Minyak Dunia Melejit! Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 30 March 2026 Waktu baca 5 menit

Harga minyak mentah global mengalami lonjakan pada perdagangan Senin (30/3/2026), didorong oleh konflik di Timur Tengah yang semakin meluas.

 

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik sebesar US$ 3,09 atau 2,74% menjadi US$ 115,66 per barel. Kenaikan ini melanjutkan tren penguatan pada Jumat sebelumnya yang ditutup melonjak 4,2%.

 

Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat juga meningkat ke level US$ 102,56 per barel atau naik US$ 2,92 (2,93%).

 

Sepanjang bulan ini, lonjakan harga tercatat sangat signifikan. Harga Brent telah meningkat hingga 59% hanya dalam waktu satu bulan, menjadikannya kenaikan bulanan tertinggi sepanjang sejarah, bahkan melampaui volatilitas saat Perang Teluk pada tahun 1990.

 

Kenaikan harga tersebut berkaitan erat dengan konflik Iran yang meluas hingga menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

 

Ketegangan semakin meningkat setelah kelompok Houthi dari Yaman meluncurkan serangan pertamanya ke Israel pada akhir pekan lalu, yang menandai eskalasi baru dalam konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

 

Serangan ini juga memicu kekhawatiran besar terkait keamanan jalur pelayaran di kawasan Semenanjung Arab dan Laut Merah.

 

“Konflik kini tidak hanya terfokus di Teluk Persia, tetapi telah meluas ke Laut Merah dan Bab el-Mandeb, yang merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia,” tulis analis JP Morgan, Natasha Kaneva.

 

Data dari perusahaan analitik Kpler menunjukkan bahwa Arab Saudi telah mengalihkan ekspor minyaknya dari Selat Hormuz ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah dengan volume mencapai 4,6 juta barel per hari. Namun, apabila jalur Yanbu turut terganggu akibat intensitas serangan yang meningkat, Arab Saudi harus mengalihkan pengiriman melalui jalur pipa di Mesir menuju Laut Mediterania (SUMED).

 

Meski terdapat upaya untuk mencapai gencatan senjata, serangan di kawasan tersebut justru meningkat pada akhir pekan lalu, bahkan menyebabkan kerusakan pada terminal Salalah di Oman.

 

Di sisi lain, Iran menyatakan siap melakukan pembalasan jika Amerika Serikat melancarkan serangan darat. Iran juga menuduh bahwa AS tengah mempersiapkan operasi darat, meskipun pihak AS menyatakan masih mengedepankan upaya negosiasi.

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.