Nvidia Catatkan Penurunan Terbesar Dalam Sejarah, Nilai Anjlok dalam sehari

Saham News - Diposting pada 31 January 2025 Waktu baca 5 menit

illustrasi

Nvidia Alami Kerugian Kapitalisasi Pasar Terbesar dalam Sejarah AS

Pada hari Senin (27/1), Nvidia mengalami kerugian hampir USD 600 miliar atau sekitar Rp 9.733 Triliun dalam kapitalisasi pasar. Penurunan ini tercatat sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar saham Amerika Serikat. Nilai pasar Nvidia kini jatuh lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan besar seperti Coca-Cola, Chevron, serta melebihi nilai pasar Oracle dan Netflix.

 

Menurut laporan dari CNBC International pada Selasa (28/1/2025), saham Nvidia mengalami penurunan tajam hingga 17%, ditutup pada harga USD 118,58. Penurunan ini menjadi yang terburuk bagi Nvidia sejak 16 Maret 2020, yang bertepatan dengan awal pandemi Covid-19.

 

Setelah beberapa waktu lalu kapitalisasi pasar Nvidia mengungguli Apple, penurunan harga saham perusahaan ini turut mempengaruhi indeks Nasdaq yang turun sebesar 3,1%. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran akan meningkatnya persaingan dalam sektor kecerdasan buatan (AI), khususnya terkait dengan DeepSeek, sebuah laboratorium AI asal China yang sedang berkembang pesat.

 

Pada akhir Desember 2024, DeepSeek meluncurkan model bahasa besar sumber terbuka gratis yang dikembangkan dalam waktu dua bulan dengan biaya kurang dari USD 6 juta (sekitar Rp 9,7 triliun). Mereka menggunakan chip Nvidia H800 yang berkapasitas lebih rendah, yang semakin menambah kekhawatiran Nvidia tentang persaingan di pasar global AI.

 

Dominasi Pasar Nvidia di AS

Unit pemrosesan grafis Nvidia (GPU) telah mendominasi pasar chip pusat data AI di Amerika Serikat, dengan perusahaan-perusahaan besar seperti Alphabet, Meta, dan Amazon menginvestasikan miliaran dolar untuk membeli prosesor guna melatih dan menjalankan model-model AI mereka.

 

Para analis di Cantor menilai bahwa peluncuran teknologi terbaru dari DeepSeek telah memicu kekhawatiran besar mengenai potensi dampaknya terhadap permintaan komputasi. Hal ini berpotensi menyebabkan lonjakan pengeluaran yang lebih besar untuk GPU. "Kemajuan dalam AI kemungkinan akan meningkatkan permintaan komputasi, bukan malah mengurangi kebutuhan tersebut," ungkap para analis di Cantor.

 

Meskipun saham Nvidia mencatatkan kenaikan signifikan, dengan lonjakan 239% pada tahun 2023 dan 171% pada 2024, pasar masih diliputi kekhawatiran terkait dengan potensi penurunan pengeluaran di masa depan.

 

 

Sumber: investor.id

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.