Saham News
Saham GoTo Gojek Tokopedia Mentok di Gocap, MSCI Soroti Masalah Likuiditas
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 29 May 2026 Waktu baca 5 menit
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah terus menunjukkan penguatan. Mata uang Negeri Paman Sam tersebut bahkan nyaris menembus level Rp18.000 per dolar AS.
Mengacu pada data Investing pada Kamis (28/5/2026), dolar AS sempat diperdagangkan di posisi Rp17.949. Dalam perdagangan harian, pergerakannya berada di kisaran Rp17.772 hingga Rp17.995.
Sementara itu, berdasarkan data Google Finance, dolar AS juga tercatat sempat mencapai Rp17.904 pada pukul 04.00 UTC. Meski demikian, setelahnya posisi dolar bergerak ke level Rp17.850 atau menguat sekitar 0,37%.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang membuat investor memindahkan dana mereka ke aset safe haven seperti dolar AS.
“Tekanan terhadap rupiah saat ini berasal dari faktor eksternal dan internal yang berlangsung secara bersamaan,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Dari sisi eksternal, pasar menyoroti meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi energi global, khususnya pada jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz.
Selain itu, ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama juga menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang. Kenaikan harga energi dinilai berpotensi mendorong inflasi global sehingga mempersempit ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
“Kondisi ini membuat arus modal asing cenderung keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” jelasnya.
Dari faktor domestik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak, pembayaran dividen, dan kewajiban utang yang jatuh tempo. Ibrahim menilai pelaku pasar juga masih mencermati kondisi fiskal dalam negeri serta efektivitas berbagai program pemerintah yang dianggap dapat memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Ibrahim, tekanan eksternal dan internal yang terjadi secara bersamaan membuat ruang Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan rupiah menjadi semakin terbatas, walaupun bank sentral terus melakukan intervensi di pasar valuta asing.
“BI sudah melakukan intervensi secara maksimal, tetapi tekanan pasar memang masih cukup kuat,” katanya.
Sumber: detik.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.