Google Investasi di Fusi Nuklir: Energi Masa Depan Tanpa Batas?

Teknologi Terkini - Diposting pada 01 July 2025 Waktu baca 5 menit

illustrasi

Perusahaan induk Google, yaitu Alphabet Inc., telah menyetujui kesepakatan untuk membeli listrik sebesar 200 megawatt dari fasilitas pembangkit listrik fusi komersial pertama milik Commonwealth Fusion Systems yang direncanakan, dan diperkirakan akan mulai menyuplai listrik ke jaringan listrik pada awal dekade 2030-an.

 

Selain itu, Google juga melakukan investasi kedua pada Commonwealth, salah satu pesaing utama dalam perlombaan komersialisasi energi fusi, sebagaimana dijelaskan dalam pernyataan resmi pada hari Senin. Sebelumnya, Google juga ikut berpartisipasi dalam putaran pendanaan pada tahun 2021 yang dipimpin oleh Tiger Global Management, yang menyuntikkan dana sebesar US$1,8 miliar ke perusahaan tersebut. Namun, nilai investasi terbaru tidak diungkapkan oleh kedua belah pihak.

 

Teknologi fusi bertujuan meniru proses yang menjadi sumber energi bintang, dan menjanjikan pasokan energi bersih yang sangat besar. Namun, teknologi ini menghadapi tantangan teknik yang luar biasa sulit. Sampai saat ini, belum ada perusahaan yang berhasil menggandakan terobosan pada tahun 2022 di laboratorium pemerintah AS, yang menunjukkan kemungkinan konsep ini untuk diaplikasikan. Meski demikian, potensi untuk menghasilkan listrik murah dan bebas karbon tetap menarik perhatian raksasa teknologi seperti Google, yang harus mengoperasikan pusat data besar untuk layanan cloud dan kecerdasan buatan (AI).

 

Pengembangan dan pengoperasian AI memerlukan konsumsi energi yang sangat besar. Google dan kompetitornya, termasuk Microsoft Corp., telah mengakui bahwa kebutuhan energi untuk AI menyulitkan mereka dalam mencapai target iklim yang telah ditetapkan.

 

“Mempercepat pengembangan AI berarti juga mendorong kemajuan dalam teknologi energi canggih, guna mendatangkan lebih banyak pasokan energi bersih ke jaringan listrik yang ada, sehingga dapat memenuhi lonjakan permintaan listrik dalam sepuluh tahun ke depan. Ini juga berarti kami harus berani mengambil langkah investasi jangka panjang,” kata Michael Terrell, kepala divisi energi canggih Google. “Saya sendiri mengklasifikasikan kesepakatan ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang,” lanjutnya, merujuk pada kolaborasi dengan Commonwealth.

 

Walaupun perjanjian dengan Google menjadi kesepakatan terbesar sejauh ini dalam hal energi fusi, jumlahnya masih tergolong kecil dibandingkan dengan skala kebutuhan energi perusahaan teknologi besar. Sebagai perbandingan, satu pembangkit listrik tenaga nuklir konvensional biasanya memiliki kapasitas sekitar 1 gigawatt, sedangkan kapasitas 200 MW yang dijanjikan setara dengan fasilitas tenaga surya skala menengah.

 

Commonwealth, yang merupakan spin-off dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), telah berhasil menggalang dana lebih dari US$2 miliar, jauh melampaui pendanaan para pesaingnya. Pada Desember lalu, perusahaan ini mengumumkan bahwa mereka telah menyewa lahan di dekat pembangkit listrik tenaga gas milik Dominion Energy Inc. di Virginia sebagai lokasi pembangunan pembangkit fusi komersial pertama mereka.

 

Teknologi fusi dan puluhan startup yang bergerak di bidang ini telah menarik perhatian para tokoh besar industri teknologi, termasuk Bill Gates yang turut mendanai Commonwealth, serta Jeff Bezos dan CEO OpenAI Sam Altman. Microsoft, pada tahun 2023, juga menyepakati pembelian sebagian listrik dari pembangkit fusi yang direncanakan oleh Helion Energy, sebuah perusahaan rintisan yang didukung oleh Altman dan SoftBank Vision Fund 2.

 

Commonwealth saat ini tengah menyempurnakan sistem demonstrasi yang disebut Sparc di markas mereka di Devens, Massachusetts. Prototipe ini ditargetkan mencapai pencapaian penting pada tahun 2027, yakni menciptakan reaksi fusi yang menghasilkan lebih banyak energi daripada yang dibutuhkan untuk memicu proses tersebut. Keberhasilan ini akan membuka jalan bagi pembangunan Arc, versi komersial skala besar, yang direncanakan mulai beroperasi di Virginia pada awal 2030-an.

Sumber: bloombergtechnoz.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.