Wamenkeu Ungkap 3 Jurus Jaga Ekonomi RI Saat Dunia Bergejolak, Apa Saja?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 02 June 2026 Waktu baca 5 menit

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung saat POV Talks Bloomberg Technoz di Jakarta, Senin (18/5/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menjelaskan bahwa pemerintah secara berkelanjutan menjalankan tiga strategi utama guna menjaga pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.

 

Strategi pertama adalah pengelolaan belanja negara. Pemerintah tetap berkomitmen menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi dengan mempertahankan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi melalui peningkatan alokasi subsidi. Selain itu, program Makan Bergizi Gratis juga dilakukan efisiensi, salah satunya dengan menghapus pelaksanaan pada hari Sabtu. Pada saat yang sama, belanja negara diarahkan ke sektor-sektor produktif guna mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kapasitas produksi, serta menciptakan lapangan kerja baru.

 

Juda menjelaskan bahwa pada dasarnya pemerintah tengah melakukan penyesuaian kembali prioritas belanja negara dengan fokus pada peningkatan permintaan, penguatan pasokan, peningkatan produksi, dan penciptaan kesempatan kerja.

 

Strategi fiskal kedua dilakukan melalui optimalisasi penerimaan negara. Pemerintah berupaya memanfaatkan momentum tingginya harga komoditas secara maksimal. Di samping itu, upaya peningkatan penerimaan perpajakan terus diperkuat melalui penerapan sistem Coretax.

 

Sementara itu, strategi fiskal ketiga berfokus pada aspek pembiayaan. Dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), pemerintah mengarahkan pembiayaan melalui penerbitan surat utang dalam mata uang selain dolar AS dengan tingkat bunga yang kompetitif. Instrumen yang digunakan antara lain Samurai Bonds yang berdenominasi yen Jepang (JPY), Dim Sum Bonds yang menggunakan mata uang renminbi, serta Kangaroo Bonds yang diterbitkan dalam dolar Australia.

 

Menurut Juda, efektivitas berbagai strategi fiskal tersebut tercermin dalam kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang mampu tumbuh sebesar 5,61%. Selain itu, tingkat inflasi tetap terkendali di angka 2,42%, defisit fiskal hingga April 2026 berada pada level 0,64%, dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) juga masih terjaga dengan baik.

 

Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh perang tarif dan dinamika geopolitik, Juda menilai perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup kuat dalam menghadapi dampak risiko global tersebut. Ia mengklaim bahwa ketahanan tersebut didukung oleh bauran energi nasional yang berjalan efektif serta implementasi strategi fiskal yang tepat.

 

Juda menambahkan bahwa Indonesia memiliki sumber energi yang beragam, mulai dari minyak, gas, biodiesel, bioenergi, hingga batu bara. Dengan komposisi energi yang lebih baik tersebut, Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan yang cukup kuat dalam menghadapi lonjakan harga minyak di pasar global.

Sumber: bloombergtechnoz.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.