Bahaya Tersembunyi Scan Iris Mata Usai World App Viral, Waspadai Efeknya!

Berita Terkini - Diposting pada 07 May 2025 Waktu baca 5 menit

Kemunculan World App yang bertujuan untuk membangun sistem identitas global berbasis data biometrik melalui pemindaian iris mata menuai berbagai kontroversi. Lalu, apakah pemindaian iris mata yang dilakukan oleh World App memiliki potensi bahaya?

 

Beberapa hari belakangan ini, aplikasi World App menjadi viral di media sosial dan menjadi topik hangat perbincangan warganet, karena dikabarkan memberikan imbalan sebesar Rp800 ribu bagi mereka yang mau data retinanya dipindai.

 

World, yang dioperasikan oleh Tools for Humanity (TFH), adalah sebuah organisasi yang berfokus pada pengembangan dan penerapan teknologi untuk mendukung identitas digital. TFH merupakan perusahaan teknologi asal Amerika Serikat yang didirikan oleh Sam Altman, yang juga dikenal sebagai CEO OpenAI dan pencipta ChatGPT, serta Alex Blania.

 

Salah satu teknologi yang digunakan oleh World adalah Orb, sistem enkripsi dan strategi keamanan data canggih.

 

Orb dilengkapi dengan kamera dan sensor mutakhir yang tidak hanya memindai iris mata, tetapi juga menghasilkan gambar beresolusi tinggi dari tubuh, wajah, dan mata pengguna, termasuk iris mata itu sendiri.

 

Selain itu, Orb juga mampu mendeteksi radar doppler tanpa kontak yang dapat memantau detak jantung, pernapasan, dan tanda-tanda vital lainnya.

 

Data biometrik yang terkumpul digunakan untuk menghasilkan "IrisHash," sebuah kode yang disimpan secara lokal di dalam Orb. World mengklaim bahwa kode ini tidak akan dibagikan, melainkan hanya digunakan untuk memeriksa apakah IrisHash tersebut sudah ada dalam database mereka.

 

Untuk proses tersebut, perusahaan menyatakan menggunakan metode kriptografi baru yang melindungi privasi, yang dikenal dengan bukti tanpa pengetahuan. Jika algoritma menemukan kecocokan, itu menandakan bahwa seseorang mungkin telah mencoba untuk mendaftar.

 

Lalu, apa sebenarnya bahaya yang mengintai jika seseorang memberikan data biometrik, termasuk iris mata?

 

Platform manajemen transaksi digital, TrustCloud, menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh World Coin dengan memberikan imbalan kepada orang yang mau melakukan pemindaian iris mata menyimpan banyak risiko, terutama yang berkaitan dengan privasi, keamanan, dan penggunaan data biometrik.

 

Menurut TrustCloud, data biometrik, seperti pemindaian iris mata, termasuk informasi yang sangat sensitif. Berbeda dengan data pribadi lainnya, seperti nama atau alamat, data biometrik adalah informasi yang unik dan tidak bisa diubah.

 

"Sekali data ini jatuh ke tangan yang salah, data biometrik bisa digunakan untuk menyamar sebagai seseorang, mengakses informasi rahasia, atau bahkan menyebabkan kerusakan fisik. Selain itu, data ini bisa dijual kepada perusahaan besar yang menggunakannya untuk iklan yang terpersonalisasi dan memengaruhi kebiasaan konsumen," ujar TrustCloud.

 

"Menyerahkan sidik jari atau pemindaian iris mata kita bisa diibaratkan seperti mengirimkan salinan dokumen identitas kita tanpa filter apapun," tambahnya.

 

Pencurian Identitas

TrustCloud juga mengingatkan bahwa data biometrik bersifat unik dan tak bisa diubah, yang menjadikannya target ideal bagi penjahat dunia maya. Jika data ini jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab, maka dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam kejahatan, antara lain:

  • Pencurian identitas keuangan: Dengan data biometrik tersebut, penjahat bisa mengakses rekening bank, kartu kredit, atau bahkan mengajukan pinjaman atas nama korban.

  • Penipuan pemilu: Data biometrik dapat disalahgunakan untuk memberikan suara secara ilegal dalam pemilu atau terlibat dalam kegiatan lainnya yang memerlukan verifikasi identitas.

  • Kejahatan fisik: Pencurian data biometrik wajah dapat membuka potensi kejahatan fisik, karena dapat memfasilitasi akses ke area terlarang atau bahkan membantu penjahat menyamar sebagai korban untuk melakukan tindakan kriminal.

 

Dugaan Eksploitasi Data

Pada tahun 2022, sebuah investigasi dari MIT Technology Review mengungkapkan bahwa operasi Worldcoin masih jauh dari tujuan mulianya, dengan mengumpulkan data biometrik sensitif dari kelompok-kelompok rentan dengan imbalan uang tunai.

 

Beberapa desa di Jawa Barat disebut-sebut sebagai lokasi pengumpulan data ini. Pengumpulan data tersebut bahkan dilakukan dengan kerjasama sejumlah aparatur desa.

 

Tools for Humanity baru secara resmi meluncurkan kehadirannya dan produk mereka di Indonesia pada Februari 2025 lalu. Artinya, platform ini sudah beroperasi beberapa tahun sebelum akhirnya melakukan ekspansi ke Indonesia.

 

World disebut-sebut menggunakan pendekatan yang berbeda di tiap negara dalam upayanya menarik pendaftar. Sebagai contoh, mereka memberikan giveaway AirPods kepada orang-orang di Sudan yang bersedia memindai retina mereka.

 

Namun, satu hal yang konsisten adalah target pasar mereka, yaitu kelompok-kelompok yang rentan.

 

Sumber: cnnindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.