Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Edukasi - Diposting pada 12 June 2025 Waktu baca 5 menit
Perdebatan antara memilih saham atau obligasi kembali mencuat di kalangan investor pada 2025. Tren pasar terbaru menunjukkan bahwa obligasi—khususnya di Indonesia—kembali menjadi aset unggulan berkat imbal hasil yang stabil. Sementara itu, kinerja saham masih dibayangi oleh tingkat volatilitas yang tinggi.
Saham menawarkan potensi pertumbuhan modal jangka panjang (capital gain) dan dividen, namun sangat rentan terhadap gejolak pasar. Sebaliknya, obligasi menyediakan arus kas tetap melalui kupon dengan risiko yang lebih terkendali, sehingga lebih diminati oleh investor pemula karena sifatnya yang relatif mudah dipahami dan minim fluktuasi.
Obligasi semakin menarik berkat arah kebijakan moneter global yang condong ke penurunan suku bunga. Tren pelonggaran dari The Fed di Amerika Serikat, serta pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), membuat yield jangka pendek obligasi turun. Namun, imbal hasil obligasi masih berada di kisaran menarik 6–7%, menurut data dari Mandiri Investasi. Hal ini tidak hanya menjanjikan kupon stabil, tetapi juga potensi capital gain dari kenaikan harga obligasi.
Meskipun mengalami tekanan di 2025, saham tetap relevan bagi investor berjangka panjang. Sektor teknologi, infrastruktur, dan konsumsi dinilai menyimpan potensi besar untuk rebound saat kondisi ekonomi global membaik. Namun, tingkat risiko dan volatilitas tetap menjadi perhatian utama, sehingga investor harus cermat dalam memilih emiten dengan fundamental kuat.
Bagi investor yang mengedepankan keamanan dan arus kas stabil, obligasi atau reksa dana pendapatan tetap menjadi pilihan menarik. Baik obligasi pemerintah maupun korporasi memberikan kupon tahunan di atas 6%, menjadikannya alternatif yang kompetitif dibanding deposito.
Namun, untuk investor dengan horizon investasi panjang dan toleransi risiko tinggi, saham masih layak dipertimbangkan. Meski pasar saham saat ini mengalami tekanan, saham blue-chip berpotensi pulih seiring membaiknya situasi ekonomi global.
Untuk investor yang mencari keseimbangan antara risiko dan keuntungan, diversifikasi portofolio adalah strategi yang disarankan. Komposisi dapat disesuaikan dengan profil risiko:
Investor defensif bisa mengalokasikan 60% ke obligasi dan 40% ke saham.
Investor agresif mungkin lebih cocok dengan 60% saham dan 40% obligasi.
Investor moderat bisa menempatkan porsi seimbang 50:50.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, obligasi tampil lebih unggul dalam jangka pendek, namun saham tetap menjanjikan peluang pertumbuhan jangka panjang. Kunci keberhasilan terletak pada strategi alokasi aset yang tepat, disiplin dalam berinvestasi, serta pemahaman menyeluruh terhadap dinamika pasar.
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.