Berita Terkini
Dugaan Salah Urus Keselamatan Kereta di Indonesia: Fakta, Risiko & Dampaknya
/index.php
Crypto News - Diposting pada 10 May 2025 Waktu baca 5 menit
Masalah peretasan aset kripto yang dilakukan oleh Korea Utara dilaporkan akan menjadi salah satu pokok bahasan utama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 yang akan berlangsung pada 15 hingga 17 Juni 2025 di Kananaskis, Alberta, Kanada.
Seperti dilansir oleh Bloomberg pada Rabu (7/5/2025), aksi peretasan kripto oleh Korea Utara kini dipandang sebagai ancaman lintas negara yang memerlukan koordinasi respons global yang lebih terstruktur.
Pertemuan ini akan dipimpin oleh Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, dan akan dihadiri oleh kepala negara dari tujuh negara ekonomi utama dunia, yaitu Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia.
Diskusi mengenai isu ini akan berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan perdagangan antara Amerika Serikat dan beberapa anggota G7 lainnya. Selain itu, isu-isu besar yang akan mendominasi forum ini mencakup konflik yang tengah terjadi di Ukraina dan Gaza.
Sejumlah penyelidikan telah mengungkap bahwa Korea Utara secara rutin memanfaatkan dana hasil dari aksi peretasan aset kripto untuk membiayai program senjata nuklir dan proyek militer lainnya. Salah satu pelaku utama yang sering dikaitkan adalah kelompok peretas Lazarus, yang diketahui memiliki hubungan langsung dengan pemerintah Korea Utara. Sepanjang tahun 2024, Lazarus dilaporkan telah berhasil mencuri lebih dari US$1,3 miliar melalui 47 serangan siber yang berbeda, menurut data dari Chainalysis.
Salah satu insiden terbesar tahun ini adalah peretasan terhadap bursa kripto Bybit pada Februari 2025, yang menyebabkan kerugian hingga US$1,46 miliar, menjadikannya insiden peretasan terbesar dalam sejarah industri kripto. Selain itu, pencurian dana dari Axie Infinity senilai US$622 juta dan dari platform exchange asal India, WazirX, sebesar US$230 juta juga dikaitkan dengan kelompok Lazarus.
Departemen Keuangan Amerika Serikat melaporkan bahwa dana ilegal dari aktivitas ini digunakan untuk menghindari sanksi internasional serta mempercepat pengembangan senjata pemusnah massal oleh Korea Utara.
Selain itu, Korea Utara juga dilaporkan menyusupkan tenaga kerja teknologi informasi (TI) ke berbagai perusahaan kripto global sebagai ancaman dari dalam (insider threat), dengan menyamar sebagai pekerja lepas demi mendapatkan akses ke sistem internal perusahaan-perusahaan tersebut.
Secara keseluruhan, kemampuan operasi siber Korea Utara telah meningkat drastis. Dalam perkembangan terbaru, kelompok yang terkait dengan Lazarus dilaporkan telah mendirikan tiga perusahaan fiktif—dua di antaranya berbasis di Amerika Serikat—yang digunakan untuk menyebarkan malware dan menipu para pengembang kripto global.
Sumber: coinvestasi.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.