Berita Terkini
Timur Tengah Memanas! NATO Bereaksi atas Rencana Blokade Hormuz oleh AS-Apa Dampaknya ke Dunia?
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 27 March 2026 Waktu baca 5 menit
Sebuah kapal tanker asal Malaysia telah memperoleh izin dari pemerintah Iran untuk melintasi Selat Hormuz, sebagaimana disampaikan oleh Perdana Menteri Anwar Ibrahim.
“Kami saat ini sedang dalam proses membebaskan kapal tanker minyak Malaysia beserta awaknya agar dapat melanjutkan perjalanan kembali ke tanah air,” ujar Anwar dalam pidato khusus yang disiarkan secara langsung di televisi nasional pada Kamis (26/03), seperti dilaporkan oleh kantor berita Bernama.
Dalam kesempatan tersebut, Anwar juga mengucapkan terima kasih kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, atas izin yang diberikan kepada kapal tanker Malaysia untuk melintasi jalur tersebut.
Ia menambahkan bahwa blokade di Selat Hormuz serta gangguan terhadap pasokan minyak dan gas dunia berpotensi berdampak pada Malaysia. Namun demikian, ia menilai kondisi Malaysia relatif lebih stabil berkat kemampuan perusahaan energi nasional Petronas dalam menjaga pasokan dan stabilitas energi.
Selain kapal Malaysia, kapal tanker asal Thailand juga berhasil melewati Selat Hormuz dengan aman. Keberhasilan ini dicapai setelah adanya koordinasi diplomatik antara pemerintah Thailand dan Iran, menurut Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow.
Sihasak menjelaskan bahwa kapal milik Bangchak Corporation tersebut melintasi selat pada Senin (23/03), setelah ia melakukan pembicaraan dengan Duta Besar Iran untuk Thailand, Nasereddin Heydari.
Ia mengatakan telah meminta bantuan agar kapal-kapal Thailand yang harus melewati selat dapat dijamin keselamatannya. Permintaan tersebut disambut positif oleh pihak Iran yang kemudian meminta daftar kapal yang akan melintas.
Keberhasilan pelayaran aman kapal Thailand ini terjadi dua minggu setelah kapal berbendera Thailand, Mayuree Naree, terkena serangan proyektil di wilayah tersebut.
Terkait izin pelayaran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup. Ia menyebut banyak negara dan pemilik kapal telah menghubungi Iran untuk meminta jaminan keamanan pelayaran mereka.
Menurutnya, untuk negara-negara yang dianggap bersahabat atau dalam kondisi tertentu, militer Iran telah memberikan pengawalan guna memastikan keamanan pelayaran. Ia menyebut beberapa negara seperti China, Rusia, Pakistan, Irak, dan India telah melakukan koordinasi dan mendapatkan akses, termasuk kapal-kapal India yang baru-baru ini melintas.
Data dari Kpler menunjukkan hanya 99 kapal yang melewati selat tersebut sepanjang bulan ini, atau rata-rata lima hingga enam kapal per hari. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan sebelum perang, ketika sekitar 138 kapal melintas setiap hari menurut Joint Maritime Information Centre. Jalur ini biasanya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Analisis BBC menunjukkan sekitar sepertiga pelayaran terbaru di Selat Hormuz dilakukan oleh kapal yang terkait dengan Iran, termasuk 14 kapal berbendera Iran dan sejumlah kapal lain yang dikenai sanksi karena diduga terkait perdagangan minyak Teheran. Selain itu, sembilan kapal dimiliki perusahaan berbasis di China dan enam kapal menuju India.
Beberapa kapal yang berhasil melintas juga memilih rute yang lebih panjang dari biasanya. Data pelacakan menunjukkan kapal tanker berbendera Pakistan berlayar lebih dekat ke pantai Iran pada 15 Maret, alih-alih melalui jalur utama di tengah selat.
Araghchi juga menegaskan bahwa kapal yang berafiliasi dengan negara musuh atau pihak yang terlibat dalam konflik tidak akan diizinkan melintas. Ia menyebut kapal dari Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara Teluk tidak akan diberikan izin.
“Kami berada dalam situasi perang. Kawasan ini merupakan zona konflik, sehingga tidak ada alasan bagi kapal milik musuh dan sekutunya untuk melintas. Namun, selat tetap terbuka bagi pihak lain,” ujarnya pada Rabu (25/03).
Pernyataan tersebut sejalan dengan unggahan perwakilan Iran di PBB yang menyebut bahwa kapal non-musuh tetap dapat melintasi Selat Hormuz selama berkoordinasi dengan otoritas Iran.
Sejak awal bulan ini, kapal dari China, India, dan Pakistan tercatat berhasil melintasi selat. Kapal-kapal tersebut kini cenderung memilih jalur lebih ke utara melalui perairan Iran di sekitar Pulau Larak agar dapat diawasi oleh otoritas setempat.
Sementara itu, hingga 26 Maret 2026, dua kapal tanker milik Indonesia, yaitu PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih tertahan di Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.
Data MarineTraffic menunjukkan Pertamina Pride berada di utara Kota Dammam, Arab Saudi, sedangkan Gamsunoro berada di perairan dekat Kuwait dan Irak.
Menurut Pertamina International Shipping, Pertamina Pride membawa muatan untuk kebutuhan energi nasional, sementara Gamsunoro mengangkut kargo milik pihak ketiga.
Perwakilan perusahaan, Vega Pita, menyatakan bahwa keselamatan kru dan muatan menjadi prioritas utama, serta menegaskan bahwa kondisi ini tidak mengganggu pasokan energi dalam negeri mengingat Pertamina Group mengoperasikan ratusan kapal.
Kementerian Luar Negeri Indonesia saat ini masih berkomunikasi dengan otoritas Iran agar kedua kapal tersebut dapat segera memperoleh izin melintas.
Sumber: bbc.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.