Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Saham News - Diposting pada 28 April 2025 Waktu baca 5 menit
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat performa impresif sepanjang pekan lalu. Dalam lima hari perdagangan, IHSG hanya sekali mengalami koreksi ke zona merah.
Meski arus keluar modal asing masih deras, IHSG tetap membukukan kenaikan sebesar 3,74% ke level 6.678,92, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2,81% pada pekan sebelumnya.
Lonjakan tersebut membuat IHSG tercatat sebagai indeks saham dengan performa terbaik di kawasan Asia-Pasifik. Kompetitor terdekatnya adalah Nikkei 225 dari Jepang yang menguat 2,81% dan Straits Times dari Singapura yang naik 2,78%.
Namun, perlu dicatat bahwa IHSG kini berada di area resistance yang rawan aksi ambil untung, sementara nilai tukar rupiah masih berhadapan dengan risiko repatriasi dividen dari perbankan besar.
Secara teknikal, IHSG saat ini tengah menguji resistance horizontal line yang ditarik dari level tertinggi pada 14 Maret 2025 di kisaran 6.600.
Memasuki pekan depan, pergerakan pasar diperkirakan akan lebih dinamis. Fokus investor akan tertuju pada data inflasi domestik, kondisi pasar tenaga kerja AS, serta perkembangan pemulihan ekonomi global.
Dari sisi domestik, BPS dijadwalkan mengumumkan angka inflasi bulan April pada 2 Mei, menjadi perhatian utama setelah harga pangan menunjukkan tekanan dalam beberapa bulan terakhir.
Sementara itu, Bank Indonesia akan merilis hasil Survei Perbankan Triwulan I-2025 pada 28 April, yang akan menggambarkan prospek penyaluran kredit dan kondisi likuiditas.
Puncaknya, data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 akan diumumkan pada 5 Mei, yang akan sangat menentukan arah sentimen pasar, terutama di tengah risiko pelemahan konsumsi akibat tren suku bunga tinggi.
Pasar domestik juga diperkirakan mengalami volatilitas rendah pada awal pekan karena libur Hari Buruh Internasional (1 Mei) dan Hari Penampahan Kuningan (2 Mei).
Di sisi lain, pasar keuangan AS tetap beroperasi aktif, dengan momen puncak volatilitas diprediksi terjadi saat rilis data GDP, PCE, dan laporan ketenagakerjaan.
Dari Amerika, pekan depan dipenuhi data-data penting yang berpotensi mengguncang pasar global.
Indeks Harga PCE Maret, indikator inflasi favorit The Fed, akan keluar pada 30 April malam, dengan estimasi naik ke 2,5% dari sebelumnya 2,2%, memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Selain itu, data JOLTs Job Openings, Consumer Confidence (29 April), serta Initial Jobless Claims dan ISM Manufacturing PMI (1 Mei) juga akan menjadi perhatian pelaku pasar.
Bersamaan, rilis awal data PDB Q1-2025 memperkirakan ekonomi AS tumbuh hanya 0,5% secara kuartalan, menandakan efek nyata dari pengetatan moneter.
Dari China, data NBS Manufacturing PMI dan Caixin Manufacturing PMI untuk April akan dipantau ketat pada 30 April.
PMI resmi diperkirakan stabil di kisaran ekspansi tipis 50,5, dan Caixin PMI di angka 51,2. Data ini menjadi indikator vital terhadap kondisi sektor manufaktur China pasca stimulus fiskal dan moneter.
Jika PMI menunjukkan penguatan, sentimen pasar Asia berpotensi membaik. Sebaliknya, pelemahan data bisa kembali memicu kekhawatiran atas prospek pertumbuhan global.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.