Berita Terkini
Siap - Siap! Pemerintah Siapkan Insentif Lebaran Rp13 Triliun, Ini Rinciannya
/index.php
Crypto News - Diposting pada 05 February 2025 Waktu baca 5 menit
Bitcoin menghadapi risiko koreksi signifikan akibat meningkatnya ketegangan perdagangan global, yang dipicu oleh kebijakan tarif impor baru antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Kondisi ini memperburuk sentimen pasar dan menyebabkan volatilitas tinggi di pasar kripto, menjadikan Bitcoin semakin tidak stabil.
Berdasarkan dokumen yang dirilis pada Selasa (4/2/2025), Kementerian Keuangan Republik Rakyat Tiongkok mengumumkan tarif impor baru sebesar 15% terhadap berbagai produk asal AS, yang akan mulai berlaku pada 10 Februari 2025.
Langkah ini merupakan respons atas perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump pada 1 Februari 2025, yang memberlakukan tarif tambahan terhadap barang-barang dari Tiongkok, Kanada, dan Meksiko. Eskalasi perang dagang ini meningkatkan kekhawatiran di pasar keuangan global dan berdampak langsung pada aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Sebagai akibatnya, harga Bitcoin terjun dari US$100.000 ke US$92.800, mengalami pemulihan ke US$101.000, dan kembali terkoreksi ke level saat ini di US$98.200.
Menurut para analis, Bitcoin masih berisiko mengalami koreksi lebih dalam di bawah US$90.000 akibat meningkatnya ketidakpastian perdagangan serta kekhawatiran inflasi.
Mengutip Cointelegraph, Ryan Lee, Chief Analyst di Bitget Research, menyatakan bahwa keputusan tarif dari Tiongkok dapat memperburuk volatilitas aset berisiko, termasuk Bitcoin.
“Eskalasi ketegangan perdagangan dapat melemahkan pasar tradisional, mendorong investor beralih ke Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan depresiasi mata uang. Namun, aksi jual besar akibat ketidakpastian ekonomi juga dapat memicu koreksi jangka pendek, yang berpotensi mendorong harga Bitcoin turun di bawah US$90.000,” jelas Lee.
Sementara itu, James Wo, Founder dan CEO DFG, menambahkan bahwa kebijakan tarif impor dari negara-negara ekonomi besar sering kali memicu penurunan pasar secara signifikan.
"Dalam jangka pendek, ada risiko koreksi lebih dalam di bawah US$90.000, tidak hanya untuk Bitcoin tetapi juga untuk pasar ekuitas dan komoditas," kata Wo.
Meski demikian, Wo juga menyoroti bahwa perang dagang yang berkepanjangan dapat melemahkan dolar AS dan mendorong inflasi lebih tinggi, yang berpotensi meningkatkan permintaan global terhadap Bitcoin sebagai alternatif investasi.
Agar terhindar dari volatilitas lebih lanjut, Bitcoin perlu mempertahankan posisinya di atas US$97.000. Jika harga turun di bawah level ini, data dari CoinGlass menunjukkan bahwa lebih dari US$1,3 miliar posisi long akan terlikuidasi di berbagai bursa, yang berpotensi memicu tekanan jual lebih besar di pasar.
Menurut Lee, Bitcoin dan aset berisiko lainnya bisa mengalami tekanan tambahan jika penguatan dolar AS akibat kebijakan tarif menarik lebih banyak aliran modal keluar dari pasar kripto.
“Faktor utama yang perlu diperhatikan adalah kebijakan moneter. Jika Federal Reserve merespons dengan menurunkan suku bunga untuk mengatasi tekanan ekonomi, peningkatan likuiditas dapat menjadi katalis bagi kenaikan harga Bitcoin,” tambahnya.
Selain itu, kebijakan tarif impor yang lebih tinggi dapat memperburuk kekhawatiran inflasi serta gangguan rantai pasok global, yang semakin meningkatkan daya tarik Bitcoin sebagai aset lindung nilai.
Sementara itu, analisis dari Coinvestasi menunjukkan bahwa level support Bitcoin saat ini berada di kisaran US$88.600 – US$91.300, sebelum berpotensi mengalami pemulihan. Bitcoin diprediksi masih memiliki peluang naik selama mampu mempertahankan area support ini.
Target harga selanjutnya berada di level resistance pada kisaran US$107.400 hingga US$110.000.
Saat ini, pelaku pasar tengah menantikan perkembangan lebih lanjut dari pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Negosiasi ini bertujuan untuk meredakan ketegangan perdagangan dan mencegah perang dagang skala penuh, yang dapat memberikan dampak besar terhadap pasar keuangan global.

Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber: coinvestasi.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.