Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Saham News - Diposting pada 24 June 2025 Waktu baca 5 menit
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan sebesar 1,7% pada sesi pertama perdagangan hari ini, Senin, 23 Juni 2025. Indeks tersebut melemah sebesar 117,43 poin ke posisi 6.789,71. Tercatat 538 saham mengalami penurunan, 124 saham menguat, dan 133 saham stagnan. Total nilai transaksi siang ini mencapai Rp 7,54 triliun, dengan volume perdagangan 13,19 miliar saham dari 807.285 kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun ikut merosot menjadi Rp 11.907,98 triliun.
Berdasarkan data Refinitiv, seluruh sektor mengalami pelemahan. Sektor utilitas mencatat penurunan terdalam sebesar 4,13%, diikuti oleh sektor properti yang melemah 3,11%, dan sektor energi yang turun 2,47%.
Saham-saham yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pelemahan IHSG berasal dari berbagai sektor. Saham DSSA, emiten tambang milik grup Sinar Mas, jatuh 5,83% dan menjadi penekan utama IHSG dengan menyumbang penurunan sebesar 13,36 poin indeks.
Selain itu, saham BREN, emiten yang bergerak di sektor energi terbarukan, juga menjadi kontributor utama penurunan IHSG hari ini dengan pengaruh negatif sebesar 10,45 poin indeks. Diikuti oleh saham BBRI yang memberikan dampak penurunan sebesar 9,18 poin indeks.
Pelemahan IHSG ini terjadi seiring dengan meningkatnya sikap hati-hati dari pelaku pasar atau modus risk-off, yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta sejumlah rilis data ekonomi yang memperkuat pandangan hawkish dari The Federal Reserve (The Fed).
Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa militer Amerika telah melakukan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir di Iran, yang berlokasi di Fordow, Natanz, dan Isfahan, pada Sabtu malam, 21 Juni 2025 waktu setempat.
Menurut laporan Reuters, Trump menyebut bahwa serangan militer AS terhadap situs nuklir Iran berhasil dengan sangat baik. Ia mengaku telah mempertimbangkan operasi ini selama beberapa hari, dan menyebut bahwa serangan dilakukan menggunakan pesawat pembom B-2.
Keterlibatan AS dalam konflik antara Israel dan Iran semakin memperkeruh dan memperluas eskalasi geopolitik. Keikutsertaan Amerika Serikat juga dikhawatirkan dapat mengundang negara besar lain seperti Rusia, China, dan negara-negara Eropa untuk terlibat dalam konflik tersebut.
Sementara itu, Iran menyatakan siap menutup Selat Hormuz. Press TV, saluran berita resmi negara tersebut, melaporkan bahwa parlemen telah mencapai konsensus untuk menutup selat strategis tersebut, walau keputusan akhir masih berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Selat Hormuz, yang memisahkan wilayah Iran dan Oman, merupakan jalur penting bagi ekspor minyak dari negara-negara di Teluk Persia. Selat ini menjadi penghubung antara Teluk Persia dan laut lepas, menjadikannya salah satu titik lalu lintas energi paling vital di dunia.
Iran juga mengendalikan dua jalur pelayaran penting lainnya, yaitu Selat Hormuz dan Laut Merah, yang sama-sama memegang peran penting dalam perdagangan minyak global.
Sekitar 20% pasokan minyak dunia dan 30%-35% dari pasokan LNG global melintasi Selat Hormuz. Sementara itu, Laut Merah mengangkut sekitar 12% minyak dunia dan 6% LNG global.
Kekhawatiran semakin meningkat setelah Iran secara resmi menyatakan telah memblokir Selat Hormuz semalam. Macquaite memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga US$ 240 per barel, jika terjadi gangguan sebesar 15 juta barel per hari.
Bloomberg juga memprediksi bahwa harga minyak dapat mencapai US$ 130 per barel, dan ini bisa menyebabkan inflasi tahunan AS (yoy) meningkat hingga 3,9%.
Menurut proyeksi Goldman Sachs dan perusahaan konsultan Rapidan Energy, harga minyak diperkirakan bisa menembus lebih dari US$ 100 per barel jika penutupan berlangsung lama.
Kenaikan harga minyak ini berpotensi memicu inflasi global, yang pada gilirannya bisa menghambat kemungkinan pemangkasan suku bunga, serta menyebabkan tingkat bunga tinggi bertahan lebih lama.
Dalam situasi seperti ini, prospek ekonomi global beralih ke mode risk-off, dan investor diprediksi akan memusatkan perhatian ke aset-aset yang sensitif terhadap sektor energi dan komoditas, serta safe haven seperti emas.
Harga minyak dunia sendiri telah melonjak 11% sejak konflik Iran-Israel pecah pada 13 Juni 2025.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.