Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 26 April 2025 Waktu baca 5 menit
China dilaporkan mulai memberikan tekanan terhadap perusahaan-perusahaan Korea Selatan terkait ekspor produk ke Amerika Serikat yang mengandung logam penting asal China, menurut pemberitaan media Korea.
Menurut laporan The Korean Economic Daily pada Selasa, 22 April 2025, pemerintah China telah memerintahkan sedikitnya dua perusahaan Korea Selatan produsen transformator untuk menghentikan ekspor perangkat listrik ke militer AS atau kontraktor mereka jika perangkat tersebut mengandung logam tanah jarang berat yang bersumber dari China.
Surat dari otoritas China memperingatkan bahwa jika instruksi ini tidak dipatuhi, perusahaan bersangkutan dapat dikenai tindakan hukum, termasuk sanksi.
Seorang pejabat pemerintah Korea Selatan, yang dikutip dalam laporan tersebut, menyebut bahwa peringatan serupa juga diterima oleh perusahaan-perusahaan Korea di sektor kendaraan listrik, layar digital, baterai, alat kesehatan, hingga industri dirgantara.
Han Ah-reum, peneliti dari Asosiasi Perdagangan Internasional Korea, mengatakan bahwa semakin banyak perusahaan Amerika yang menjadi sasaran pembatasan ekspor oleh China, seiring dengan kebijakan tarif balasan terhadap bea masuk dari AS, dan hal ini bisa berdampak besar terhadap raksasa industri Korea yang berperan penting dalam ekspor negara itu.
Jika laporan ini benar, ini merupakan kali pertama China secara eksplisit menekan negara ketiga dalam konflik dagangnya dengan AS.
Seorang juru bicara Kementerian Perdagangan China menyampaikan bahwa barang-barang yang dimaksud termasuk kategori penggunaan ganda, dan bahwa kontrol ekspor terhadap jenis barang seperti itu merupakan praktik umum secara internasional.
Ia menambahkan bahwa langkah ini mencerminkan posisi konsisten China sebagai negara besar yang bertanggung jawab, yang bertujuan untuk menjaga perdamaian global dan stabilitas kawasan.
Sementara itu, hubungan antara Korea Selatan dan China juga sedang tegang, di tengah kekhawatiran Seoul terhadap pembangunan struktur China di Laut Kuning, yang diduga sebagai upaya memperluas klaim wilayah, meskipun Beijing bersikeras bahwa fasilitas tersebut untuk keperluan akuakultur.
Jika China—mitra dagang terbesar Korea Selatan—semakin memanfaatkan pengaruh ekonominya, maka hal ini berpotensi mengganggu ekonomi Korea Selatan yang sangat bergantung pada ekspor.
Di sisi lain, China juga tengah menggalang dukungan global untuk menentang kebijakan perdagangan proteksionis AS, dan berusaha membangun citra sebagai alternatif yang stabil dan bertanggung jawab dari Washington.
Baru-baru ini, Presiden Xi Jinping melakukan kunjungan ke Asia Tenggara untuk memperluas pengaruh China. Di waktu yang hampir bersamaan, media Jepang melaporkan bahwa PM Jepang Fumio Kishida menerima surat dari PM China Li Qiang yang mengajaknya berkoalisi melawan proteksionisme.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.