Saham News
Breaking News: Harga Minyak Dunia Melonjak, IHSG Terkoreksi Lebih dari 1%
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 11 March 2026 Waktu baca 5 menit
Meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran menambah risiko gangguan terhadap jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu rute distribusi minyak paling vital di dunia. Meski demikian, China menjadi pengecualian dalam situasi ini.
Lonjakan ketegangan tersebut mendorong harga minyak global naik tajam dan bahkan sempat menembus ambang psikologis US$100 per barel. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi perekonomian negara-negara yang bergantung pada impor energi.
Namun berbeda dengan banyak negara lainnya, sejumlah analis menilai bahwa China memiliki potensi ketahanan yang relatif lebih kuat terhadap lonjakan harga minyak dibandingkan negara-negara Asia lainnya.
Berikut beberapa faktor yang dianggap membuat ekonomi China lebih siap menghadapi potensi guncangan harga minyak dunia.
Salah satu faktor utama yang membuat China lebih tangguh menghadapi volatilitas harga minyak adalah besarnya cadangan minyak strategis yang dimiliki negara tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China secara agresif membangun Strategic Petroleum Reserve (SPR) sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Cadangan ini berfungsi sebagai penyangga apabila terjadi lonjakan harga atau gangguan distribusi minyak global, sehingga China memiliki ruang fleksibilitas untuk menahan tekanan pasokan dalam jangka pendek tanpa harus segera meningkatkan impor ketika harga sedang tinggi.
China telah mengumpulkan salah satu cadangan minyak mentah strategis dan komersial terbesar di dunia dan diperkirakan memiliki sekitar 1,2 miliar barel cadangan minyak mentah di daratan hingga Januari 2025.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar tiga hingga empat bulan cadangan, yang dapat menunda dampak ekonomi apabila terjadi gangguan pasokan.
“Selama dua dekade terakhir, China telah berusaha mengurangi ketergantungannya terhadap jalur pengiriman minyak melalui laut,” ujar Rush Doshi, direktur China Strategy Initiative di Council on Foreign Relations, seperti dikutip dari CNBC International.
Ia menambahkan bahwa pembangunan jaringan pipa minyak darat baru serta diversifikasi menuju energi terbarukan membuat ketergantungan China pada Selat Hormuz kini hanya sekitar 40% hingga 50% dari impor minyak yang dikirim melalui jalur laut.
Selat Hormuz sendiri menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab serta jalur pelayaran global. Selat ini merupakan jalur sempit dengan Iran di sisi utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di sisi selatan.
Sekitar 31% aliran minyak dunia yang dikirim melalui jalur laut melewati Selat Hormuz tahun lalu, atau setara sekitar 13 juta barel per hari.
Namun demikian, pengiriman minyak melalui jalur tersebut hanya menyumbang sekitar 6,6% dari total konsumsi energi China, menurut Ting Lu, kepala ekonom China di Nomura.
Sementara itu, impor gas alam melalui jalur yang sama hanya mencakup sekitar 0,6% dari konsumsi energi China.
Perubahan tersebut mencerminkan dua dekade transformasi strategis dalam sistem energi China yang menjadikan negara tersebut memiliki posisi unik dalam pasar energi global.
Faktor lain yang memperkuat posisi China adalah percepatan proses transisi energi yang sedang berlangsung di negara tersebut.
Pada tahun 2030, China menargetkan porsi energi non-fosil mencapai 25% dari total konsumsi energi, meningkat dibandingkan 21,7% pada 2025.
China saat ini menjadi salah satu negara dengan investasi terbesar di sektor energi terbarukan, mulai dari tenaga surya, angin, hingga energi nuklir. Selain itu, penetrasi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di China juga berkembang sangat cepat.
Akibatnya, pertumbuhan konsumsi minyak di China tidak lagi secepat sebelumnya. Kondisi ini membuat ekonomi China relatif lebih tahan terhadap guncangan harga minyak global karena ketergantungan terhadap bahan bakar fosil semakin berkurang.
Sementara Amerika Serikat meningkatkan produksi minyak domestik selama satu dekade terakhir, China justru mempercepat diversifikasi sumber energinya.
Energi terbarukan—tidak termasuk tenaga nuklir dan hidro—menyumbang sekitar 1,2% dari total konsumsi energi China pada 2023, meningkat dari hanya sekitar 0,2% dua dekade sebelumnya, berdasarkan perhitungan CNBC dari data International Energy Agency (IEA).
Sebagai perbandingan, India dan Amerika Serikat mencatat porsi energi terbarukan yang jauh lebih kecil pada 2023, masing-masing sekitar 0,2%.
Angka tersebut memang masih relatif kecil saat ini. Namun meningkatnya porsi energi terbarukan dalam bauran energi China memiliki dampak penting secara global.
Dorongan besar China terhadap kendaraan listrik, terutama pada segmen truk, telah menggantikan permintaan minyak lebih dari 1 juta barel per hari, menurut laporan Rhodium Group pada Juli 2025.
Perusahaan riset tersebut memperkirakan jumlah tersebut akan bertambah sekitar 600.000 barel per hari dalam 12 bulan berikutnya.
Saat ini lebih dari separuh kendaraan penumpang baru yang dijual di China merupakan kendaraan energi baru (NEV) yang lebih mengandalkan baterai dibandingkan bensin.
“Dengan permintaan bahan bakar transportasi yang mulai menunjukkan tanda-tanda mencapai puncaknya dan kapasitas energi terbarukan yang berkembang pesat, sensitivitas China terhadap fluktuasi harga minyak terus menurun dari tahun ke tahun,” tulis analis OCBC.
Meningkatnya elektrifikasi transportasi serta ekspansi pembangkit listrik berbasis energi terbarukan dalam jangka panjang akan semakin melindungi ekonomi dari guncangan yang berkaitan dengan minyak.
Minyak dan gas alam saat ini hanya menyumbang sekitar 4% dari bauran pembangkit listrik China, jauh lebih rendah dibandingkan sekitar 40% hingga 50% yang umum terjadi di banyak negara Asia lainnya.
Energi terbarukan menyumbang sekitar 80% dari tambahan permintaan listrik baru di China pada tahun 2024.
Sebaliknya, listrik—yang sebagian besar dihasilkan dari batu bara dan semakin banyak dari energi terbarukan—kini mengambil porsi yang terus meningkat dalam total konsumsi energi China, menurut lembaga riset energi Ember.
Selain memperbesar cadangan dan mempercepat transisi energi, China juga memperluas sumber pasokan energinya.
Dalam beberapa tahun terakhir, China meningkatkan impor energi dari berbagai wilayah seperti Rusia, Afrika, hingga Amerika Latin. Diversifikasi ini membantu mengurangi ketergantungan terhadap satu kawasan pemasok tertentu.
Sanksi Amerika Serikat terhadap Iran juga membuat China menjadi salah satu dari sedikit negara yang tetap membeli minyak dari Iran.
Iran menyumbang sekitar 20% dari impor minyak China, meskipun sebagian besar volume tersebut sebenarnya dapat digantikan dengan peningkatan impor dari Rusia, kata Ano Kuhanathan, Head of Corporate Research di Allianz Trade.
Risiko yang lebih besar justru berasal dari sekitar 5 juta barel per hari minyak yang diimpor China dari negara-negara Timur Tengah lainnya melalui Selat Hormuz, ujar Kuhanathan.
| Peringkat | Negara | Nilai Ekspor (US$ miliar) | Pangsa dari Total (%) | Perkiraan Volume (Ribu Barel per Hari) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | China | 32.50 | 90.8 | 1,460 |
| 2 | Suriah | 1.18 | 3.3 | 53 |
| 3 | Uni Emirat Arab | 0.72 | 2.0 | 32 |
| 4 | Venezuela | 0.43 | 1.2 | 19 |
| 5 | Irak | 0.32 | 0.9 | 14 |
| 6 | Turki | 0.22 | 0.6 | 10 |
| 7 | Malaysia | 0.14 | 0.4 | 6 |
| 8 | Oman | 0.11 | 0.3 | 5 |
| 9 | Lebanon | 0.07 | 0.2 | 3 |
| 10 | Sri Lanka | 0.07 | 0.2 | 3 |
“Guncangan seperti perang Iran kemungkinan besar akan memperkuat arah kebijakan energi yang sudah dijalankan China, bukan mengubahnya,” ujar Muyi Yang, analis energi senior Asia di Ember.
“Situasi ini menyoroti risiko dari ketergantungan besar terhadap impor minyak dan gas. Oleh karena itu, transisi energi bukan hanya soal membangun lebih banyak pembangkit angin dan surya, tetapi juga mendekarbonisasi ekonomi secara keseluruhan,” tambahnya.
Namun perubahan tersebut tidak berlangsung mudah. Industri bahan bakar fosil di China didominasi oleh perusahaan milik negara yang biasanya bergerak lebih lambat dibandingkan perusahaan swasta.
China juga kemungkinan akan terus menambah cadangan minyak mentahnya.
U.S. Energy Information Administration (EIA) pada Februari menyatakan bahwa China diperkirakan akan menambah cadangan strategis sekitar 1 juta barel per hari pada 2026.
Impor minyak mentah China sempat turun hampir 2% pada 2024 menurut Wind Information. Namun ketika ketegangan di Timur Tengah mulai meningkat tahun lalu, impor minyak China justru naik 4,6% hingga mencapai rekor sekitar 580 juta metrik ton.
“China memang memiliki eksposur terhadap risiko ini, tetapi pada saat yang sama juga memiliki fleksibilitas yang lebih besar,” kata Go Katayama, principal insight analyst di Kpler.
| Negara Pemasok | Porsi dalam Impor China |
|---|---|
| Rusia | terbesar |
| Arab Saudi | besar |
| Malaysia (transit minyak sanksi) | signifikan |
| Irak | besar |
| Brasil | besar |
Dengan kombinasi cadangan strategis yang besar, percepatan transisi energi, serta sumber pasokan yang semakin beragam, China dinilai berada dalam posisi yang relatif lebih kuat untuk menghadapi potensi guncangan pasar minyak global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.