Bitcoin Anjlok Lagi! Waktunya Tambah Muatan atau Tunggu?

Crypto News - Diposting pada 24 February 2025 Waktu baca 5 menit

Illustrasi AI

Bitcoin Kembali Melemah, Bagaimana Prospeknya?

Pada 24 Februari 2025, harga Bitcoin kembali mengalami penurunan. Menurut laporan Liputan6, dalam 24 jam terakhir, Bitcoin turun 0,79 persen, sementara dalam sepekan terakhir mengalami penurunan 1,17 persen. Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD 95.790 per koin atau setara dengan Rp 1,56 miliar.

 

Tren negatif ini berlanjut dari beberapa hari sebelumnya. Pada 22 Februari 2025, Bitcoin juga mengalami penurunan 1,87 persen dalam 24 jam dan 0,60 persen dalam sepekan, dengan harga saat itu di kisaran USD 98.127 per koin atau Rp 1,6 miliar.


 

Prediksi Kenaikan Harga Bitcoin

Meskipun mengalami koreksi harga, beberapa analis tetap optimis terhadap prospek jangka panjang Bitcoin. Firma riset investasi Bernstein memprediksi bahwa harga Bitcoin bisa mencapai USD 150.000 pada 2025, hampir lima kali lipat dari harga saat ini.

 

Senada dengan itu, Anthony Scaramucci, kepala dari salah satu dana ETF kripto terkemuka, memperkirakan Bitcoin akan mencapai USD 200.000 pada tahun 2025. Menurutnya, kenaikan ini didorong oleh adopsi institusional yang meningkat serta kebijakan pemerintah yang semakin mendukung aset digital.

 

Namun, perlu dicatat bahwa pasar kripto sangat volatil, sehingga prediksi harga dapat berubah seiring perkembangan pasar dan regulasi.


 

Apakah Bitcoin Akan Melonjak Lagi?

Menjelang akhir Februari 2025, Bitcoin menunjukkan volatilitas yang signifikan. Setelah mencapai rekor tertinggi di USD 108.300 pada Desember 2024, harga Bitcoin mengalami koreksi dan diperdagangkan di bawah USD 100.000 sejak awal 2025.

 

Firma riset investasi H.C. Wainwright memperkirakan bahwa Bitcoin dapat mencapai USD 225.000 per koin pada akhir 2025. Prediksi ini didasarkan pada pola siklus historis Bitcoin, tren harga terbaru, serta ekspektasi regulasi yang lebih positif di bawah pemerintahan Trump.

 

Faktor lain yang dapat mendorong kenaikan harga adalah keberadaan ETF spot Bitcoin di AS, serta meningkatnya adopsi institusional dan perusahaan terhadap aset digital ini.

 

CEO ARK Investment Management, Cathie Wood, juga melihat tren positif bagi Bitcoin. Menurutnya, stabilisasi harga setelah mencapai USD 100.000 adalah perkembangan yang sehat dan berpotensi diikuti oleh lonjakan harga signifikan.

 

Namun, beberapa analis justru melihat sinyal peringatan dari pergerakan harga Bitcoin. Meskipun S&P 500 mencapai rekor tertinggi, Bitcoin justru masih berkisar di USD 93.000 – 100.000, atau sekitar 12 persen di bawah puncaknya pada Januari. Ini bisa mengindikasikan bahwa reli pasar saham AS tidak sekuat yang terlihat.

 

Sementara itu, Robert Kiyosaki, penulis buku "Rich Dad Poor Dad", memperingatkan kemungkinan terjadinya krisis keuangan besar pada Februari 2025. Ia menyarankan investor untuk diversifikasi portofolio, termasuk dengan Bitcoin yang menurutnya memiliki potensi pertumbuhan luar biasa.

 

Secara historis, Februari sering menjadi bulan yang kuat bagi Bitcoin, terutama setelah halving. Data menunjukkan bahwa rata-rata pengembalian Bitcoin di bulan Februari pasca-halving mencapai 40,74%, yang mencerminkan tren kenaikan di awal siklus halving.


Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.