Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Saham News - Diposting pada 10 May 2025 Waktu baca 5 menit
Sudahkah Anda siap untuk memasuki masa pensiun? Kini, pensiun tidak selalu identik dengan usia lanjut. Banyak orang mulai melihat pensiun sebagai babak baru dalam kehidupan, bukan sebagai akhir dari masa produktif. Bahkan, semakin banyak individu yang memilih pensiun dini pada usia 40 atau 50-an demi mengejar tujuan lain seperti kebebasan finansial, membangun usaha sendiri, menjelajahi dunia, atau memberikan kontribusi sosial.
Pada kondisi ideal, seseorang yang pensiun sudah memiliki dana cukup untuk membiayai kebutuhan hidup tanpa harus lagi bekerja secara penuh waktu.
Lalu, bagaimana mengatur dana pensiun agar cukup untuk kebutuhan hidup tanpa mengurangi nilainya secara signifikan?
Salah satu strategi yang sangat cocok bagi pensiunan adalah investasi dalam saham dividen. Saham jenis ini memberikan penghasilan pasif secara rutin, tanpa perlu menjual aset. Namun demikian, dalam memilih saham dividen untuk pensiunan, yang menjadi prioritas adalah stabilitas, konsistensi, dan tingkat imbal hasil yang wajar—bukan sekadar tinggi.
Berikut adalah kriteria penting dalam memilih saham dividen yang ideal bagi para pensiunan:
Dividend Yield Stabil (3%–7%)
Yield yang terlalu tinggi (lebih dari 10%) bisa menjadi tanda adanya risiko tinggi atau penurunan tajam harga saham.
Contoh ideal: saham dengan yield konsisten di kisaran 4–6% setiap tahun.
Riwayat Pembayaran Dividen yang Konsisten
Cek apakah perusahaan rutin membagikan dividen minimal selama lima tahun terakhir.
Idealnya: dividen terus naik atau setidaknya stabil setiap tahunnya.
Bisnis yang Tahan terhadap Siklus Ekonomi (Defensif)
Contoh sektor: barang konsumsi, telekomunikasi, perbankan besar, infrastruktur, dan energi.
Hindari sektor yang sangat terpengaruh oleh siklus ekonomi, seperti pertambangan atau properti, untuk dana pensiun inti.
Rasio Pembayaran Dividen yang Sehat (Dividend Payout Ratio)
Rasio ideal berada di angka 40–70%.
Rasio terlalu rendah menandakan perusahaan enggan membagikan laba.
Rasio terlalu tinggi bisa berarti perusahaan kekurangan dana untuk pengembangan usaha.
Kinerja Keuangan yang Stabil
Keuntungan bersih dan arus kas operasional harus cukup untuk mendukung pembagian dividen.
Hindari perusahaan yang berutang hanya untuk bisa membayar dividen.
Berdasarkan riset dari CNBC Indonesia, beberapa saham dengan kapitalisasi besar yang rutin membagikan dividen dan memiliki yield yang cenderung stabil atau meningkat dari tahun ke tahun dianggap cocok sebagai sumber penghasilan pasif dari dividen untuk dana pensiun.
| Perusahaan | Kode Saham | Sektor | Dividend Yield | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk | BBRI | Perbankan | 5%-9% | Konsisten, kuat, laba stabil |
| PT Bank Mandiri (Persero) Tbk | BMRI | Perbankan | 5%-9% | Konsisten, kuat, laba stabil |
| PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk | BBNI | Perbankan | 4%-8% | Konsisten, kuat, laba stabil |
| PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk | TLKM | Telekomunikasi | 4%-6% | Dividen rutin, bisnis defensif |
| PT Unilever Indonesia Tbk | UNVR | Konsumsi | 3%-6% | Sangat defensif, stabil |
| PT Astra International Tbk | ASII | Otomotif | 4%-10% | Stabil, tetapi agak siklikal |
| PT Perusahaan Gas Negara Tbk | PGAS | Energi | 4%-9% | High yield, tapi lebih berisiko |
| PT Bukit Asam Tbk | PTBA | Energi | 9%-30% | High yield, tapi lebih berisiko |
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.