Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Crypto News - Diposting pada 12 June 2025 Waktu baca 5 menit
Paris – Perusahaan kripto asal Prancis, The Blockchain Group, secara resmi mengumumkan komitmennya untuk mengakuisisi aset digital secara besar-besaran. Dalam strategi terbaru ini, perusahaan menyiapkan dana sebesar €300 juta atau sekitar Rp5,5 triliun, dengan fokus utama pada akumulasi Bitcoin (BTC) sebagai bagian dari strategi pengelolaan keuangan korporasi (treasury).
Sebagai entitas pertama di Eropa yang mendeklarasikan strategi treasury berbasis Bitcoin, The Blockchain Group telah mengantongi sekitar 1.471 BTC—senilai lebih dari US$154 juta. Salah satu pembelian signifikan terjadi pada pekan lalu senilai US$68 juta. Untuk memperkuat kepemilikan tersebut, perusahaan berencana menggalang dana tambahan secara bertahap melalui skema “At The Market” (ATM), sebuah pendekatan yang umum digunakan di pasar modal AS.
Berbeda dengan penggalangan dana tradisional, skema ATM memungkinkan perusahaan menjual saham sesuai harga pasar harian, sehingga dapat menghindari tekanan harga ekstrem pada Bitcoin. Pendekatan ini dinilai lebih stabil dan ramah pasar, terutama di tengah tingginya volatilitas aset kripto.
Langkah The Blockchain Group menjadi bagian dari tren global yang menunjukkan semakin banyaknya institusi besar yang menjadikan Bitcoin sebagai aset strategis. Perusahaan seperti MicroStrategy, di bawah kepemimpinan Michael Saylor, juga memperluas alokasi Bitcoin mereka dengan jumlah investasi yang mencapai ratusan juta dolar. Fenomena ini menandai pergeseran persepsi, di mana Bitcoin tak lagi dianggap sebagai aset spekulatif semata, melainkan sebagai penyimpan nilai jangka panjang yang sah.
1. Diversifikasi dan Stabilitas Portofolio
Melalui strategi treasury digital, The Blockchain Group menjadikan Bitcoin sebagai instrumen diversifikasi, sejajar dengan emas atau cadangan devisa. Pendekatan ini memungkinkan eksposur terhadap BTC tanpa menciptakan tekanan pasar jangka pendek.
2. Dampak Teknis terhadap Harga BTC
Penerapan skema ATM memberi efek stabilisasi, menghindari lonjakan harga yang merugikan pasar. Meski dilakukan bertahap, akumulasi ini tetap menciptakan tekanan beli jangka panjang terhadap Bitcoin.
3. Momentum Adopsi Institusional
Adopsi oleh korporasi lintas kawasan—termasuk Eropa, Amerika, dan Asia—semakin mempertegas posisi Bitcoin sebagai bagian dari sistem keuangan institusional global. Hal ini diprediksi akan memicu gelombang baru masuknya modal institusi ke aset digital.
4. Risiko yang Perlu Diwaspadai
Meski strateginya terukur, risiko tetap mengintai. Mulai dari fluktuasi harga BTC, regulasi ketat Uni Eropa, hingga ketersediaan likuiditas untuk eksekusi skema ATM. Oleh sebab itu, implementasi strategi harus dilakukan dengan pengawasan dan manajemen risiko yang ketat.
Dengan alokasi dana jumbo sebesar €300 juta, The Blockchain Group menegaskan posisinya sebagai pionir dalam strategi treasury berbasis aset digital. Langkah ini bukan hanya mencerminkan optimisme terhadap masa depan Bitcoin, tetapi juga mengirimkan sinyal kuat bahwa dunia institusi mulai memasuki fase strategis dalam adopsi kripto secara global. Jika sukses, strategi ini berpotensi menjadi blueprint bagi korporasi lain di Eropa maupun pasar internasional dalam mengadopsi aset digital secara lebih agresif dan terstruktur.
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.