Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 10 July 2025 Waktu baca 5 menit
Ketidakstabilan ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir—mulai dari pandemi Covid-19, ketegangan geopolitik, gangguan rantai pasokan, hingga kebijakan suku bunga The Fed serta konflik dagang—telah memberi dampak signifikan terhadap pasar finansial, termasuk di Indonesia. Di tengah ketidakpastian tersebut, muncul pertanyaan: apakah strategi investasi jangka panjang masih tetap relevan dan efektif?
PT BNI Sekuritas menanggapi bahwa strategi investasi jangka panjang justru tetap menjadi pilihan yang tepat dan efisien dalam kondisi saat ini.
Pendekatan ini mengandalkan konsistensi, kedisiplinan, serta pemahaman mendalam terhadap fundamental perusahaan. Menurut BNI Sekuritas, strategi ini sangat cocok diterapkan oleh investor ritel yang memiliki tujuan pertumbuhan portofolio secara berkesinambungan.
Meskipun demikian, BNI Sekuritas mengakui bahwa ada pula sebagian nasabah yang lebih memilih menjadi trader aktif. Menurut mereka, tidak ada yang salah dengan pilihan tersebut karena pada dasarnya semua pelaku pasar ingin memperoleh keuntungan.
“Ketika pasar sedang fluktuatif, wajar jika muncul keraguan seperti ‘Apakah saya berinvestasi di saat yang tepat?’ atau ‘Perlukah saya keluar sebelum koreksi semakin dalam?’ Namun jika menilik sejarah, walau pasar mengalami tekanan dalam masa krisis, umumnya pasar akan pulih seiring waktu,” ujar Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, dalam pernyataan resmi pada Senin (7/7).
Fanny memberikan beberapa contoh historis. Pada saat krisis keuangan global 2008, IHSG anjlok hingga 58% dari puncaknya, namun berhasil rebound sebesar 77% dalam waktu 6 bulan dan naik 113% dalam 12 bulan setelah mencapai titik terendah.
Selanjutnya, pada masa taper tantrum 2013, indeks mengalami penurunan 24% dari puncak tertingginya, namun berhasil naik kembali 16% dalam 6 bulan dan 31% dalam setahun.
Pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020, IHSG turun 33%, tetapi pulih 24% dalam enam bulan dan meningkat 59% dalam dua belas bulan setelah menyentuh titik terendah.
“Bagi mereka yang ingin menjadi investor jangka panjang, yang terpenting adalah konsistensi dalam berinvestasi, memahami kondisi fundamental emiten, serta tidak mudah terpengaruh oleh pergerakan pasar jangka pendek,” tegas Fanny.
Fanny menjelaskan beberapa alasan mengapa strategi jangka panjang masih patut dijalankan. Pertama, fundamental perusahaan merupakan pondasi utama, meskipun sentimen pasar tetap perlu diperhatikan.
“Harga saham dalam jangka pendek sangat dipengaruhi oleh sentimen makroekonomi, tingkat suku bunga, dan situasi geopolitik. Namun dalam jangka panjang, performa saham ditentukan oleh kualitas bisnis perusahaan itu sendiri,” jelasnya.
Oleh sebab itu, investor perlu memahami indikator fundamental seperti pertumbuhan laba, efisiensi operasional, potensi pertumbuhan bisnis inti, serta daya saing terhadap perusahaan sejenis.
Kedua, konsistensi dan diversifikasi adalah kunci dalam mengelola risiko. Strategi seperti dollar-cost averaging dapat membantu investor tetap berinvestasi secara rutin tanpa harus menunggu waktu yang sempurna. Strategi ini juga membantu menghindari pembelian di harga puncak dan menjaga kesinambungan akumulasi portofolio bahkan saat pasar sedang melemah.
Selain itu, penting juga untuk melakukan diversifikasi ke berbagai sektor atau instrumen keuangan. “Mengombinasikan saham dari sektor defensif seperti konsumer dengan sektor siklikal seperti energi dan komoditas bisa mengurangi risiko akibat fluktuasi global yang besar,” tambahnya.
Ketiga, ketidakpastian sering kali membuka celah untuk menemukan saham berkualitas dengan valuasi yang lebih murah. Investor berorientasi jangka panjang dapat menjadikan masa-masa seperti ini sebagai momentum awal untuk pertumbuhan portofolio.
“Dalam iklim global yang penuh ketidakpastian, strategi jangka panjang tetap menjadi andalan. Dengan pemahaman yang kuat atas fundamental, disiplin dalam eksekusi, dan kemampuan membaca kondisi pasar secara bijak, investor dapat membangun portofolio yang tumbuh berkelanjutan. Dalam dunia investasi, keberhasilan bukan tentang menemukan waktu terbaik untuk masuk, tapi seberapa lama dan konsisten Anda bertahan di pasar,” tutup Fanny.
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.