Bisnis | Ekonomi
Purbaya Yudhi Sadewa Tolak Pinjaman Rp514 Triliun dari IMF & Bank Dunia-Ini Alasan di Baliknya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 24 April 2023 Waktu baca 5 menit
Mayoritas lembaga internasional memperkirakan kinerja ekonomi Indonesia tahun ini akan melambat dibandingkan tahun lalu yang mencapai 5,3%. Namun beberapa lembaga dalam laporan terbarunya memberikan harapan kemungkinan perlambatan itu tidak sebesar yang diantisipasi sebelumnya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini antara 5% - 5,3%. Prospek itu ditopang oleh konsumsi masyarakat yang masih cukup kuat serta pertumbuhan konsumsi pemerintah yang kembali ke zona positif, didorong oleh belanja barang yang tumbuh kuat.
Meski demikian, dalam paparannya, Sri Mulyani juga memberikan catatan bahwa ada beberapa faktor penekan pertumbuhan, antara lain investasi bangunan yang masih tertahan meskipun investasi non-bangunan relatif stabil. Tren ekspor juga masih cenderung lambat, tetapi perlambatan impor akan lebih dalam.
"Dengan keyakinan konsumen yang masih baik, investasi, dan dari sisi pertumbuhan ekspor impor yang relatif stabil, kemudian neraca dagang juga masih surplus, kita lihat pertumbuhan ekonomi kita relatif stabil," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTA edisi Maret, Senin (17/4).
Sementara itu, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2023 akan mencapai 4,5%-5,3%, atau kemungkinan sekitar 5%. Pertumbuhan ini akan ditopang oleh naiknya permintaan domestik dan kinerja ekspor yang positif.
Bagaimana proyeksi sejumlah lembaga internasional? Berikut ini adalah rangkuman proyeksi dari katadata.co.id.
IMF telah meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dari 4,8% menjadi 5%. Diharapkan pemulihan cepat pada perekonomian Cina akan memberikan efek positif bagi Indonesia. Meski demikian, Indonesia tak dapat menghindari perlambatan pertumbuhan dari tahun lalu yang berhasil tumbuh hingga 5,3%. Perlambatan tersebut disebabkan oleh normalisasi harga komoditas akibat siklus pengetatan moneter yang memukul perekonomian dan permintaan global.
Namun, IMF melihat risiko perekonomian Indonesia saat ini cukup seimbang. Beberapa faktor positif bagi ekonomi Indonesia adalah pemulihan yang lebih cepat di Cina dan meredanya tekanan inflasi global, yang dapat memperkuat permintaan atas ekspor Indonesia.
Bank Dunia juga telah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi 4,9% dari laporan Januari sebesar 4,8%. Meskipun pertumbuhan akan melambat dari tahun lalu, lembaga tersebut melihat pertumbuhan di Indonesia dan negara Asia Pasifik lainnya masih akan didorong oleh permintaan domestik yang kuat. Konsumsi swasta menghadapi tantangan beban utang dan tekanan pasar uang akibat lingkungan suku bunga global yang tinggi.
Pengetatan kebijakan moneter global juga akan membebani investasi, ditambah dengan ketidakpastian lingkungan eksternal yang masih tinggi. Kontribusi ekspor ke pertumbuhan juga kemungkinan menurun karena moderasi harga komoditas di tengah pelemahan permintaan.
Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan mencapai 4,8%, tak berubah dari perkiraan Desember. Pertumbuhan akan didukung oleh konsumsi domestik yang semakin normal dan penurunan tekanan inflasi. Meskipun demikian, tekanan ekonomi global di tahun 2023 akan memukul permintaan ekspor sehingga pertumbuhannya tidak setinggi tahun lalu. Investasi juga kemungkinan belum menguat karena dunia usaha masih terus melakukan penilaian terhadap kondisi terkini.
Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sebesar 4,7%, tak berubah dari laporan November. OECD melihat prospek ekonomi negara emerging Asia, termasuk Indonesia, cenderung tidak terlalu terpengaruh oleh perlambatan ekonomi dunia. Hal ini dibantu oleh pemulihan di Cina dan tekanan inflasi yang lebih moderat.
Kantor Riset Makro Ekonomi ASEAN+3 atau AMRO memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih kuat dengan kemungkinan tumbuh sebesar 5%. Kinerja ini didukung oleh permintaan domestik yang resilien sekalipun prospek global melambat. Inflasi Indonesia juga dinilai relatif terjaga dibandingkan dengan negara lain, bahkan mulai termoderasi belakangan ini.
Prospek jangka pendek Indonesia terbelenggu oleh risiko perlambatan global dan potensi resesi pada beberapa mitra dagang utama. Selain itu, krisis energi dunia yang semakin meruncing mampu memperburuk inflasi, dan pengetatan moneter di Amerika Serikat pun berpotensi berkelanjutan. Meskipun begitu, terdapat harapan bahwa pelonggaran kebijakan nol Covid-19 di Cina akan memberikan manfaat bagi Indonesia, terutama terhadap sektor pariwisata.
Sumber: Katadata.co.id
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar teknologi aset digital dan investasi aset digital
|
DISCLAIMER Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi. |
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.