Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Crypto News - Diposting pada 15 July 2025 Waktu baca 5 menit
Harga Bitcoin (BTC) telah berhasil mencapai rekor tertinggi terbaru, menembus batas psikologis US$120.000 atau sekitar Rp1,95 triliun (dengan asumsi nilai tukar US$1 = Rp16.240).
Kenaikan ini didorong oleh berbagai faktor, seperti meningkatnya permintaan, adanya regulasi baru di Amerika Serikat yang dikenal sebagai Crypto Week, sikap pro-kripto dari pemerintah AS, dan masuknya dana institusional ke pasar kripto.
Pada perdagangan intraday hari ini, Selasa (15/7/2025) pukul 08.00 WIB, harga BTC tercatat di level US$119.516,53. Sementara itu, pada penutupan perdagangan Senin (14/7/2025), BTC ditutup menguat di level US$120.222,27. Dalam sesi perdagangan tersebut, harga BTC sempat menyentuh titik tertinggi sepanjang masa di level US$123.153,22.
Sepanjang tahun ini, harga BTC telah naik sekitar 27%. Kenaikan ini terjadi karena permintaan yang sangat tinggi tidak diimbangi dengan suplai BTC yang terbatas.
Berikut adalah beberapa faktor utama pendorong kenaikan harga Bitcoin menurut catatan CNBC Indonesia:
Bitcoin memiliki batas maksimal sebanyak 21 juta koin. Per Juli 2025, sekitar 93,5% dari total Bitcoin telah ditambang, dan sisanya akan terus berkurang pasokannya karena mekanisme halving.
Halving pada tahun 2024 telah memangkas hadiah blok menjadi 3.125 BTC, yang berdampak pada pengurangan pasokan baru. Secara historis, hal ini sering diikuti oleh kenaikan harga dalam 12–18 bulan setelah halving.
Investor institusional seperti ETF milik BlackRock dan Fidelity telah meningkatkan permintaan terhadap BTC meskipun pasokan tetap terbatas.
Fenomena FOMO (fear of missing out) dari investor ritel seringkali muncul saat harga BTC menembus rekor baru.
Di sisi lain, negara berkembang juga mulai menggunakan Bitcoin sebagai perlindungan terhadap depresiasi mata uang lokal mereka.
ETF spot Bitcoin di AS dan global mendorong permintaan lebih lanjut karena memudahkan institusi dan dana pensiun untuk memiliki eksposur ke BTC tanpa harus menangani masalah penyimpanan.
ETF Bitcoin juga mencatat arus masuk bersih harian secara konsisten, yang ikut mengurangi suplai BTC di pasar.
Perusahaan seperti MicroStrategy dan lainnya juga mulai mengalokasikan sebagian cadangan kas mereka ke BTC sebagai bentuk penyimpanan nilai.
Bahkan jika hanya sebagian kecil dari dana perusahaan dialihkan ke BTC, hal ini bisa memicu lonjakan harga karena kapitalisasi pasar BTC relatif kecil dibandingkan pasar finansial global.
Pemerintah Trump menunjukkan sikap mendukung aset kripto, termasuk dengan mengeluarkan executive order terkait cadangan strategis Bitcoin, yang turut mendorong kenaikan harga.
Di saat bersamaan, Kongres AS sedang membahas tiga rancangan undang-undang penting dalam “Crypto Week”, yakni:
Genius Act: Mengatur stablecoin
Clarity Act: Menyusun kerangka kerja untuk aset digital
Anti CBDC Surveillance State Act: Melarang penggunaan CBDC untuk pengawasan pribadi
Ekspektasi bahwa regulasi kripto akan lebih jelas mendorong minat dari investor institusi.
Bitcoin semakin dipandang sebagai emas digital dan dijadikan alat lindung nilai terhadap inflasi dan depresiasi mata uang fiat.
Jika inflasi global terus bertahan di atas target bank sentral, maka permintaan terhadap aset keras seperti BTC akan meningkat.
Kemungkinan penurunan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) atau pelonggaran kebijakan moneter diprediksi akan meningkatkan likuiditas ke aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Secara historis, harga BTC cenderung naik ketika imbal hasil riil mengalami penurunan.
Aktivitas jaringan Bitcoin seperti jumlah dompet aktif, volume transaksi, dan transfer terus meningkat dan biasanya berkorelasi positif dengan kenaikan harga.
Ketika sebagian besar BTC disimpan oleh pemegang jangka panjang yang enggan menjual, maka suplai likuid menyusut, sehingga harga mudah naik saat permintaan melonjak.
Selain itu, peningkatan hashrate menunjukkan bahwa jaringan Bitcoin makin kuat dan menandakan keyakinan para penambang terhadap masa depan BTC.
Bitcoin dikenal memiliki pola siklus empat tahun yang berpusat pada peristiwa halving.
| Halving | Puncak Harga | Fase Bearish | Halving Berikutnya |
|---|---|---|---|
| Nov 2012 | Nov 2013 ~ US$1.200 | 2014–2015 | Jul 2016 |
| Jul 2016 | Des 2017 ~ US$20.000 | 2018 | Mei 2020 |
| Mei 2020 | Nov 2021 ~ US$69.000 | 2022–2023 | Mei 2024 |
| Mei 2024 | Jul 2025 ~ US$120.000 | - | 2028 |
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.