3 Rahasia Investasi Pemula ala Warren Buffett yang Wajib Kamu Tahu!

Edukasi - Diposting pada 30 June 2025 Waktu baca 5 menit

illustrasi

Warren Buffett dikenal bukan hanya sebagai salah satu individu paling kaya di dunia, tetapi juga sebagai investor legendaris dan paling sukses sepanjang masa.

 

Pendiri perusahaan investasi raksasa Berkshire Hathaway ini memiliki kekayaan sebesar 152 miliar dolar AS, yang jika dikonversikan setara dengan sekitar Rp 2.459 triliun (menggunakan asumsi nilai tukar Rp 16.179 per dolar AS).

 

Dijuluki "Oracle of Omaha", Buffett terkenal karena kemampuannya dalam memilih investasi jangka panjang yang cermat. Ia juga sangat berkomitmen untuk menyebarkan pengetahuannya kepada para investor biasa, termasuk mereka yang masih pemula.

 

Berikut adalah sejumlah prinsip investasi dari Warren Buffett yang relevan untuk pemula, dikutip dari Fast Company pada Minggu (29 Juni 2025).

 

1. Hanya Investasikan Uang Anda pada Hal yang Anda Pahami

Buffett pernah mengingatkan, "Jangan pernah menaruh uang pada bisnis yang tidak Anda mengerti."

Dalam surat tahunan kepada pemegang saham Berkshire Hathaway pada tahun 1996, Buffett menjelaskan pentingnya konsep "lingkaran kompetensi", yaitu area yang benar-benar Anda kuasai dan pahami secara mendalam.

 

"Anda tidak perlu menjadi ahli dalam semua jenis bisnis, atau bahkan banyak sekaligus," kata Buffett.
"Yang penting adalah Anda bisa menilai bisnis yang ada dalam lingkaran kompetensi Anda. Ukurannya tidak terlalu penting—yang paling penting adalah Anda tahu batasan Anda," tambahnya.

 

Contohnya, Buffett pada awalnya enggan berinvestasi di saham teknologi karena merasa tidak cukup memahami karakteristik sektor tersebut.

 

Saat pertemuan tahunan pemegang saham Berkshire Hathaway di tahun 2019, ia menyarankan agar investor belajar sebanyak mungkin tentang berbagai jenis bisnis, lalu memilih yang benar-benar mereka kuasai. Menurutnya, hal itu saja sudah bisa membuat seorang investor lebih unggul dari kebanyakan investor lainnya.

 

Bagi Anda yang tengah menyusun portofolio, fokus pada hal yang telah Anda pahami sangatlah vital.

Dengan begitu, Anda akan mampu mengevaluasi sebuah perusahaan secara objektif dan memahami arti dari berbagai perubahan atau berita terkait seiring berjalannya waktu.

 

Sebaliknya, jika Anda membeli saham hanya karena mengikuti saran orang lain, maka Anda sepenuhnya bergantung pada penilaian mereka—yang belum tentu akurat atau andal.

 

2. Hindari Aktivitas Tak Perlu

“Yang membuat Anda dibayar bukan aktivitas, melainkan kebenaran keputusan Anda,” kata Buffett pada tahun 1998.

 

Bagi investor pemula, sering kali muncul dorongan untuk langsung bereaksi terhadap berita pasar atau perubahan nilai investasi. Sangat mudah panik saat harga saham turun drastis karena laporan keuangan atau kabar buruk lainnya.

 

Buffett menekankan pentingnya kesabaran. Jika Anda menanamkan modal pada saham yang Anda yakini akan tumbuh dalam jangka panjang, fluktuasi jangka pendek seharusnya tidak menggoyahkan Anda.

 

“Ketidakaktifan justru kami anggap sebagai sikap cerdas,” tulisnya dalam surat kepada pemegang saham pada tahun 1996.

 

Selama Anda hanya berinvestasi pada perusahaan yang memiliki pondasi kuat dan manajemen yang solid, maka tidak ada alasan untuk sering keluar-masuk pasar, kecuali kualitas tersebut berubah.

Saham dan pasar secara umum memiliki kecenderungan naik nilainya dari waktu ke waktu.

 

Jika Anda terlalu sering melakukan jual-beli, bisa saja Anda justru membeli saham pada harga yang lebih mahal, kehilangan potensi dividen, membayar biaya transaksi tambahan, atau kehilangan keuntungan jangka panjang.

 

3. Perlakukan Setiap Keputusan Investasi dengan Serius

Dalam pidato di USC Marshall School of Business tahun 1994, Charlie Munger, mitra Buffett di Berkshire Hathaway, menyampaikan bahwa Buffett percaya kebanyakan investor akan tampil lebih baik jika diberi “tiket berisi hanya 20 slot”—yang menggambarkan semua keputusan investasi yang boleh diambil sepanjang hidup.

 

Nasihat ini sejalan dengan prinsip-prinsip Buffett lainnya: disiplin, kesabaran, dan fokus.

Dengan batasan tersebut, investor dipaksa untuk lebih bijaksana, berpikir panjang, dan tidak sembarangan berinvestasi pada bisnis yang belum dipahami sepenuhnya.

Setiap keputusan harus dipertimbangkan secara serius, karena satu kesalahan berarti kehilangan kesempatan investasi lainnya di masa depan.

 

Pada tahun 1996, Buffett menyatakan bahwa tujuan seorang investor seharusnya hanya membeli saham dari perusahaan yang hampir pasti akan menghasilkan laba lebih besar dalam kurun waktu 5, 10, hingga 20 tahun ke depan.

 

Pendekatan disiplin dan penuh pertimbangan inilah yang mengantar Buffett menjadi salah satu orang terkaya di dunia—dan bisa menjadi panduan penting untuk membangun portofolio investasi Anda sendiri.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.