang diterima. Sebelum berinvestasi, pemahaman tentang analisis fundamental token, latar belakang pengembang proyek, aspek teknis, dan aktivitas on-chain koin tersebut sangat penting untuk diperhatikan.
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: bisnis.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.