Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 25 May 2025 Waktu baca 5 menit
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman terkait perang dagang baru. Kali ini, Uni Eropa menjadi sasaran kebijakan tarif impor tinggi sebesar 50% yang direncanakan mulai diberlakukan pada 1 Juni 2025.
Selain itu, Trump juga mengarahkan ancaman kepada perusahaan teknologi Apple. Ia menyebut kemungkinan akan memberlakukan bea masuk sebesar 25% terhadap seluruh iPhone yang dibeli oleh konsumen di Amerika Serikat.
Rangkaian ancaman ini diumumkan melalui media sosial hanya beberapa saat setelah pemerintahan Trump menyetujui penangguhan tarif terhadap produk-produk asal China melalui sebuah perjanjian yang tercapai di Jenewa, Swiss.
Langkah Trump terhadap Uni Eropa didorong oleh pandangan Gedung Putih bahwa perundingan dengan blok tersebut berjalan lambat. Ancaman ini menjadi sinyal dimulainya kembali ketegangan dagang yang selama ini berlangsung secara sporadis dan berdampak pada stabilitas ekonomi global.
Sementara itu, tekanan terhadap Apple merupakan bagian dari strategi Trump untuk mendorong perusahaan-perusahaan besar agar memindahkan basis produksinya ke wilayah Amerika Serikat.
Sebagai catatan, saat ini Amerika Serikat tidak memproduksi ponsel pintar secara domestik. Padahal, warga negara AS membeli lebih dari 60 juta unit smartphone per tahun. Para analis menilai, jika Apple memindahkan produksinya ke dalam negeri, harga iPhone bisa melonjak ratusan dolar.
"Segala harapan terkait kesepakatan perdagangan hilang hanya dalam hitungan menit, bahkan detik," ujar Fawad Razaqzada, analis pasar dari City Index dan FOREX.com, dikutip dari Reuters pada Sabtu, 24 Mei 2025.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan kepada Fox News bahwa tarif 50% yang diusulkan atas barang-barang dari Uni Eropa bertujuan mendorong percepatan perundingan antara kedua pihak. Ia menambahkan bahwa negara-negara lain telah menunjukkan niat baik dalam bernegosiasi.
"Uni Eropa, yang pada dasarnya dibentuk untuk mengambil keuntungan dari Amerika Serikat dalam sektor PERDAGANGAN, sangat sulit diajak kerja sama," tulis Trump dalam unggahan di platform Truth Social miliknya. "Diskusi kita dengan mereka tidak akan menghasilkan apa pun!" lanjutnya.
Komisi Eropa memilih untuk tidak memberikan tanggapan langsung atas ancaman baru dari Trump. Mereka menyatakan akan menunggu percakapan telepon antara Kepala Perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic dan mitranya dari AS, Jamieson Greer, yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 23 Mei waktu setempat.
Delegasi dari 27 negara anggota Uni Eropa juga dijadwalkan bertemu di Brussels untuk membahas kebijakan perdagangan bersama.
Dalam pernyataannya kepada media di Den Haag, Perdana Menteri Belanda, Dick Schoof, menyatakan bahwa ia mendukung pendekatan Uni Eropa dalam berunding dengan Amerika Serikat. Ia meyakini bahwa pengumuman terbaru ini bisa dianggap sebagai bagian dari taktik negosiasi.
"Kami telah melihat sebelumnya bahwa tarif bisa berubah naik turun selama pembicaraan dengan AS," ujar Schoof.
Pada awal April, Gedung Putih mencabut sebagian besar tarif yang diberlakukan Trump terhadap hampir seluruh negara, setelah para investor bereaksi negatif dengan melepas aset-aset AS, termasuk obligasi pemerintah dan dolar.
Namun, tarif dasar sebesar 10% tetap diberlakukan untuk sebagian besar impor. Di sisi lain, tarif besar terhadap barang dari China yang sebelumnya mencapai 145% diturunkan menjadi 30%.
"Skenario dasar saya adalah bahwa kesepakatan masih mungkin tercapai, tetapi saya paling khawatir tentang negosiasi dengan Uni Eropa," kata Nathan Sheets, Kepala Ekonom Global di Citigroup, New York.
Pengenaan tarif sebesar 50% terhadap barang-barang dari Uni Eropa dapat menyebabkan lonjakan harga bagi konsumen Amerika atas berbagai produk, mulai dari mobil buatan Jerman hingga minyak zaitun asal Italia.
Tahun lalu, total ekspor Uni Eropa ke Amerika Serikat tercatat mencapai sekitar 500 miliar euro. Nilai ekspor terbesar berasal dari Jerman (161 miliar euro), disusul Irlandia (72 miliar euro), dan Italia (65 miliar euro).
Komoditas utama dalam ekspor tersebut meliputi produk farmasi, kendaraan dan suku cadangnya, bahan kimia, serta pesawat, menurut data dari Uni Eropa.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.