Bisnis | Ekonomi
Purbaya Yudhi Sadewa Tolak Pinjaman Rp514 Triliun dari IMF & Bank Dunia-Ini Alasan di Baliknya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 16 June 2023 Waktu baca 5 menit
Dalam 10 tahun mendatang, Indonesia diprediksi akan mengalami surplus pasokan gas bumi. Hal ini disebabkan oleh mulai beroperasinya Blok Masela yang memiliki potensi gas jumbo yang signifikan.
Rizal Fajar Muttaqien, Koordinator Penyiapan Program Migas, mengungkapkan bahwa berdasarkan Neraca Gas Indonesia (NGI) 2023-2032, kebutuhan gas nasional Indonesia hingga tahun 2032 dapat tercukupi melalui proyek-proyek gas dan potensi pasokan yang ada.
"Pada 10 tahun ke depan, Indonesia diperkirakan akan mengalami surplus gas di beberapa wilayah di tanah air. Peluang besar masih tersedia bagi kita untuk memproduksi LNG dengan jumlah yang signifikan hingga tahun 2035," ujar Rizal dalam pernyataan resmi pada Jumat (16/6).
Rizal juga menambahkan bahwa dalam beberapa tahun mendatang, akan ada pasokan Liquefied Natural Gas (LNG) dari proyek Bontang, Tangguh, dan Masela yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan domestik guna mendukung transisi energi.
Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Blok Masela adalah salah satu proyek skala besar yang akan menghasilkan total produksi kumulatif antara tahun 2027 hingga 2055. Produksi gasnya mencapai 16,38 triliun kaki kubik standar (gross) dan kondensat sebanyak 255,28 juta barel tangki minyak (MMSTB).
Total cadangan yang terbukti di wilayah kerja Blok Masela, yang berlokasi di Laut Arafura, mencapai 18,54 triliun kaki kubik standar (tscf), dengan investasi yang diperlukan sebesar USD 19,8 miliar.
Pabrik LNG proyek ini akan dibangun di darat, tepatnya di Pulau Yamdena, dengan kapasitas produksi gas sebesar 9,5 juta ton per tahun (MTPA) atau setara dengan 1.600 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD), serta pipa gas sebesar 150 MMSCFD dan kondensat sebesar 35.000 barel kondensat per hari (BCPD).
Rizal juga menegaskan bahwa sumber daya gas nasional cukup untuk beberapa dekade ke depan, mengingat pasokan gas bumi terus bertambah. Pemerintah akan memaksimalkan produksi dari lapangan gas konvensional dan nonkonvensional, serta melalui metode workover dan Enhanced Gas Recovery (EGR).
Saat ini, sebanyak 68 persen gas dikonsumsi oleh pasar domestik, dengan total gas yang disalurkan mencapai 5.474 miliar british thermal unit per hari (BBTUD).
Pada tahun 2022, gas bumi digunakan terutama untuk memenuhi kebutuhan industri sebesar 29,25 persen. Selain itu, gas juga dialokasikan untuk ekspor LNG sebesar 21,76 persen, pupuk sebesar 12,58 persen, ekspor non-LNG sebesar 10,97 persen, dan pembangkit listrik sebesar 11,33 persen.
Rizal menjelaskan bahwa pemerintah juga menggunakan gas untuk kebutuhan LNG domestik dan LPG masing-masing sebesar 8,94 persen dan 1,45 persen. Sisa konsumsi gas digunakan untuk gas kota dan sebagai bahan bakar transportasi dalam jumlah yang lebih kecil.
Rizal menyatakan bahwa pengembangan infrastruktur gas merupakan tantangan besar mengingat Indonesia adalah negara kepulauan, terutama di wilayah timur dengan pulau-pulau kecil dan terpencil.
Di wilayah barat, Indonesia telah memiliki pipa gas eksisting, fasilitas regasifikasi mini LNG, kilang LNG, dan FSRU (Floating Storage and Regasification Unit). Saat ini, pemerintah sedang membangun jaringan pipa transmisi gas bumi yang akan menghubungkan Pulau Jawa dan direncanakan untuk diperluas hingga mencakup Sumatera.
Sementara itu, di wilayah timur, pemerintah berencana membangun FSRU dan fasilitas mini regasifikasi LNG. Selain itu, pemerintah juga mendorong program gasifikasi pembangkit listrik dengan menggantikan pembangkit yang saat ini menggunakan bahan bakar minyak dengan gas.
Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik, terdapat 47 lokasi yang memerlukan pasokan LNG dengan total volume mencapai 282,93 miliar british thermal unit per hari (BBTUD). Dari 47 lokasi tersebut, 24 pembangkit sudah beroperasi, 3 pembangkit dalam proses pengadaan/konstruksi, dan 20 pembangkit dalam tahap perencanaan.
Sumber: Kumparan.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar teknologi aset digital dan investasi aset digital
|
DISCLAIMER Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi. |
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.