Harga Minyak Melonjak ke Rekor 3 Tahun Tertinggi di $105 - Ancaman Nyata bagi Bitcoin dan Pasar Kripto?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 31 March 2026 Waktu baca 5 menit

Harga minyak mentah dunia kembali membuat pasar berdenyut lebih kencang. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, harga minyak menembus level $105 per barel sebuah angka yang tidak hanya mencerminkan tekanan pasokan, tetapi juga membawa serta kekhawatiran yang jauh lebih luas. Di balik lonjakan itu berdiri dua kekuatan yang sudah sangat dikenal: eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan pasokan global yang mempersempit distribusi energi hingga ke titik yang mulai memantik kekhawatiran inflasi di berbagai penjuru dunia.

 

Tekanan itu terasa merata pada dua tolok ukur utama pasar minyak global. Brent Crude Oil dan West Texas Intermediate (WTI) sama-sama mencatat kenaikan tajam, masing-masing mencerminkan tekanan pasokan yang berlangsung di level global maupun domestik. Para analis menilai kondisi ini bukan sekadar lonjakan sementara ia berpotensi mempertebal lapisan ketidakpastian ekonomi global yang memang sudah tidak tipis, terutama di tengah kebijakan suku bunga tinggi yang masih dipertahankan bank-bank sentral besar di seluruh dunia.

 

Dampaknya tidak berhenti di pompa bensin atau laporan keuangan perusahaan energi. Pasar keuangan global mulai bereaksi dengan cara yang sudah sangat familiar: bergeser ke mode defensif. Aset-aset berisiko tinggi  termasuk Bitcoin mulai menghadapi tekanan jual, seiring investor yang memilih untuk memindahkan dana mereka ke tempat yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS dan obligasi pemerintah. Ini mempertegas sesuatu yang sering terlupakan dalam diskusi kripto: pergerakan Bitcoin tidak hidup dalam ruang hampa. Ia sangat bergantung pada aliran likuiditas global, dan ketika likuiditas itu tersedot oleh ketakutan terhadap energi dan inflasi, kripto ikut merasakan dinginnya.

 

Di sinilah rantai sebab-akibatnya menjadi semakin panjang dan semakin berat. Harga minyak yang tinggi adalah bahan bakar inflasi. Inflasi yang membandel adalah alasan bagi bank sentral termasuk Federal Reserve untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga lebih lama dari yang diinginkan pasar. Dan suku bunga yang tinggi berarti likuiditas yang semakin ketat, persis di titik di mana aset digital paling membutuhkannya untuk tumbuh. Lingkaran itu bukan kebetulan ia adalah mekanisme makro yang sudah berulang kali terbukti, dan saat ini sedang berputar kembali dengan intensitas yang patut dicermati.

 

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.