Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Crypto News - Diposting pada 24 April 2025 Waktu baca 5 menit
Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat, melalui Internet Crime Complaint Center (IC3), merilis laporan tahunan terbaru yang menyoroti lonjakan besar dalam jumlah kasus serta kerugian yang berkaitan dengan kejahatan aset kripto di sepanjang tahun 2024.
Dalam laporan yang diterbitkan pada Rabu (23/4/2025), tercatat lebih dari 140.000 laporan terkait penipuan kripto masuk ke IC3, dengan total kerugian mencapai US$9,3 miliar atau sekitar Rp157 triliun. Kelompok usia lanjut, terutama mereka yang berumur di atas 60 tahun, menjadi korban terbesar dengan sekitar 33.000 kasus dan kerugian senilai US$2,8 miliar.
FBI juga mengungkap bahwa total kerugian akibat seluruh bentuk kejahatan siber tahun lalu mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah, yakni US$16,6 miliar. Dari jumlah itu, penipuan kripto menjadi penyumbang terbesar, sementara serangan ransomware tetap mendominasi ancaman terhadap infrastruktur penting, dengan peningkatan laporan sebesar 9% dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika dibandingkan tahun 2023, kerugian dari kejahatan kripto meningkat tajam sekitar 66%, dari US$5,6 miliar menjadi US$9,3 miliar. Modus penipuan paling merugikan secara finansial adalah investasi kripto palsu, sedangkan kategori yang paling banyak dilaporkan adalah sextortion, yaitu pemerasan menggunakan manipulasi konten foto atau video pribadi. Modus lain termasuk penipuan melalui ATM kripto dan kios digital.
Sebagai respons, FBI meluncurkan inisiatif bernama “Operation Level Up” yang berhasil mencegah potensi kerugian hingga US$285 juta selama periode Januari 2024 sampai Januari 2025.
Dalam laporan terpisah dari Chainalysis, total kerugian akibat berbagai bentuk kejahatan dalam industri kripto global selama 2024 diperkirakan mencapai US$40 miliar, dengan total potensi kerugian secara global bisa mencapai US$51 miliar atau sekitar Rp845 triliun.
Salah satu kasus paling mencolok adalah pencurian senilai US$1,4 miliar dari exchange Bybit pada Februari lalu.
Laporan itu juga menyoroti peningkatan kejahatan yang melibatkan teknologi kecerdasan buatan (AI), pencucian uang lewat stablecoin, dan aktivitas jaringan kejahatan digital yang makin canggih.
Chainalysis memperingatkan bahwa tahun 2025 bisa menjadi rekor tertinggi dalam sejarah penipuan kripto, seiring penggunaan AI generatif oleh pelaku kejahatan untuk menjalankan aksi penipuan secara lebih luas dan efisien.
Sumber: coinvestasi.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.