Selat Hormuz Ditutup! 1 Miliar Barel Minyak Terancam Hilang-Dampaknya ke Dunia?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 22 April 2026 Waktu baca 5 menit

Pasar minyak global diperkirakan telah kehilangan sedikitnya 1 miliar barel akibat konflik yang terjadi di Iran. CEO Vitol, Russell Hardy, menyampaikan bahwa bukan hanya minyak mentah yang terdampak, tetapi juga produk turunannya akibat konflik di kawasan Timur Tengah yang masih berlanjut.

 

Pemimpin Vitol sejak 2018 tersebut menjelaskan bahwa serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk serta penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan hilangnya sekitar 12 juta barel produksi minyak per hari sejak Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari.

 

“Secara kasar, angka 1 miliar barel kini sudah tercapai karena kita mungkin telah kehilangan sekitar 600 juta hingga 700 juta barel sejauh ini. Namun, ketika situasi mulai pulih, proses untuk mengembalikan seluruh infrastruktur yang terdampak akan membutuhkan waktu,” ujar Hardy dalam FT Commodities Global Summit di Lausanne.

 

Ia menilai konflik ini merupakan gangguan terbesar terhadap pasar energi sepanjang hampir 40 tahun kariernya, bahkan lebih parah dibandingkan perang Irak dan Kuwait pada 1990.

 

“Seluruh kapasitas cadangan saat ini berada di balik Selat Hormuz, sehingga dampaknya sangat langsung terasa,” jelasnya.

 

Para pelaku perdagangan komoditas juga terus mengingatkan bahwa dampak penutupan Selat Hormuz belum akan segera berakhir, meskipun Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan dalam waktu dekat.

 

Pelaku pasar juga memperingatkan potensi terjadinya krisis pangan global akibat berkurangnya pasokan pupuk yang dipicu oleh hilangnya pasokan gas dari Timur Tengah. Selain itu, perlambatan produksi tembaga akibat terbatasnya pasokan asam sulfat dari kawasan Teluk serta meningkatnya risiko kekurangan energi menjadi ancaman tambahan selama selat tersebut masih ditutup.

 

Kehilangan 1 miliar barel ini setara dengan sekitar 10 hari konsumsi minyak dunia dan lebih dari dua kali lipat volume yang pernah dilepas dari cadangan strategis untuk menstabilkan pasokan energi.

 

Pernyataan serupa juga disampaikan CEO Gunvor, Gary Pedersen, yang menilai penutupan Selat Hormuz akan membawa dampak serius jika terus berlanjut.

 

“Ketika pasokan energi sebesar itu terhenti dalam rantai distribusi selama periode yang panjang, dampaknya akan sangat nyata,” ujarnya.

 

Frederic Lassere, kepala riset Gunvor, memperkirakan konflik ini dapat memicu resesi global apabila Selat Hormuz tidak kembali dibuka hingga akhir Juli.

 

“Jika dalam tiga bulan ke depan tidak ada pembukaan kembali, maka ini akan menjadi masalah makro yang dapat mendorong dunia ke dalam resesi,” katanya.

 

Sementara itu, CEO Trafigura, Richard Holtum, berpendapat bahwa meskipun harga akan meningkat dan menekan ekonomi, negara-negara maju kemungkinan masih dapat menghindari kekurangan pasokan fisik.

 

Ia membandingkan situasi ini dengan krisis gas di Eropa setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, di mana Eropa kehilangan sepertiga pasokan gasnya namun tidak mengalami pemadaman listrik.

 

“Harga memang melonjak, tetapi tidak terjadi kekurangan pasokan. Hal serupa kemungkinan akan terjadi saat ini. Negara-negara kaya akan melindungi konsumennya, sementara negara yang kurang mampu akan terdampak oleh penurunan permintaan,” jelasnya.

 

Para pedagang dan analis tetap meragukan kemampuan Amerika Serikat untuk segera mencapai kesepakatan dengan Iran yang dapat membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu singkat.

 

Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets, menyebut bahwa pasar saham Amerika Serikat masih berada dekat level tertinggi karena sebagian pelaku pasar terlalu optimistis terhadap penyelesaian konflik yang cepat.

 

“Saya melihat ada anggapan bahwa Presiden Donald Trump dapat menyelesaikan persoalan ini dengan cepat dari Gedung Putih,” ujarnya.

 

“Banyak yang mengatakan ia bisa mundur, tetapi pada akhirnya dibutuhkan dua pihak untuk mencapai kesepakatan,” tambahnya.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.