Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 06 March 2025 Waktu baca 5 menit
Kebijakan Tarif Trump Timbulkan Ketidakpastian, Pebisnis Bersiap Mitigasi Dampak
Langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang resmi memberlakukan tarif 25% terhadap Kanada dan Meksiko, serta tambahan 10% untuk China, menciptakan ketidakpastian bagi dunia usaha. Para pelaku bisnis kini mengambil langkah-langkah strategis guna mengurangi dampak kebijakan ini.
Dilansir dari Reuters, Selasa (4/3/2025), tarif baru ini mulai berlaku hari ini. Trump berdalih bahwa langkah tersebut diambil karena Meksiko dan Kanada gagal mengatasi arus imigrasi ilegal serta peredaran fentanyl ke AS. Sementara itu, tarif tambahan terhadap China disebut bertujuan untuk menyeimbangkan defisit perdagangan.
Penerapan tarif baru telah menjadi isu utama dalam dunia bisnis sepanjang tahun ini. Sejak awal 2025, lebih dari 750 perusahaan besar AS membahas dampak kebijakan tersebut dalam berbagai acara investor serta laporan pendapatan perusahaan.
Dalam beberapa minggu terakhir, sejumlah perusahaan bergegas memesan barang lebih awal guna menghindari dampak tarif. Namun, para eksekutif hingga kini masih menerapkan strategi wait and see dalam hal investasi dan pengeluaran, mengingat kebijakan tarif Trump yang kerap berubah sejak menjabat kembali.
Selain itu, Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif tambahan terhadap Uni Eropa serta menginvestigasi impor tembaga dan kayu, yang berpotensi menambah beban bagi para pelaku industri. Sejumlah negara pun telah bersiap untuk membalas kebijakan Trump dengan langkah serupa.
"Ketidakpastian masih terus berlanjut," ujar David Young, seorang eksekutif di Conference Board, kelompok bisnis global. "Ada banyak keputusan yang ditunda, bahkan beberapa investasi mengalami kelumpuhan."
Beberapa eksekutif perusahaan berusaha meyakinkan investor bahwa mereka dapat menekan atau mengalihkan biaya tambahan ini. Namun, sebagian lainnya menyatakan frustrasi terhadap perubahan kebijakan yang terus terjadi di Gedung Putih.
"Soal tarif ini, tebakan Anda mungkin sama bagusnya dengan tebakan saya. Semuanya berubah dari hari ke hari," ujar Hilton Schlosberg, CEO Monster Beverage, dalam konferensi investor pada 27 Februari lalu.
Ketidakpastian yang muncul akibat kebijakan tarif baru ini turut melemahkan kepercayaan bisnis dan konsumen dalam beberapa pekan terakhir. Padahal, optimisme sempat meningkat setelah kemenangan Trump dalam pemilu.
Indeks Manufaktur ISM, yang mengukur sentimen pelaku industri, menunjukkan lonjakan tajam dalam ekspektasi inflasi pada Februari, dengan banyak pemasok menyebut tarif sebagai faktor utama.
Kepercayaan konsumen AS juga turun ke level terendah dalam delapan bulan, dipicu oleh lonjakan ekspektasi inflasi. Sejumlah peritel besar seperti Walmart dan Lowe’s memperingatkan bahwa permintaan konsumen bisa melambat.
"Ketidakpastian ini yang membuat pelanggan cemas," kata Andrew Anagnost, CEO Autodesk, kepada para investor. "Kami ingin kebijakan yang lebih jelas. Ketidakpastian bukanlah sesuatu yang ingin dihadapi pelanggan kami."
Selama masa jabatan pertamanya, Trump menargetkan China, Kanada, dan Meksiko sebagai bagian dari upayanya menekan defisit perdagangan AS. Kali ini, selain tarif 25% terhadap Kanada dan Meksiko, Trump juga menerapkan tambahan 10% bagi produk China serta mengancam bea masuk bagi kapal buatan Beijing.
Setiap tahunnya, AS mengimpor barang senilai US$900 miliar (Rp14.805 triliun) dari Kanada dan Meksiko. Ketiga negara ini memiliki rantai pasok yang sangat terintegrasi, terutama di sektor otomotif, di mana suku cadang bisa melintasi perbatasan berkali-kali selama proses produksi.
Para penasihat Trump mengklaim bahwa kebijakan tarif bertujuan untuk membawa lebih banyak manufaktur ke AS guna mengurangi defisit perdagangan.
"Tarif memang bersifat inflasioner dan mungkin merugikan dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja di AS," ujar Justus Parmar, CEO Fortuna Investments.
Beberapa perusahaan, seperti Honda dan Pfizer, menyatakan bahwa mereka bisa memindahkan sebagian produksi ke AS, meskipun langkah ini akan meningkatkan biaya produksi. Namun, sebagian besar pelaku industri menilai strategi ini hanya solusi sementara.
"Itu hanya membuang-buang sumber daya," kata Pat D'Eramo, CEO Martinrea, pemasok otomotif asal Kanada. "Lebih baik kami fokus menekan biaya produksi agar lebih kompetitif."
Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.