Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Crypto News - Diposting pada 14 June 2025 Waktu baca 5 menit
Ketegangan kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah Israel secara resmi menyatakan perang terhadap Iran, menyusul serangan udara skala besar yang dilancarkan ke sejumlah target strategis, termasuk fasilitas nuklir Natanz dan markas Garda Revolusi Iran (IRGC) di Teheran. Serangan tersebut turut menewaskan Jenderal Hossein Salami, salah satu komandan tertinggi IRGC.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebutkan bahwa operasi militer bertajuk Operation Rising Lion ini bertujuan melumpuhkan program senjata nuklir Iran dan akan dilanjutkan "selama dibutuhkan demi menghilangkan ancaman." Menyusul aksi militer tersebut, pemerintah Israel juga menetapkan status darurat nasional.
Pasar aset digital terguncang akibat eskalasi konflik militer antara Israel dan Iran. Harga Bitcoin dan Ether terperosok tajam dalam perdagangan Jumat, dipicu kekhawatiran investor terhadap meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Laporan dari Reuters menyebutkan bahwa Bitcoin mengalami penurunan lebih dari 2%, sementara Ether tertekan hingga 5,5% dalam 24 jam terakhir. Sementara itu, data dari Decrypt mengungkapkan bahwa harga Bitcoin sempat anjlok lebih dari 4%, turun hingga menyentuh level US$103.556 akibat aksi jual otomatis yang dipicu kabar konflik.
Platform analitik CoinGlass mencatat likuidasi besar-besaran di pasar derivatif kripto, dengan total posisi long senilai lebih dari US$1 miliar dilikuidasi hanya dalam satu hari. Dari jumlah tersebut, sekitar US$945 juta merupakan posisi panjang Bitcoin.
Seiring memanasnya tensi geopolitik, investor global mulai mengalihkan portofolio ke aset safe haven, seperti dolar AS, yen Jepang, franc Swiss, dan emas. Minat terhadap aset berisiko tinggi menurun drastis.
“Bitcoin masih berperilaku layaknya saham teknologi spekulatif yang sensitif terhadap ketidakpastian global,” ujar seorang analis dari Chainform Capital. Akibatnya, mata uang kripto dengan tingkat likuiditas tinggi seperti BTC, ETH, XRP, hingga SOL menjadi instrumen pertama yang tertekan di tengah gejolak pasar.
Meski mengalami penurunan tajam dalam jangka pendek, sebagian analis pasar meyakini bahwa pemulihan harga kripto dapat terjadi bila eskalasi militer berhasil diredam. Namun, dengan latar belakang tingginya inflasi global dan kenaikan harga energi, volatilitas pasar masih diperkirakan akan berlangsung dalam waktu dekat.
Krisis militer yang pecah pada dini hari 13 Juni 2025 menunjukkan betapa sensitifnya pasar keuangan global, termasuk kripto, terhadap konflik geopolitik. Penurunan harga Bitcoin hingga 3%, disertai dengan pelemahan pasar saham global dan lonjakan harga minyak, menjadi bukti nyata kerentanan pasar terhadap ketidakpastian kawasan.
Selama konflik Israel-Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda, stabilitas pasar aset digital diprediksi masih akan terus dibayangi risiko. Investor disarankan untuk tetap waspada, memantau kondisi geopolitik, serta menjaga posisi dengan pendekatan investasi yang berorientasi pada manajemen risiko.
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.