Saham News
IHSG Hari Ini Berpotensi Bergerak Tajam! Rekomendasi Saham Pilihan Rabu, 13 Mei 2026
/index.php
Saham News - Diposting pada 13 May 2026 Waktu baca 5 menit
Pasar keuangan Indonesia kembali mengalami tekanan berat pada perdagangan Selasa. Bursa saham maupun nilai tukar rupiah sama-sama mencatat pelemahan tajam.
Tekanan terhadap pasar keuangan domestik diperkirakan masih berlanjut pada perdagangan hari ini. Ulasan lengkap mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan dapat dilihat pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (12/5/2026) ditutup di zona negatif.
Walaupun sempat bergerak kuat pada awal sesi dan bahkan mencatat kenaikan hingga 1%, IHSG akhirnya berbalik melemah pada akhir sesi kedua dan ditutup turun 0,68% ke level 6.858,90.
Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp931,9 miliar sepanjang perdagangan kemarin.
Sebanyak 463 saham mengalami penurunan, 207 saham menguat, dan 151 saham lainnya bergerak stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp16,29 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 32,97 miliar saham melalui 2,53 juta kali transaksi.
Secara sektoral, sektor kesehatan menjadi penekan terbesar IHSG setelah turun 4,78%, diikuti sektor utilitas yang melemah 2,24% serta sektor teknologi yang terkoreksi 4,08%.
Dari sisi emiten, saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi pemberat utama indeks dengan kontribusi penurunan sebesar 24,21 poin. Saham MORA anjlok hingga menyentuh auto reject bawah (ARB) sebesar 15% ke level 7.650.
Selain itu, saham Astra International (ASII) turut menekan indeks sebesar 7,98 poin, disusul PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sebesar 7,15 poin, serta PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 6,64 poin.
Dari pasar valuta asing, rupiah ditutup melemah 0,49% ke posisi Rp17.490 per dolar AS. Level tersebut menjadi posisi penutupan terendah rupiah sepanjang sejarah terbaru.
Bahkan, rupiah sempat menyentuh level intraday terlemah di Rp17.525 per dolar AS.
Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik.
“Tekanan terhadap rupiah meningkat karena konflik di Timur Tengah masih berlangsung dengan eskalasi yang semakin tinggi. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak dan memperbesar ketidakpastian global,” ujar Destry pada Selasa (12/5/2026).
Dari sisi domestik, Destry mengatakan permintaan dolar AS meningkat karena faktor musiman seperti pembayaran utang luar negeri, pembayaran dividen, dan kebutuhan dana untuk ibadah haji.
Destry juga menegaskan Bank Indonesia akan terus hadir di pasar guna menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.
Sementara itu, dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melonjak menjadi 6,737% pada perdagangan Selasa, tertinggi dalam empat hari terakhir.
Kenaikan yield tersebut mencerminkan penurunan harga SBN akibat aksi jual besar-besaran di pasar obligasi.
Dari pasar Amerika Serikat, Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Indeks S&P 500 ditutup melemah akibat tekanan saham teknologi dan kenaikan harga minyak, setelah pelaku pasar merespons data inflasi konsumen AS yang lebih tinggi dari ekspektasi pada April.
Indeks S&P 500 turun 0,16% ke level 7.400,96, sedangkan Nasdaq Composite merosot 0,71% menjadi 26.088,20. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average justru naik 56,09 poin atau 0,11% dan berakhir di level 49.760,56.
Saham Micron Technology, yang sebelumnya memimpin reli pasar hingga membawa S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi, berbalik turun 3,6%.
Padahal dalam sepekan terakhir saham tersebut sudah melesat lebih dari 37% dan naik sekitar 53% dalam sebulan terakhir berkat reli saham produsen chip memori.
Saham Advanced Micro Devices (AMD) dan Qualcomm juga melemah masing-masing sebesar 2% dan 11%. Pada April lalu, AMD sempat melonjak lebih dari 74%, sedangkan Qualcomm menguat lebih dari 39%.
Di sisi lain, kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate melonjak 4,19% dan ditutup di US$102,18 per barel. Sementara Brent Crude naik 3,42% ke level US$107,77 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut memperpanjang tren penguatan sehari sebelumnya setelah Presiden Donald Trump menyebut gencatan senjata antara AS dan Iran yang telah berlangsung selama sebulan sebagai sesuatu yang “sangat lemah” dan “hampir runtuh,” usai menolak proposal balasan Iran yang dinilai “tidak dapat diterima” untuk mengakhiri perang.
Dalam proposal terbarunya, Iran meminta kompensasi perang, pengakuan kedaulatan penuh atas Selat Hormuz, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta pencabutan sanksi ekonomi.
Dengan lonjakan harga energi, investor kini memperhatikan dampak konflik Iran terhadap inflasi dan konsumsi masyarakat yang masih menjadi penopang utama ekonomi AS.
Pada April, Consumer Price Index (CPI) naik 0,6% secara bulanan sehingga inflasi tahunan mencapai 3,8%.
Kenaikan bulanan tersebut memang sesuai ekspektasi, tetapi angka tahunan lebih tinggi dibanding perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 3,7%. Tingkat inflasi tersebut menjadi yang tertinggi sejak Mei 2023.
“Ini memang belum seperti longsoran besar, tetapi pergerakannya terus meningkat secara konsisten,” ujar Thomas Martin, Senior Portfolio Manager Globalt Investments kepada CNBC International.
Ia menambahkan inflasi kemungkinan masih akan terus meningkat selama konflik di Timur Tengah berlangsung dan negosiasi antara AS dan Iran belum menunjukkan perkembangan signifikan.
“Ketika harga bensin dan berbagai kebutuhan lainnya terus naik, semakin banyak konsumen akan tertekan. Situasi ini menunjukkan rumah tangga AS masih akan menghadapi tantangan ke depan,” katanya.
Hari ini menjadi perdagangan terakhir pekan ini sebelum libur panjang peringatan Kenaikan Yesus Kristus. Pelaku pasar perlu mencermati berbagai sentimen domestik maupun global yang berpotensi menggerakkan pasar.
Dari luar negeri, perhatian pasar tertuju pada perkembangan perang dan data inflasi AS. Sementara dari dalam negeri, rebalancing MSCI diperkirakan menjadi sentimen terbesar.
Penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi mengumumkan hasil semi-annual index review untuk Mei 2026. Seluruh perubahan komposisi indeks akan berlaku efektif setelah penutupan perdagangan 29 Mei 2026 dan mulai tercermin pada perdagangan 1 Juni 2026.
Rebalancing MSCI selalu menjadi perhatian utama pasar karena dapat memicu perubahan besar pada arus modal asing. Banyak manajer investasi global, termasuk reksa dana indeks dan ETF, menggunakan indeks MSCI sebagai acuan pembentukan portofolio.
Karena itu, saham yang masuk indeks berpotensi memperoleh tambahan aliran dana, sedangkan saham yang keluar biasanya menghadapi tekanan jual jangka pendek akibat penyesuaian portofolio investor pasif.
Dalam evaluasi kali ini, tidak ada saham Indonesia yang masuk ke MSCI Global Standard Index. Sebaliknya, MSCI justru menghapus enam saham berkapitalisasi besar dari indeks tersebut.
Enam saham yang dikeluarkan adalah:
Pencoretan saham-saham tersebut mencerminkan evaluasi MSCI terhadap faktor free float, likuiditas, dan ukuran perusahaan sesuai metodologi indeks global.
Pada MSCI Global Small Cap Index Indonesia, MSCI hanya menambahkan satu saham yaitu AMRT. Hal ini berarti saham pengelola Alfamart tersebut tidak sepenuhnya keluar dari indeks MSCI, melainkan turun klasifikasi dari Global Standard ke Small Cap.
Di luar perpindahan AMRT, MSCI juga menghapus 13 emiten dari indeks Small Cap Indonesia.
Dengan demikian, total terdapat 19 perubahan penghapusan pada indeks MSCI Indonesia. Karena AMRT hanya berpindah kategori, jumlah saham yang benar-benar keluar dari seluruh indeks MSCI mencapai 18 emiten.
Secara historis, perubahan komposisi MSCI sering memicu lonjakan volume perdagangan dan volatilitas harga saham, terutama menjelang tanggal efektif implementasi.
Saham-saham yang dikeluarkan berpotensi mengalami tekanan jual karena investor institusi global harus menyesuaikan portofolio mereka. Sebaliknya, saham yang bertahan atau memperoleh bobot lebih besar dapat menjadi tujuan aliran dana asing.
Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak membutuhkan bantuan Presiden China Xi Jinping untuk mengakhiri perang dengan Iran, meskipun peluang perdamaian semakin mengecil.
Trump mengatakan AS akan menyelesaikan konflik tersebut “dengan damai atau cara lain.” Konflik ini telah mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Sementara itu, Iran memperkuat kontrol atas Selat Hormuz melalui kerja sama dengan Irak dan Pakistan dalam penyaluran minyak dan LNG. Negara lain juga disebut mempertimbangkan langkah serupa.
Trump dijadwalkan membahas konflik ini bersama Xi Jinping pekan ini. Washington menuntut Iran menghentikan program nuklir dan membuka kembali Selat Hormuz, sedangkan Teheran meminta kompensasi perang, pencabutan sanksi, dan penghentian konflik di seluruh kawasan.
Akibat ketidakpastian perang, harga minyak kembali melonjak. Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), minyak WTI naik 4,19% ke US$102,18 per barel, sementara Brent naik 3,42% menjadi US$107,77 per barel.
Kenaikan harga minyak juga berdampak pada penguatan indeks dolar AS. Indeks dolar ditutup di level 98,298 dari sebelumnya 97,955.
Penguatan indeks dolar menunjukkan investor memburu aset berbasis dolar AS dan melepas instrumen non-dolar. Kondisi tersebut berpotensi memicu arus keluar modal dari Indonesia dan menekan rupiah.
Inflasi Amerika Serikat meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada April 2026 akibat lonjakan harga energi. CPI naik 0,6% secara bulanan dan 3,8% secara tahunan, sedikit di atas ekspektasi pasar.
Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik 0,4% bulanan dan 2,8% tahunan, masih jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2%.
Inflasi tahunan sebesar 3,8% menjadi yang tertinggi sejak Mei 2023.
Harga energi yang naik 3,8% menyumbang lebih dari 40% total inflasi, dengan harga bensin melonjak 28,4% dibanding tahun lalu. Harga pangan juga naik 0,5%, sementara biaya perumahan, pakaian, tiket pesawat, dan furnitur ikut meningkat.
Sebaliknya, harga kendaraan baru dan biaya layanan kesehatan justru sedikit menurun.
Data tersebut juga menunjukkan tekanan terhadap daya beli masyarakat. Upah riil rata-rata per jam turun 0,5% pada April dan turun 0,3% dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan inflasi kembali menggerus pendapatan pekerja.
Setelah laporan inflasi dirilis, pasar meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve menjadi sekitar 30% hingga akhir tahun.
Meski demikian, ekonomi AS dinilai masih cukup kuat berkat konsumsi masyarakat yang solid, laba perusahaan yang tetap baik, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II sebesar 3,7%.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah sebenarnya berpotensi memperoleh penerimaan besar dari kebijakan kenaikan tarif royalti komoditas tambang seperti batu bara dan nikel.
Awalnya kebijakan tersebut direncanakan berlaku mulai Juni 2026. Namun Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memutuskan menundanya hingga waktu yang belum ditentukan.
“Kalau kebijakan baru diterapkan, penerimaan saya akan meningkat signifikan tanpa menimbulkan kegaduhan. Tetapi semuanya tergantung perhitungan Pak Bahlil,” ujar Purbaya di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Ia menegaskan potensi penerimaan dari kebijakan baru itu sebenarnya lebih tinggi dibanding skema sebelumnya.
Saat ditanya mengenai potensi nilai penerimaan negara bukan pajak (PNBP), Purbaya mengatakan nilainya bisa mencapai lebih dari Rp200 triliun.
Meski begitu, ia menegaskan keputusan penundaan sepenuhnya berada di tangan Menteri ESDM sehingga Kementerian Keuangan akan mengikuti keputusan tersebut. Namun pemerintah akan menyiapkan kebijakan lain sebagai kompensasi atas penerimaan yang tertunda.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Pertumbuhan Ekonomi Q1 2026 (YoY) | 5,61% |
| Inflasi April 2026 (YoY) | 2,42% |
| BI-7 Day Reverse Repo Rate April 2026 | 4,75% |
| Defisit APBN Maret 2026 | 0,93% dari PDB |
| Defisit Transaksi Berjalan Q4 2025 | 0,7% dari PDB |
| Surplus Neraca Pembayaran Indonesia Q4 2025 | US$6,1 miliar |
| Cadangan Devisa April 2026 | US$146,2 miliar |
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.