Ekonomi RI Tak Capai Target? Pertumbuhan Diprediksi di Bawah 5,5%

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 27 March 2026 Waktu baca 5 menit

Momentum Hari Raya Lebaran 2026 dipandang sebagai faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional selama kuartal pertama tahun 2026. Pemerintah meyakini bahwa peningkatan konsumsi rumah tangga serta aktivitas mudik dapat mengangkat pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga mencapai 5,5% atau bahkan lebih tinggi.

 

Namun demikian, Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad menilai bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 kemungkinan tidak akan mencapai target pemerintah, melainkan hanya sekitar 5,4% atau sedikit di bawah target tersebut.

 

Perkiraan ini didasarkan pada kondisi perayaan Lebaran tahun ini yang dinilai tidak seramai tahun-tahun sebelumnya, sehingga dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi lebih terbatas.

 

“Menurut saya, pertumbuhan ekonomi kuartal I paling tinggi hanya sekitar 5,4%. Memang ada dorongan dari momentum Lebaran dan puasa. Namun jika melihat fenomena belakangan ini, terjadi sedikit penurunan, khususnya pada perayaan Lebaran dibandingkan tahun lalu,” ujar Tauhid kepada detikcom, Rabu (25/3/2026).

 

Ia menambahkan bahwa konsumsi yang diharapkan meningkat ternyata tidak tumbuh sebesar yang diperkirakan, sehingga dorongan terhadap ekonomi menjadi lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Secara rinci, Tauhid menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi hingga 5,4% masih didukung oleh belanja pemerintah yang cukup ekspansif, terutama melalui program prioritas dan bantuan sosial yang mampu menjaga daya beli masyarakat.

 

“Pendorong utama pertumbuhan sekitar 5,4% adalah ekspansi fiskal yang masih berjalan, seperti bantuan sosial, MBG, dan program lainnya untuk menjaga daya beli masyarakat,” jelasnya.

 

Di sisi lain, terdapat hambatan berupa dampak bencana di Sumatera pada akhir 2025 yang masih terasa hingga kuartal II-2026. Pada awal tahun ini, aktivitas ekonomi di wilayah terdampak masih dalam tahap pemulihan, sehingga belum kembali normal dan turut memengaruhi rata-rata pertumbuhan nasional.

 

“Tiga provinsi tersebut memang berpengaruh, meskipun tidak sebesar jika terjadi di Jawa. Namun tetap memberikan dampak yang membuat pertumbuhan ekonomi tidak mencapai 5,5% ke atas,” kata Tauhid.

 

Ia juga memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi di Aceh akan menjadi yang terendah karena wilayah tersebut mengalami dampak paling parah dibandingkan daerah lainnya.

 

Selain itu, inflasi yang relatif tinggi turut menahan konsumsi masyarakat selama periode puasa dan Lebaran, sehingga dorongan ekonomi dari momentum tersebut tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya.

 

“Faktor yang membuat pertumbuhan tidak setinggi target pemerintah adalah konsumsi yang sedikit tertahan akibat inflasi tinggi, terutama karena kenaikan harga kebutuhan pokok menjelang puasa dan Lebaran,” tegasnya.

 

Sementara itu, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 hanya sekitar 5,05%, jauh di bawah target pemerintah. Hal ini disebabkan oleh perayaan Lebaran yang tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya.

 

“Idealnya bisa lebih dari 5,05%, tetapi ada sejumlah tantangan yang menahan konsumsi rumah tangga. Salah satunya, banyak masyarakat memilih menyimpan THR daripada membelanjakannya karena kekhawatiran terhadap kenaikan harga energi dan pangan setelah Lebaran,” ujarnya.

 

Selain itu, terbatasnya penciptaan lapangan kerja di kota juga terlihat dari arus balik yang tidak seramai biasanya. Ditambah lagi, inflasi yang cukup tinggi pada awal tahun turut menekan konsumsi masyarakat sehingga tidak mencapai target.

 

“Arus balik belum optimal karena peluang kerja di kota terbatas. Biasanya pencari kerja ikut kembali ke kota. Pengendalian inflasi sebelum dan sesudah mudik perlu dilakukan agar THR dapat dibelanjakan lebih optimal. Selain itu, penciptaan lapangan kerja sangat mendesak agar jumlah pemudik meningkat baik dari sisi kuantitas maupun kualitas,” jelas Bhima.

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.