7 Sinyal Krisis Ekonomi RI Muncul, Waspadai Dampaknya Sekarang!

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 05 May 2025 Waktu baca 5 menit

illustrasi

1. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 tercatat sebesar 5,13% (year-on-year/yoy). Meski lebih tinggi dari prediksi sebelumnya, angka ini tetap menunjukkan adanya tekanan terhadap laju ekonomi, sebagian besar disebabkan oleh ketidakpastian global terutama akibat kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump. Konsensus pasar sebelumnya memperkirakan pertumbuhan hanya sekitar 4,94% yoy.

 

2. Perlambatan Konsumsi dan Belanja Pemerintah
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, memprediksi konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,9%, menandakan kehati-hatian masyarakat dalam pengeluaran. Belanja pemerintah pun menyusut menjadi 3,3% dari sebelumnya 4,3%, disebabkan pencairan anggaran yang lambat dan penyesuaian kebijakan. Investasi juga melemah dengan pertumbuhan hanya 1,7% dibandingkan 4,9% di kuartal IV-2024.

 

3. Kinerja Industri dan Dampak Perang Dagang
Indeks PMI manufaktur turun ke 46,7 pada April 2025, mengindikasikan kontraksi untuk pertama kalinya sejak November 2024. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pelemahan ini terjadi karena ketegangan dagang global. Pemerintah merespons dengan mendorong perjanjian dagang baru, seperti IEU-CEPA dan deregulasi untuk meningkatkan ekspor.

 

4. PHK di Industri Perhotelan
Industri perhotelan terkena dampak dari efisiensi anggaran pemerintah. Banyak hotel, terutama yang fokus pada kegiatan MICE, mengurangi tenaga kerja karena minimnya pesanan dari sektor publik. PHRI mencatat penurunan tajam dalam permintaan.

 

5. Masyarakat Memilih Menabung
Selama Ramadan dan menjelang Idul Fitri, tabungan perorangan justru meningkat hingga 6,4% yoy menurut data BI. Ini menandakan masyarakat memilih menyimpan uang dibandingkan belanja, di tengah daya beli yang stagnan. Pedagang seperti di Mangga Dua mengeluh omzet turun drastis, bahkan lebih parah dari masa pandemi.

 

6. Deflasi Awal Tahun
BPS mencatat deflasi 0,76% (Januari) dan 0,48% (Februari), kondisi yang jarang terjadi menjelang Ramadan. Meski tampak negatif, BPS menyebut deflasi ini lebih karena diskon listrik, bukan penurunan daya beli.

 

7. Penjualan Mobil Turun
Penjualan mobil nasional anjlok 5,12% secara tahunan pada Maret 2025. Pengamat menyebut hal ini sebagai refleksi tekanan ekonomi. Masyarakat menahan pembelian barang sekunder seperti mobil, dan fokus ke pengeluaran pokok serta tabungan.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.