Bisnis | Ekonomi
Rupiah Offshore Nyaris Rp17.900/US$! Kenapa Pergerakannya Jadi yang Paling 'Liar' di Asia?
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 28 May 2026 Waktu baca 5 menit
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku heran sekaligus tertekan melihat pelemahan rupiah yang cukup tajam. Menurutnya, kurs dolar AS yang hampir mencapai Rp17.800 terasa tidak rasional. Hal tersebut karena kondisi fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih solid.
“Padahal kondisi ekonomi kita baik, pelemahan ini terjadi saat fundamental ekonomi justru kuat. Sebenarnya ini tidak masuk akal. Biasanya nilai tukar melemah ketika ada masalah pada fundamental ekonomi,” ujar Purbaya saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta Selatan, Rabu lalu.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan pemerintah melakukan stress test ulang terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat tekanan nilai tukar, Purbaya menegaskan hal itu belum diperlukan. Ia menjelaskan bahwa pemerintah sebelumnya sudah menghitung berbagai simulasi, termasuk skenario harga minyak dunia mencapai US$100 per barel beserta asumsi nilai tukar rupiah. Ia bahkan berseloroh bahwa justru dirinya yang mengalami stres.
“Yang stres itu saya. Tidak perlu stress test lagi, karena simulasi saat harga minyak US$100 per barel sudah memasukkan asumsi kurs rupiah juga. Jadi tidak ada persoalan dan APBN tidak perlu dihitung ulang,” jelas Purbaya.
Meski rupiah melemah, Purbaya mengatakan yield obligasi Indonesia justru mengalami penurunan. Kondisi ini dipengaruhi oleh langkah intervensi pemerintah di pasar Surat Berharga Negara (SBN) melalui treasury operation untuk menjaga kestabilan nilai tukar.
“Walaupun rupiah melemah, yield obligasi justru turun. Itu karena langkah pemerintah dan teman-teman di Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang melakukan pembelian agar yield tetap terkendali,” kata Purbaya.
Ia menambahkan, selama pasar obligasi domestik tetap stabil, minat investor asing untuk masuk ke Indonesia masih akan terjaga. Pemerintah pun disebut akan kembali mengambil langkah lanjutan guna memperkuat rupiah.
“Selama pasar obligasi tetap terkendali, investor asing akan tetap tertarik berinvestasi dan pasar obligasi kita juga akan tetap aman. Saat ini kami sudah mulai melihat adanya arus modal asing yang masuk ke pasar obligasi. Ke depan, pemerintah juga akan menyiapkan langkah tambahan yang dampaknya lebih signifikan untuk mendukung penguatan rupiah,” ungkapnya.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hampir mencapai level Rp17.800 per dolar. Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026), dolar AS tercatat menguat 0,29% atau naik 52 poin ke posisi Rp17.795.
Sumber: detik.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.