Saham News
Bank Central Asia (BBCA) Kucurkan Kredit Jumbo Rp17 Triliun ke DCII Milik Toto Sugiri-Apa Dampaknya?
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 06 May 2026 Waktu baca 5 menit
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi pandangan sejumlah pihak yang mengaitkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dengan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dianggap tidak stabil. Rupiah sendiri terus mengalami tekanan dan bahkan menembus level Rp17.400 per dolar AS pada perdagangan Selasa (5/5/2026).
Purbaya menyebut bahwa memang ada pihak yang menghubungkan pelemahan rupiah dengan kondisi fiskal Indonesia. Namun, ia memilih untuk tidak memberikan komentar lebih jauh mengenai aspek moneter karena hal tersebut merupakan kewenangan Bank Indonesia (BI).
“Banyak yang mengatakan fiskal Indonesia sedang goyah sehingga rupiah melemah dan sebagainya. Untuk urusan rupiah, silakan ditanyakan ke BI, bukan kepada saya. Itu adalah ranah mereka,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).
Di sisi lain, Purbaya menyoroti kekuatan ketahanan energi Indonesia dalam menghadapi gejolak global. Ia menyatakan bahwa posisi ketahanan energi Indonesia saat ini tergolong sangat kuat, bahkan berada di peringkat kedua dibandingkan negara lain, termasuk melampaui negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Australia.
“Kalau dilihat dari ketahanan energi, posisi kita sangat kuat. Kita berada di peringkat kedua dalam menghadapi krisis global, bahkan lebih tinggi dari Amerika, China, maupun Australia,” tambahnya.
Dari sisi fiskal, defisit APBN masih dalam kondisi terkendali. Data menunjukkan bahwa defisit mencapai Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Purbaya menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3% sepanjang tahun sesuai dengan kerangka fiskal yang telah ditetapkan. Ia juga mengingatkan agar angka defisit tersebut tidak disederhanakan dengan mengalikannya empat kali untuk memperkirakan kondisi setahun penuh.
“Defisit saat ini sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93% dari PDB. Namun, jangan langsung dikalikan empat karena pola belanja dan pendapatan setiap tahun berbeda. Yang jelas, sepanjang tahun akan kita jaga tetap di bawah 3% sesuai desain APBN,” jelasnya.
Dari sisi kinerja, hingga Maret 2026 APBN dinilai cukup ekspansif. Pendapatan negara tumbuh sekitar 10% secara tahunan menjadi Rp574,9 triliun. Penerimaan perpajakan meningkat 14% menjadi Rp462 triliun, dengan penerimaan pajak saja mencapai Rp394,8 triliun atau tumbuh sebesar 20,7%.
Sumber: detik.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.